Jangan Lupa Bahagia
Bab 1. Cinta dan Harapan yang Tertunda
Pagi itu, seperti biasa, Kania berdiri di balik meja kasir mini market kecil di sudut kota. Seragam merahnya rapi, rambut panjangnya yang sedikit ikal diikat setengah, memperlihakan wajahnya yang cantic dan bersih tanpa riasan berlebihan.
Orang-orang sering bilang, Kania terlalu cantic untuk bekerja di tempat seperti itu.
Tapi Kania tidak pernah merasa begitu.
Baginya, hidup bukan tentang bagimana orang melihatnya. Hidup adalah tentang bagaimana ia bisa keluar dari keadaan yang selama ini menahannya.
“Pagi, Nia.”
Suara itu sangat selalu sama. Hangat. Familiar.
Kania menoleh dan tersenyum tipis.
“Tino. Tumben pagi-pagi sudah ke sini.”
Tino mengangkat kantong plastic berisi saran.
“Buat kamu.”
Kania menerimanya, tapi tidak langsung membuka.
“Kamu nggak bosan ya tiap hari begini?”
Tino hanya tersenyum.
“Kalau buat kamu, nggak pernah.”
Jawaban sederhana. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini, kania tidak lagi merasa hangat mendengarnya.
Lima tahun.
Lima tahun mereka Bersama. Dari masa kania baru lulus SMA, sampai sekarang. Dari Tino yang masih kerja serabutan, sampai sekarang punya pekerjaan teap sebagai teknisi.
Tino berubah.
Hidupnya membaik.
Tapi entah kenapa… perasaan Kania justri tidak ikut tumbuh seperti dulu.
“Aku serius, Ni,” kata Tino tiba-tiba. “Aku sudah nabung. Mungkin belum banyak, tapi cukup mulai. Kita nikah, ya?
Kalimat itu menggantung di udara.
Kania diam.
Lagi
Sudah terlalu sering pembicaran ini terjadi, dan selalu berakhir sama.
“Aku belum siap, Tin,” jawabnya pelan.
“Belum siap…. Atau belum yakin? Tanya Tino, kali ini lebih dalam.
“Kania mengalihkan pandangnya.
“Aku Cuma… pengen bantu orang tua dulu.”
Tino mengangguk pelan, meski jelas ada kekecewaan di matanya.
“Aku juga bisa bantu, Nia.”
Jawaban yang terdengar kuat, tiap sebenarnya rapuh.
Karena jauh di dalam hati, Kania tahu--- alasan itu bukan satu-satunya.
Malam hari di rumah Kania selalu terasa sempit.
Bukan hanya karena ukuran rumahnya yang kecil, tapi juga karena tekanan yang tekanan yang di dalamnya.
Bukan hanya karena ukuran rumanhnya yang kecil, tapi juga karena yang terasa di dalamnya.
Ibunya sedang duduk di ruang tengah, menonton sinetron dengan volume cukup keras.
“Kania,” panggilnya tanpa menoleh.
“Iya, Bu.”
“Si Tino itu kapan ngajak kamu nikah?”
Kania menarik nafas pelan.
“Sudah pernah ngomong, Bu.”
“Terus?” suara ibunya langsung berubah tajam.
“Kamu tolak lagi?”
Kania diam.
“Itu anak baik sih, tapi…” ibunya menggeleng. “Kamu mau hidup susah terus?”
Kalimat itu seperti pisau kecil yang perlahan menggores.
“Aku nggak bilang hidup sama dia pasti susah, Bu…”