Januari 2025…
Suara tutup panci bertemu bibir panci dengan denting lirih dari arah dapur. Tak lama kemudian, aroma tempe goreng menyusul memenuhi rumah.
Radio kecil di ruang tengah mengalunkan lagu lama dengan suara yang nyaris tenggelam oleh percakapan dari meja makan.
Dari halaman belakang, dengung kipas angin tua yang kini setia menemani Agus di gudang sesekali ikut terdengar, menyatu dengan bunyi sendok yang beradu pelan dengan piring.
Rumah itu mengawali harinya seperti biasa.
Yanti keluar dari dapur membawa mangkuk terakhir.
“Awas, sambalnya jangan langsung dihabisin,” ucapnya sambil meletakkannya di tengah meja.
Agus melirik sambal itu, lalu tersenyum kecil. “Emang siapa yang paling doyan?”
“Ya bapaklah.”
“Salah.”
“Terus siapa?”
“Dinda.”
Dinda yang baru hendak menyendok nasi langsung mengangkat wajah.
“Lah? Kok, Dinda?”
“Orang tiap makan nambah.”
“Itu nasinya, pak.”
“Kalau nasinya nambah, otomatis sambalnya juga pasti nambah.”
“Hayooo. Ibu ngawasin, lho, ya.”
“Dih, emangnya lagi ujian,” protes Dinda.
“Memang. Makanan itu ujian buat orang yang nggak kenal kenyang kayak kamu sama bapak,” jawab Yanti setengah bergurau.
Tawa kecil mengalir di sekeliling meja. Tak lama. Namun, cukup untuk membuat rumah kembali terdengar seperti dirinya sendiri.
Jaket GOON terlipat rapi di sandaran kursi.
Tas ransel hitam bersandar di kaki meja. Bekas jahitan pada bagian bawahnya mulai memucat, tetapi benangnya masih rapat, seolah tak ingin menyerah lebih dulu.
Yanti melirik ke luar jendela. Awan menggantung rendah di atas atap-atap rumah.
“Jas hujannya dibawa, Din?”
Dinda mengangguk. “Dibawa, bu.”
“Bensin?”
“Masih cukup.”
“Power bank?”
“Ada.”
Yanti baru terlihat puas setelah mendengar jawaban terakhir. “Ya udah.”
Tak ada lagi pertanyaan tentang kantor.
Tak ada lagi cerita yang harus disusun sebelum berangkat.
Yang tersisa hanyalah hal-hal kecil yang selalu ditanyakan seorang ibu kepada anaknya sebelum meninggalkan rumah.
Dari ruang tengah terdengar teriakan Ari dan Acha.
“Kena!”
“Belum!”
“Kena!”
“Enggak juga!”
Acha berlari sambil memeluk boneka hadiah ulang tahunnya, kemudian Ari mengejar dari belakang.
“Ari. Acha.”
Suara Rizki terdengar tenang dari sofa.
“Jangan lari-larian di dalam rumah. Nanti vasnya kena, terus pecah.”
Ari menoleh sekilas ke arah vas bunga di sudut ruangan. “Iya, Yah.” Lalu kembali berlari.
Sarah hanya tertawa kecil. “Percuma, Kang. Anak-anak kalau udah lari, kupingnya ikut ketinggalan.”
Bahkan Agus ikut terkekeh pelan.
Pintu kamar terbuka. Siska keluar sambil merapikan ujung manset kemejanya. Tas kerja sudah tersampir di bahu.
“Lho?” ujar Dinda. “Udah jadi orang kantoran sekarang?”
Siska mendecak pelan. “Jangan digituin. Baru juga mulai.”
“Emang kenapa, sih?”
“Masih suka kikuk. Malah kemarin salah masuk ruang meeting.”
“Serius, Teh? Kok, bisa?”
“Iya. Mana udah duduk lima menit.”
“Malu, dong?”
“Malu banget. Ternyata itu rapat divisi lain.”
Dinda tertawa sampai bahunya berguncang. “Terus?”
“Ya minta maaf aja. Untung nggak disuruh presentasi.” Siska ikut tertawa. “Kalau disuruh, mungkin langsung resign kali.”
Agus menghabiskan teh di gelasnya. Ia berdiri, meraih tas perkakas yang sudah menunggu di dekat pintu.
“Dinda?”
“Iya, pak?”
“Nanti kalau lewat toko listrik…,” Agus berpikir sebentar, “…tolong beliin sekring dua ampere, ya.”
“Yang kemarin habis, pak?”
“Iya.”
“Nanti bapak kirim fotonya.”
“Oke.”
Percakapan itu berlalu begitu saja. Sesingkat orang rumah yang saling menitipkan belanja.
Dinda mengenakan jaketnya. Meraih helm. Menyampirkan tas ke bahu. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh ke arah dapur.
“Bu.”
Yanti menatapnya.
“Nanti ibu masak apa?”
“Kamu maunya apa, Din?”
“Jangan dibalik. Ibu maunya apa?”
Yanti berpikir sejenak. “Kalau lewat pasar yang biasa, terus nemu pete yang bagus, beli aja.”
Belum sempat Dinda menjawab, Rizki sudah lebih dulu menyahut, “Waduh. Kasihan tetangga, bu.”
Sarah terkekeh. “Yang kasihan bukan tetangga, tapi bapak.”
Agus menggeleng sambil memasang sandal. “Bapak udah latihan bertahun-tahun. Malah sampai pernah masuk IGD gara-gara pete.”
Gelak tawa kembali memenuhi rumah. Tak besar. Namun, cukup membuat dinding-dindingnya terasa hidup.
Dinda melangkah ke teras. Udara masih membawa bau tanah yang basah. Ia mengenakan helm, menyalakan motor, lalu menoleh sejenak.
Pintu rumah masih terbuka.
Dari dalam, suara tawa, bunyi piring, dan radio kecil bercampur menjadi satu. Ia mengangkat tangan singkat.
“Berangkat dulu, ya.”
“Hati-hati, Din. Jangan ngebut-ngebut,” sahut Yanti.
“Iya, bu.”
Motor itu perlahan meninggalkan halaman.
Tak ada lagi langkah yang terasa berat.
Yang tertinggal di belakang bukan lagi rumah yang harus dijaga dari kenyataan, melainkan rumah yang selalu menyisakan lampu untuk menyambutnya pulang.
***
Jam istirahat membuat halaman proyek kehilangan sebagian riuhnya. Mesin-mesin berat berhenti bekerja. Tinggal suara sendok beradu dengan piring dari warung kecil di tepi jalan dan obrolan para pekerja yang berteduh di bawah atap seng.
Maria masih menatap layar tabletnya. Jarinya sesekali memperbesar gambar denah, lalu mengecilkannya lagi.
Dinda datang membawa dua gelas es teh. Butiran air mengembun di dinding gelas plastik.
“Nih, Mar.”
Maria mendongak. “Thanks, Din.”
Dinda duduk di hadapannya. “Masih direvisi?”
Maria mendesah pelan. “Udah, sih.”
“Tapi?”
“Ya direvisi lagi.”
Dinda terkekeh. “Kalau gitu kapan selesainya?”
Maria mengangkat bahu. “Mungkin kalau renovasinya udah selesai.”
“Sama aja bohong.”
Mereka sama-sama tertawa. Tak lama. Namun, cukup untuk mengendurkan penat yang sejak pagi menempel di bahu masing-masing.
Dinda mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Lama ia memandangi satu nama di layar.
Maria sempat melirik. “Apa, sih? Dilihatin sampe segitunya.”
“Salma.”
“Salma? What about her?”
Dinda mengangguk pelan. “Aku udah selesai. Harus selesai hari ini juga.”
Maria tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya menggeser gelas es tehnya sedikit agar memberi ruang di atas meja.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
“Halo? Sal.”
Suara di seberang terdengar ragu.
“Dinda?”
“Mm.”
“Udah lama, ya. Ada apa, Din?”
Dinda menarik napas pendek. “Langsung aja, ya. Aku mau ngomong soal uang yang dulu.”
Hening. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.
“Din,” suara Salma mengecil. “Aku lagi belum pegang uang.”
“Iya. Aku tahu kamu pasti bakal jawab begitu.”
Dinda memandang lalu-lalang pekerja yang mulai kembali mengenakan helm proyek.
“Aku nggak minta sekarang harus lunas. Aku cuma pengin tahu, kira-kira kapan kamu bisa mulai nyicil?”
Terdengar Salma mengembuskan napas. “Kamu, kok… gitu sama aku, Din? Itungan banget.”
Dinda tersenyum tipis. “Mungkin emang seharusnya dari dulu aku gitu ke kamu, dan orang-orang yang bersikap seenaknya sama niat baikku.”
“Kamu segitunya, ya. Tega banget.”
“Iya. Aku sama kayak kamu. Tega.”
Angin menggeser ujung taplak plastik di atas meja. Es di dalam gelas mulai mencair. Dinda memutar sedotan perlahan.
“Sekarang aku lagi belajar.”
“Maksud kamu?”
“Aku lagi belajar jagain hidupku juga.”
Tak ada jawaban.
Dinda melanjutkan, tetap dengan suara yang tenang.
“Kalau emang belum bisa sekarang, nggak apa-apa. Tapi setelah ini, aku nggak bisa minjemin uang lagi.”
“Din—”
“Bukan karena aku marah,” sela Dinda cepat. Ia menggeleng pelan, meski Salma tak mungkin melihatnya. “Cuma, aku yang sekarang udah nggak punya ruang buat begitu lagi.”
Di ujung telepon terdengar helaan napas panjang.
“Jadi... hubungan kita begini sekarang?”
Pertanyaan itu terdengar lebih lelah daripada marah.
Dinda menunduk. “Justru aku telepon kamu supaya kita nggak jadi begitu. Aku nggak mau tiap ketemu nanti, kita pura-pura nggak kenal cuma karena urusan uang.”
Lama tak terdengar suara.
Kemudian Salma berkata lirih, “Kalau gitu aku usahain, Din.”
“Terserah kamu aja, Sal. Aku udah nggak akan tunggu apa-apa lagi dari kamu.”
“Maafin aku ya, Din.”
Dinda menatap gelas es tehnya. “Jaga diri kamu sama anak kamu baik-baik.”
Panggilan terputus.
Tak ada nada tinggi.
Tak ada pintu yang dibanting.
Tak ada kalimat yang sengaja dilempar untuk melukai.
Yang tersisa hanya dua orang yang akhirnya memilih jujur, meski kejujuran itu tidak membuat percakapan menjadi lebih ringan.
Dinda meletakkan ponselnya di atas meja. Es di dalam gelas tinggal separuh. Ia meneguknya perlahan.
Maria menutup tablet. “Cuma itu?”
Dinda mengangguk. “Itu cukup.”
Maria ikut mengangguk, seolah memang tak ada lagi yang perlu dibahas.
Beberapa saat mereka duduk tanpa bicara. Memandangi para pekerja yang satu per satu kembali mengenakan helm dan berjalan menuju bangunan yang belum selesai.