Jangan Lupa Bahagia

novizuzanna
Chapter #2

Chapter #2

Bab 2. Tekanan dari rumah

 

Hari-hari Kania mulai terasa berbeda, meski secara kasat mata tidak ada yang berubah.

 

Ia masih berdiri di balik meja kasir.

Masih Menyusun barang di rak.

Masih tersenyum pada pelanggan.

 

Tapi di dalam dirinya, sesuatu sedang bergerak pelan… dan pasti.

 

Perubahan itu datang dari pikirannya sendiri.

 

Dan dari suaru-suara yang terus mengisi kepalanya.

 

Pagi itu, ibunya sudah lebih dulu duduk di ruang Tengah Ketika Kania hendak berangkat kerja.

 

“Kania,” panggilnya.

 

“Iya, Bu?”

 

“Kamu ingat anak Bu Rina?”

 

Kania berhenti sebentar, mencoba mengingat.

“Yang mana, Bu?”

 

“Itu loh, yang dulu biasa main ke sini. Sekarang sudah nikah sama pengussaha. Rumahnya besar, mobil dua.”

 

Kania tidak langsung menjawab.

 

Ibunya melanjutkan, “Umurnya sama kayak kamu.”

 

“Iya, Bu…”

 

“Terus kamu?” nada suaranya berubah. “Masih mau nunggu Tino?”

 

Kania menunduk, memasukkan kakinya ke Sepatu.

 

“Bu, jangan mulai lagi, ya….”

 

“Ibu Cuma nggak mau kamu menyesal!” tegas ibunya.

“Kehidupan itu bukan Cuma soal cinta.”

 

Kalimat itu Kembali menghantam Kania.

 

Sama seperti sebelumnya.

Tapi kali ini… terasa lebih berat.

 

“Kalau nanti kamu hidup susah, jangan salahkan siapa-siapa,” tambah ibunya.

 

Kania tidak menjawab lagi.

 

Ia keluar rumah dengan perasaan yang menggantung.

 

Di tempat kerja, Kania mencoba mengalihkan pikirannnya.

 

Tapi tidak mudah.

 

Setiap pelanggan yang datang, setiap pasangan yang terlihat Bahagia, setiap cerita kecil yang ia dengar…. Semuanya seolah ikut menarik pikirannya Kembali ke satu titik.

 

Masa depan.

 

Dan di sana, bayangan Tino mulai terasa… tidak cukup.

 

Siang itu, bayangan Tino mulai terasa… tidak cukup.

 

Siang itu, Satria Kembali datang.

 

Kania langsung mengenalinya.

 

Penampilannya tetap rapi. Kali ini dengan kemeja putih dan jam tangan mahal yang berkilau halus di pergelangan tangannya.

 

“Selamat siang,” sapanya singkat.

 

“Siang, Pak.” Jawab Kania, berusaha tetap professional.

 

Satria mengambil beberapa barangf, lalu Kembali ke kasir.

 

“Kamu kerja dari pagi?” tanyannya Santai.

 

“Iya, Pak.”

 

“Capek?”

 

Pertanyaan itu serderhana, tapi entah kenapa terasa berbeda.

 

Kania tersenyum tipis.

“Sudah biasa.”

 

Satria mengangguk pelan.

“Kamu orangnya kuat ya.”

 

Kania sedikit terkejut.

“Kenapa bilang begitu?”

 

“Kelihatan saja.”

 

Jawaban itu membuat Kania terdiam sejenak.

 

Tidak banyak orang yang memperhatikannya seperti itu.

 

Selam aini, orang hanya melihatnya sebagai kasir.

 

Lihat selengkapnya