Bab 6. Cinta Yang Membawa Jauh
Langit sore itu bewarna jingga Ketika Santi berdiri di depan rumah orang tuanya.
Tas kecil sudah ada di tangannya.
Air mata sudah sejak tadi ia tahan.
Hari itu… ia benar-benar pergi.
Bukan sekadar berkunjung.
Bukan sekadar merantau sementara.
Tapi pergi untuk memulai hidup baru.
Sebagai istri.
“Yakin, Nduk?”
Suara ibunya lirih, penuh keraguan yang tidak bisa disembunyikan.
Santi menatap wajah Wanita yang telah membesarkannya itu. Mata ibunya sembab sejak pagi.
Santi mengangguk pelan.
“Yakin, Bu.”
“jauh, loh…” tambah ibunya.
“Nggak bisa pulang tiap minggu.”
Santi tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Sekarang kan sudah ada telepon, Bu.”
Ibunya tidak tersenyum.
Karena mereka sama-sama tahu, jarak tidak pernah benar-benar bisa dikalahkan oleh suara.
Di bekang Santi, Indra berdiri dengan sabar.
Pria yang kini menjadi suaminya.
Sederhana.
Tenang.
Dan penuh keyakinan.
“Bu,” kata Indra lembut, “Saya janji akan jaga Santi.”
Ibunya mengangguk pelan.
“Saya titip anak saya,” jawabnya.
Kalimat itu sederhana.
Tapi berat.
Sangat berat.
Pelukan perpisahan itu terasa lebih lama dari biasanya.
Santi memeluk ibunya erat.
Seolah ingin menyimpan kehangatan itu lebuh lama.
“Jaga diri baik-baik,” bisik ibunya.
“Iya, Bu…”
“Kalau ada apa-apa, jangan dipendam.”
Santi mengangguk, meski air matanya mulai jatuh.
Mobil yang membawa Santi dan Indra perlahan menjauh.
Santi menoleh ke belakang.
Rumah itu semakin kecil.
Semakin jauh.
Dan akhirnya… hilang dari pandangan.
Di dalam mobil, Santi diam.
Tangannya saling menggegam pelan.
“Nggak… Cuma sedih sedikit.”
Indra tersenyum.
“Wajar.”
Ia lalu meraih tangan Santi.
Hangat.
“Mulai sekarang, kita sama-sama,” katanya.
Kalimat itu sederhana.