Jangan Lupa Bahagia

AdisCill20
Chapter #7

Chapter #7

Bab 7. Adaptasi di Rumah Baru

 

Pagi di rumah itu dimulai lebih cepat dari yang biasa Santi Jalani dulu.

 

Belum sepenuhnya terang, suara aktivitas sudah terdengar dari dapur.

 

Pring beradu pelan.

Air mengalir.

Langkah kaki yang teratur.

 

Santi membuka mata, sedikit kaget melihat jam.

 

Masih terlalu pagi menurut kebiasaannya dulu.

 

Ia buru-buru bangun.

 

Di sampingnya, Indra masih tertidur pulas.

 

Santi meliriknya sebentar, lalu tersenyum kecil.

 

Ia tidak ingin melihat malas.

 

Hari-hari awal sebagi menantu… terlalu penting untuk memberi Kesan baik.

 

Ketika Santi masuk ke dapur, ibu mertuanya sudah sibuk.

 

“Oh, sudah bangun?” tanyanya.

 

“Iya, Bu… maaf, saya kesiangan,” jawab Santi sedikit gugup.

 

Ibunya tersenyum tipis.

“Nggak apa-apa. Tapi kalau bisa besok lebih pagi, ya.”

 

“Iya, Bu…”

 

Santi langsung membantu.

Memotong sayur.

Menyiapkan bahan.

Mencuci peralatan.

 

Gerakannya masih kaku.

 

Kadang salah mengambil.

Kadang ragu harus melakukan apa.

 

Tapi ia berusaha.

 

Sudah berusaha.

 

Hari demi hari berjalan dengan ritme yang sama.

 

Pagi di dapur.

Siang membantu pekerjaan rumah.

Sore menunggu Indra pulang.

 

Sederhana.

 

Tapi bagi Santi… tidak selalu mudah.

 

Ada kalanya ia merasa Lelah.

 

Bukan hanya fisik.

 

Tapi juga perasaan.

 

Ia harus terus menyesuaikan diri.

 

Menahan kebiasaan lama.

Belajar kebiasaan baru.

 

Dan itu… tidak selalu nyaman.

 

Suatu siang, Santi tanpa sengaja memasak sayur terlalu asin.

 

Ia panik saat mencicipinya.

 

“Ya Allah…” gumamnya pelan.

 

Ia mencoba memperbaiki.

 

Menambah air.

Menyesuaikan rasa.

 

Tapi tetap saja… tidak seperti seharusnya.

 

Saat makan siang, ibu mertuanya mencicipi.

 

Santi menahan nafas.

 

“Keasinan ya?” kata ibunya Santai.

 

Santi langsung menunduk.

“Maaf, Bu… saya kurang hati-hati.”

 

Ibunya mengeleng pelan.

“Namanya juga belajar.”

 

Lihat selengkapnya