Pertemuan di taman
“TIMUR? Timur Rubinsa?”
Tubuhku nyaris tersentak ketika mendengar suara itu. Aku kenal suaranya, aku tahu betul caranya berbicara. Kupejamkan mata rapat-rapat, mencoba menenggelamkan suara lembut yang menyusup ke dalam telinga dan menjalar hangat ke bagian-bagian tubuh yang sepanjang malam gagal dihangatkan oleh minuman di tanganku.
Saat kembali membuka mata dan berbalik ke arah suara, aku hampir tersedak begitu melihat sosok perempuan yang berdiri tidak jauh dari tempatku duduk. Untungnya, minuman yang baru saja kutenggak masih bisa kutelan beberapa detik lebih cepat setelah membuang muka.
Seharusnya, aku tidak menoleh.
Jika aku mengumpulkan seluruh jenis wahana bermain ekstrem paling mencekam dan paling menguras adrenalin yang pernah ada, tidak satu pun yang dapat menandingi situasiku sekarang ini.
Mendekati pun tidak.
Momen mengejutkan ini membuat dadaku berdebar lebih cepat berkali lipat, dan entah mengapa hal itu saling berhubungan dengan sandaran bangku taman yang sejak tadi kududuki mendadak terasa tidak nyaman. Semilir angin malam yang semula sejuk kini bertiup dingin, membuat bulu kudukku seketika merinding. Kualihkan pandangan ke atas, mengira-ngira mengapa tekanan udara berubah begitu cepat. Cukup lama aku menengadah langit meskipun aku tahu bukan perubahan cuaca yang menjadi penyebabnya.
Aku menoleh lagi ke arah wajah yang fasih menyebutkan namaku. Nama lengkapku. Ketika perempuan itu balas menatap dan menyunggingkan seulas senyum, jantungku seperti tersengat. Buru-buru kualihkan pandangan ke arah lampu taman yang—entah mengapa—kelihatan jadi lebih terang daripada sebelumnya. Semilir angin malam kembali mengembuskan udara dingin, tapi kali ini dinginnya terasa menembus sampai ke tulang.
“Ternyata benaran kamu!” Suara melengking khas perempuan itu membuat tekanan udara di sekitarku terasa semakin berat. Ia juga mengamati bekas luka di dahiku ketika berjalan mendekat, seperti ingin memastikan kalau ia tidak salah mengenali orang.
Aku semakin kesulitan bernapas.
Meski begitu, aku berulang kali mengingatkan diri untuk tetap tersenyum sewajarnya karena pemilik suara menyenangkan itu sudah berdiri satu langkah di hadapanku. Sekilas, diam-diam kuperhatikan sweter crop top hitam dengan dalaman putih, celana kulot krem, dan sepatu kets putih yang ia kenakan. Ah, tampaknya perpaduan warna monokrom yang menjadi kesukaannya sejak dulu tidak pernah berubah.
Rambut perempuan itu tampak hitam berkilau dan jatuh sebahu. Namun, potongannya kali ini tampak jauh lebih pendek daripada yang pernah kulihat dalam ingatanku. Sebuah jepit rambut kecil menghiasi rambutnya di bagian depan, mempertontonkan bola mata cokelat yang tampak berbinar terpapar cahaya lampu taman. Tangan kanan perempuan itu menggenggam gelas anggur yang sejak tadi ia putar dengan perlahan, sedangkan lengan kirinya mengapit tas jinjing bertali mutiara imitasi yang melingkar dari bahu.
Daun-daun pinus di sekitarku kembali berbisik, pertanda angin yang membawa udara dingin kembali berembus. Namun, kali ini wangi tubuh perempuan itu juga ikut membaur bersama aroma dedaunan kering dan rerumputan di bawah kakiku. Seketika, udara yang kuhela terasa begitu ringan. Wanginya membuat perasaanku menjadi lebih tenang.
Aroma manis yang begitu aku hafal.
Keberanianku belum cukup besar untuk berlama-lama menatap matanya, jadi kualihkan pandanganku ke arah lapangan di seberang jalan. Menyulap lahan kosong menjadi tempat konser merupakan hal mudah bagi orang-orang di tempatku bekerja, dan acara off air[1] yang kami buat kali ini benar-benar meriah. Dari arah panggung, terdengar grup musik naik daun asal Ibu Kota yang membawakan lagu andalan mereka dengan aksi panggung menakjubkan. Seluruh penonton di sana seakan tersihir untuk menggerakkan tubuh mereka dengan sendirinya ketika mengikuti alunan musik.
“Kenapa kamu ada di sini?” Perempuan itu membuka percakapan.
“Loh? Kamu kenapa ada di sini?” Kucoba membalas dengan kalimat pembuka yang wajar, sekaligus memberi isyarat sedang mengamatinya dengan menekan kata “kamu” yang baru saja kuucapkan. Dan itu adalah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan pertamaku di pertemuan kali ini.
Untuk pertama kalinya pada malam ini, perempuan itu tertawa. Namun, bukannya menjawab, ia justru melirik tempat kosong di sebelahku sambil bertanya, “Boleh aku ikut duduk di situ?”
Selain memutar gelas minuman, basa-basi merupakan satu hal lain lagi yang selalu ia lakukan. Maksudku, perempuan itu seharusnya tahu jawaban apa yang akan kuberi atas pertanyaan retorisnya.
Bagaimana aku bisa berkata tidak kalau ia yang meminta?
Namun, aku juga tidak ingin langsung menjawab pertanyaannya barusan. Ada jeda yang memang sengaja kuhadirkan. Ada kesan Timur Rubinsa tidak tertarik kepadanya yang ingin aku berikan. Kewaspadaanku tiba-tiba lebih meningkat daripada biasanya, terlebih lagi dalam hal memilih kata-kata yang akan kuucapkan. Aku tidak boleh terlihat begitu antusias dengan kehadiran sosoknya. Setidaknya, tidak di pertemuan malam ini.
“Kamu ternyata cocok pakai celana kulot. Tapi nanti malah kotor kalau ketumpahan minuman itu,” celetukku. Meskipun aku tahu itu bukan salah satu jenis celana favorit yang selalu ia gunakan, tapi baru kusadari kalau aku sudah memulai basa-basi tolol.
Perempuan itu tertawa lagi, kali ini ia nyaris terbahak-bahak. Aku tidak tahu mengapa ia tiba-tiba menertawakan celetukan murahan itu.
Mungkinkah ia sadar aku mengamatinya?
Sisa minuman ia habiskan dalam sekali tenggak. Perempuan itu kemudian mendekat dengan tatapan yang seolah berkata “Boleh aku duduk sekarang?” dan langsung mengambil tempat di sebelah kiriku tanpa menunggu dipersilakan. Posisi yang selalu saja membuat ia terlihat lebih cantik, dan ia tahu hal itu.
Perempuan itu meletakkan gelas kosong tepat di sebelah kotak pendingin di dekat kakiku. Ia memangku tas jinjing seolah tempat itu memang disediakan untuknya. Tangan kanan perempuan itu merogoh sebungkus rokok putih dari dalam tas, sedangkan tangannya yang satu lagi masih mencari sesuatu. Pemandangan yang baru saja kulihat membuatku sedikit terkejut, dan tanpa sadar kutenggak lagi botol minumanku sampai habis setengahnya.
“Kamu bahagia?” Pertanyaan itu tiba-tiba saja meluncur dari mulutku.
Gerakan tangan perempuan itu mendadak terhenti ketika menoleh ke arahku. Ia mengernyitkan dahi saat menangkap gerakan mataku. Supaya tidak terlihat salah tingkah, aku menurunkan pandangan ke arah saku celana untuk merogoh sebungkus rokok yang baru saja kubeli dari salah satu stan sponsor acara malam ini.
Apa pertanyaanku terlalu cepat?
Namun, bukankah itu adalah jenis pertanyaan wajar yang diucapkan oleh orang-orang seusiaku? Apalagi situasi ini terjadi setelah kami tidak pernah bertemu selama tiga tahun lebih. Kurasa, tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk dapat melupakan seseorang. Tiga tahun juga seharusnya cukup untuk mengubur satu nama yang pernah menjadi begitu berarti dalam hidupku. Tetapi tubuhku selalu lebih jujur daripada niatku sendiri.
Di belakangnya, lampu-lampu taman menyala seperti biasa. Orang-orang tertawa, menikmati musik, berbincang, menjalani hidup mereka tanpa tahu bahwa di kepalaku, masa lalu baru saja bangkit dari kuburnya.
Aku menelan ludah.
Jika saat ini aku memilih pergi dan meninggalkan bangku ini, mungkin hidupku akan tetap baik-baik saja seperti biasanya. Tapi jika aku bertahan—jika aku membiarkan perempuan itu kembali masuk ke dalam ruang yang susah payah kubangun—aku tahu satu hal pasti: Aku akan kembali hancur.