JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #25

Jangan Bilang Dulu

Tawa anak-anak selalu berhasil membuat sebuah rumah terdengar lebih lapang daripada ukuran temboknya.

Dua balon berbentuk angka tujuh bergoyang pelan setiap kali pintu ruang tamu terbuka. Ari berlari sambil mengenakan topi ulang tahun yang kebesaran, lalu berhenti mendadak ketika Acha menarik ujungnya dari belakang.

“Punya aku!”

“Kata ayah gantian!”

“Gantinya lama.”

“Baru bentar.”

Belum sempat ada melerai, keduanya sudah kembali tertawa, lalu berlari mengitari meja tamu sampai suara langkah kecil mereka memenuhi rumah.

Rumah Rizki tak benar-benar luas. Namun, sore itu, tak ada sudut yang terasa kosong.

Dari dapur menguar wangi bawang yang baru ditumis.

Di ruang tengah, kertas kado mulai berserakan di lantai.

Dari halaman depan, asap panggangan sesekali terbawa angin hingga ke teras.

Agus berdiri di depan bara yang mulai memerah. Kipas bambu bergerak perlahan di tangan kirinya, sementara tangan kanannya membalik tusuk-tusuk sate yang mulai mengilap oleh bumbu.

Ari berlari terlalu dekat.

“Ari.”

Anak itu menoleh.

“Jangan dekat-dekat.”

“Panas ya, Kek?”

Agus mengangguk. “Biar satenya aja yang kepanasan.”

Ari terkekeh. “Oke.” Ia kembali berlari ke dalam rumah.

Agus menggeleng kecil sambil melanjutkan pekerjaannya.

Di dapur, Yanti dan Sarah sibuk menata piring.

“Kayaknya kamu kebanyakan deh goreng kerupuknya, Sar.”

“Namanya juga anak ulang tahun, bu.”

“Nanti nggak habis.”

“Kalau nggak habis, bawa pulang aja. Nanti juga bapak yang ngabisin.”

Yanti menoleh ke arah halaman. “Kakek!”

“Apa?”

“Kerupuknya jangan ikut dibakar.”

Suara tawa langsung pecah dari dapur.

Agus hanya mengangkat sebelah alis. “Satenya aja belum tentu selamat.”

Di ruang tamu, Siska membantu Acha membuka hadiah. Anak itu berkali-kali gagal melepas selotip yang menempel terlalu rapat.

“Tunggu, Cha.” Siska mengambil ujungnya perlahan. “Gini, nih. Pelan-pelan aja bukanya. Hadiahnya nggak akan ke mana-mana, kok.”

Acha mengangguk sungguh-sungguh. Begitu bungkusnya terbuka, sepasang mata kecil itu langsung berbinar.

“Minnie Mouse!” Ia memeluknya erat-erat, seolah khawatir hadiah itu berubah pikiran.

Dinda berpindah dari satu sudut ke sudut lain sambil membawa ponselnya. Sesekali ia berjongkok. Sesekali mundur dua langkah.

Klik.

Ari yang meniup balon sampai pipinya menggembung.

Klik.

Yanti yang tertawa sambil mengibaskan serbet ke arah Sarah.

Klik.

Acha yang memeluk boneka barunya dengan mata berbinar.

Lalu kamera berhenti pada Agus. Ia masih berdiri di depan panggangan. Asap tipis melintas di depan wajahnya.

“Pak!”

Agus menoleh.

“Senyum.”

“Ngapain?”

“Biar ganteng fotonya.”

“Satenya aja yang difoto.”

“Bapaknya juga.”

Agus mendesah pelan, tetapi sudut bibirnya akhirnya terangkat. Tak lebar. Hanya cukup untuk membuat kerutan di sudut matanya ikut berubah.

Klik.

Dinda memeriksa hasilnya.

Asap.

Cahaya senja.

Bara yang masih menyala.

Dan bapak yang berdiri tenang di depannya.

“Bagus juga.”

“Apa yang bagus?”

“Fotonya.”

Agus melirik sekilas. “Coba bapak lihat.”

Dinda menunjukkan layar ponselnya. Ia memperhatikannya beberapa detik.

“Lumayan juga.”

“Cuma lumayan?”

“Satenya belum mateng.”

Dinda tertawa. “Yang diperhatiin tuh harusnya diri bapak sendiri.”

“Iya, tapi kasihan kalau satenya nggak ikut diperhatiin.”

Menjelang azan magrib, semua berkumpul di meja makan. Kue ulang tahun diletakkan di tengah. Tak besar. Hanya cukup untuk satu keluarga.

Lampu dipadamkan sebentar. Lagu ulang tahun dinyanyikan tanpa ada satu pun yang benar-benar mengikuti nada. Ari bernyanyi lebih cepat. Acha justru berhenti di tengah lagu karena sibuk memperhatikan lilinnya sendiri.

“Tiup sekarang!”

Belum selesai hitungan ketiga, keduanya sudah meniup lilin bersamaan.

Tepuk tangan memenuhi ruangan. Beberapa potong kue berpindah ke piring. Beberapa tusuk sate habis bahkan sebelum semua orang duduk.

Di sudut meja, Dinda kembali mengangkat ponselnya. Kali ini bukan untuk memotret. Hanya memandangi foto-foto yang baru diambilnya.

Satu per satu wajah memenuhi layar. Tak ada yang berpose dengan sempurna. Ada yang matanya terpejam. Ada yang sedang tertawa. Ada pula yang tampak menoleh ke arah lain. Namun, justru karena itulah semuanya terasa utuh.

Seperti keluarga mereka sendiri.

Tak pernah benar-benar rapi, tetapi selalu berhasil menemukan alasan untuk duduk di meja yang sama.

 

***

 

 

Seusai makan malam, ruang makan berubah pelan menjadi tempat setiap orang tahu apa yang harus dikerjakan. Tak ada yang memberi aba-aba.

Yanti dan Sarah mengumpulkan piring-piring kotor. Rizki mengangkat teko dan gelas ke dapur. Agus melipat meja lipat yang sejak sore dipenuhi piring sate dan mangkuk sambal. Siska mengelap permukaan meja, sesekali menyingkir agar Ari dan Acha yang masih berkejaran tidak menabraknya.

“Pelan-pelan!”

“Iya, Bi.”

Jawaban itu terdengar mantap. Dua detik kemudian mereka kembali berlari. Siska hanya menggeleng sambil tersenyum.

Di dapur, Dinda menggulung lengan bajunya sampai ke siku.

“Udah, Teh. Biar aku aja.”

Sarah menggeleng. “Harusnya Teteh yang ngomong gitu. Kamu tamunya.”

“Tamu dari mana?”

“Kamu datang buat makan.”

“Terus sekarang buat bantu nyuci juga. Berarti bukan tamu.”

Sarah tertawa. “Kalau gitu nanti aku jadi nganggur.”

Dinda mengambil spons dari tangannya. “Sesekali nggak apa-apa.”

“Ya udah, minggu depan gantian. Giliran aku di rumah bapak.”

“Boleh.”

Air kembali mengalir. Piring-piring saling beradu pelan. Sesekali terdengar tawa dari ruang tengah, lalu menghilang bersama suara anak-anak yang belum juga kehabisan tenaga.

Agus kini duduk di lantai bersama Ari. Di tangannya, sebuah mobil-mobilan baru sedang dibolak-balik dengan perhatian yang terlalu serius untuk sebuah mainan.

“Yang ini bisa nyala, Kek.”

“Masa?”

“Iya.”

Ari menekan sebuah tombol kecil. Lampu biru di bawah mobil menyala berkedip.

Agus mengangguk pelan. “Wah. Canggih. Keren!”

Ari tersenyum lebar. “Kalau rusak, Kakek bisa benerin?”

“Bisa.”

“Beneran?”

“Kalau nggak bisa,” Agus mengangkat bahu kecil, “ya belajar dulu biar bisa.”

Ari tampak puas dengan jawaban itu. Ia segera membawa mobilnya berkeliling ruang tengah.

Lihat selengkapnya