JANGAN BILANG BAPAK DULU

Ara Segara
Chapter #26

Yang Tidak Pernah Dibuang

Bau serbuk kayu masih tertinggal di dalam gudang ketika pintunya kembali terbuka.

Tak banyak yang berubah.

Kaleng baut yang tutupnya penyok masih berada di sudut meja. Radio tua itu tetap terbuka pada sisi belakangnya. Kipas angin yang kemarin selesai mereka perbaiki berputar pelan, mengaduk udara yang bercampur aroma kayu, oli, dan timah solder.

Seolah-olah malam sebelumnya tak pernah meninggalkan apa-apa di ruangan itu.

Agus sedang menyapu serbuk kayu yang mengumpul di bawah meja kerja. Gerakannya tenang, seperti biasa. Sapu lidi bergerak pendek-pendek, mendorong debu ke satu sudut, lalu berhenti ketika beliau membungkuk mengambil serpihan kayu yang terselip di kaki meja.

Dinda berdiri di ambang pintu. Tangannya menggenggam tali tas ransel sedikit lebih erat.

Semalaman ia menyiapkan kemungkinan-kemungkinan yang tak sempat terjadi. Barangkali bapak akan bertanya mengapa ia sanggup berbohong selama itu. Barangkali ia akan marah. Atau lebih buruk lagi, memandangnya dengan kecewa.

Namun, gudang itu hanya dipenuhi bunyi sapu yang bergesekan dengan lantai semen.

Agus menyandarkan sapu ke dinding. Ia membuka laci kecil di bawah meja, menggeser beberapa obeng dan tang yang bertumpuk, seolah sedang mencari sesuatu yang sejak tadi tak kunjung ditemukan.

“Din.”

Suara itu terdengar sama seperti biasanya.

Tak lebih pelan.

Tak lebih berat.

“Iya, pak?”

Agus mengangkat radio tua dari atas meja. Salah satu sisinya masih terbuka, memperlihatkan rangkaian kabel yang kusam dimakan waktu.

“Yang waktu itu belum selesai.”

Hanya itu.

Tak ada kalimat yang mendahului.

Tak ada pertanyaan yang menunggu jawaban.

Seakan-akan pagi memang hanya datang untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

Dinda mendekat. Ia menerima radio itu dengan kedua tangan.

“Ini dulu, pak?”

“Iya.”

Agus kembali membungkuk ke depan laci. Jemarinya masih mencari sesuatu.

Dinda belum juga duduk. Ada sesak yang perlahan memenuhi dadanya. Semalam ia membayangkan banyak hal, tetapi tidak pernah membayangkan bahwa bapak akan bersikap seperti ini.

Tidak berpura-pura melupakan.

Tidak pula mengungkit.

Bapak hanya tetap memberinya tempat di samping meja kerja. Tetap menyerahkan radio yang sama. Tetap mempercayakan baut-baut kecil yang mudah hilang kepada tangan yang kemarin mengaku telah berbohong.

Barangkali memang begitulah kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Ia tidak selalu berusaha menghapus kesalahan. Kadang ia hanya memastikan seseorang tetap mempunyai tempat untuk kembali sesudah mengakuinya.

Dinda menarik bangku kayu. Duduk perlahan di samping meja. Radio tua itu diletakkannya di atas koran bekas. Ia baru hendak membuka penutup belakangnya ketika sebuah obeng pipih disodorkan ke dekat sikunya.

Agus masih berdiri menghadap meja kerja.

“Tadi nyarinya ini.”

Dinda menoleh. Obeng kecil itu memang yang kemarin mereka pakai membuka sekrup radio. Entah sejak kapan bapak mengingatnya.

“Iya, pak.”

Dinda mengambil obeng itu. Jemarinya sedikit bergetar, tetapi kali ini bukan karena takut melakukan kesalahan. Melainkan karena baru hari itu ia mengerti, kepercayaan rupanya tidak selalu diucapkan. Kadang ia hanya diletakkan diam-diam di samping siku seseorang.

Dinda memasang ujung obeng pada kepala sekrup. Memutarnya perlahan.

Di sebelahnya, Agus kembali meraih kuas kecil untuk membersihkan debu yang menempel di meja kerja.

Tak ada lagi yang mereka bicarakan.

Gudang itu kembali dipenuhi bunyi-bunyi yang telah mereka kenal baik.

Gesekan kuas.

Putaran obeng.

Dan pekerjaan yang, tanpa banyak kata, kembali mengajarkan bahwa ada hubungan-hubungan yang tidak retak karena kejujuran. Justru menjadi lebih kuat setelah akhirnya tak lagi menyisakan sesuatu untuk disembunyikan.

 

***

 

Radio tua itu lebih banyak diam daripada berbunyi.

Sejak penutup belakangnya kembali dibuka, yang terdengar hanya bunyi logam yang sesekali beradu dengan meja, kepala obeng yang menyentuh sekrup, dan baut-baut kecil yang jatuh satu per satu ke dalam tutup kaleng bekas biskuit.

Di sudut gudang, kipas angin berputar dengan dengung halus. Jam dinding kembali berdetak tanpa kehilangan detik. Lampu di langit-langit menyala utuh. Keran di dekat pintu tak lagi menetes. Di rak kayu, gelas yang bibirnya pernah retak berdiri bersih di samping toples berisi baut.

Dinda memandang sekeliling. Tak ada satu pun benda di ruangan itu yang tampak baru.

Sebagiannya pernah patah.

Sebagiannya pernah macet.

Ada yang berkarat.

Ada yang tinggal menunggu waktu sebelum benar-benar berhenti bekerja.

Namun, tak satu pun lenyap dari tempatnya.

Semuanya masih diberi kesempatan.

Dinda memasang kembali kabel kecil ke papan radio, lalu melirik Agus yang sedang membersihkan debu di sela kenop dengan kuas tipis.

“Pak?”

“Hmm?”

“Bapak nggak capek?”

Kuas itu tetap bergerak. “Capek apa, Din?”

“Ya…,” Dinda menganggukkan dagu ke sekeliling gudang, “…hampir tiap minggu ada aja yang rusak. Radiolah. Kipaslah. Jam. Dispenser. Kayaknya nggak pernah habis.”

Agus meniup pelan debu yang berkumpul di sela kenop. Butiran halus beterbangan sebelum menghilang ditelan cahaya dari ventilasi.

“Namanya juga rusak.”

Jawabannya pendek.

Dinda menunggu.

Benar saja. Beberapa detik kemudian Agus melanjutkan.

“Kalau masih bagus, ngapain dibawa ke sini? Lagian tanpa semua barang yang kamu sebut rusak ini, bapak nggak akan bisa melihat tiga anak bapak jadi Sarjana.”

Dinda terkekeh pelan. “Sarjana juga kalo nggak punya kerjaan, buat apa, pak?”

“Belum, bukan enggak.”

“Sama aja.”

“Beda. ‘Belum’ itu artinya kamu masih berusaha, tapi kalau ‘enggak’ artinya kamu males. Sama seperti barang-barang ini. Coba dulu. Usaha dulu.”

Dinda terdiam.

Mereka kembali bekerja. Obeng berputar. Kuas menyapu debu. Radio itu masih tetap diam.

Tak lama kemudian Dinda kembali bersuara.

“Tapi kalau akhirnya tetep nggak bisa diperbaiki?”

Agus meletakkan kuas. Ia mengambil solder, memeriksa ujungnya, lalu mengembalikannya ke dudukan.

“Ya nggak apa-apa.”

“Kok, nggak apa-apa?”

“Soalnya,” Agus meraih radio itu lagi, “belum tentu salah waktu dicoba.”

Jemarinya menelusuri jalur kabel yang mulai kusam.

“Kadang memang udah habis masanya.” Jeda sebentar. “Tapi sebelum tahu itu, ya harus dicoba dulu. Iya, ‘kan?”

Sesudahnya, tak ada lagi yang mereka bicarakan.

Radio tua itu tetap terbuka. Agus kembali menyolder salah satu sambungan.

Dinda mengencangkan sekrup yang tadi dilepasnya.

Di luar, angin menggerakkan daun mangga hingga bayangannya bergoyang di lantai gudang.

Dinda memandang rak kayu sekali lagi.

Jam yang pernah berhenti.

Kipas yang pernah mati.

Gelas yang pernah retak.

Dispenser tetangga yang masih menunggu giliran.

Tak satu pun tampak sempurna. Namun, tak satu pun tergesa-gesa disingkirkan.

Ia menunduk, lalu kembali memasang kabel terakhir pada radio. Entah mengapa, pagi itu pekerjaan mereka terasa tidak lagi sekadar memperbaiki sebuah benda.

Seolah setiap baut yang dikencangkan, setiap kabel yang disambungkan kembali, diam-diam sedang mengulang keyakinan yang sama: bahwa tidak semua yang rusak harus ditinggalkan.

Lihat selengkapnya