Bab 8. Kehangatan yang Tumbuh
Pagi itu terasa berbeda.
Bukan karena suasananya berubah.
Bukan juga karena ada kejadian besar.
Tapi karena… perasaaan Santi yang mulai berbeda.
Ia bangun lebih awal, seperti biasa.
Namun kali ini, tidak ada rasa terburu-buru atau takut melakukan kesalahan.
Langkahnya lebih ringan saat menuju dapur.
“Ibu,” sapanya pelan.
“Sudah bangun?” jawab ibu mertuanya dengan senyum kecil.
“Iya, Bu. Hari ini masa kapa?”
Pertanyaan itu mengalir begitu saja.
Tidak kaku.
Tidak dipaksakan.
Dan untuk pertama kalinya, ibu mertuanya menjawab tanpa jarak.
“Kita bikin sayur lodeh. Kamu mau coba masak?”
Santi sedikit terkejut.
“Saya, Bu?”
“Iya. Ibu bantu.”
Santi tersenyum.
“Iya, Bu.”
Di dapur, suasana terasa hangat.
Santi memotong sayur, semntara ibumertuanya mengawasi dengan sabar.
“Jangan terlalu tipis,” katanya pelan.
“Iya, Bu.”
“Masaknya pakai perasaan. Jangan Cuma ikut resep.”
Santi tertawa kecil.
“Masak pakai perasaan itu gimana, Bu?”
Ibunya tersenyum.
“Nanti kamu ngerti sendiri.”
Proses itu tidak sempurna.
Masih ada yang kurang pas.
Masih ada yang harus diperbaiki.
Tapi tidak ada tekanan.
Hanya proses.
Dan kebersamaan.
Saat makan siang, Indra mencicipi masakan itu.
Ia menatap Santi, lalu tersenyum lebar.
“Ini kamu yang masak?”
Santi mengangguk sedikit gugup.
“Iya…”
“Enak,” jawab Indra tanpa ragu.
Santi menoleh ke ibu mertuanya.
Ibunya mengangguk kecil.
“Lumayan,” katanya.
Kata sederhana.
Tapi cukup untuk membuat hati Santi hangat.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan lebih ringan.