Jangan Lupa Bahagia

novizuzanna
Chapter #3

Chapter #3

Bab 3. Jalan Menuju Kemewahan

 

Sejak pertemuan kedua dengan Satria, hidup Kania tidak lagi terasa sama.

Bukan karena sesuatu yang nyata telah berubah.

Tapi Karena pikirannya… sudah mulai berjalan ke arah yang berbeda.

Hari itu, Kania sedang merapikan rak minuman ketika ponselnya bergetar.

Nomor tak dikenal.

Ia ragu sejenak, lalu mengangkat.

“Halo?”

“Halo, Kania.”

Suara itu langsung dikenali.

Satria.

Kania berdiri lebih tegak tanpa sadar.

“Pak Satria?”

“Masih ingat saya, ya.”

Kania tersenyum tipis.

“Iya, Pak.”

“Lagi kerja?”

“Iya.”

“Kamalu nanti sudah selesai, saya mau ajak kamu ngobrol. Bisa?”

Kania terdiam.

Ajakan itu sederhana.

Tapi maknanya tidak.

Ia menelan ludah.

“Ngobrol… dimana, Pak?”

“Santai saja. Di kafe dekat sini.”

Kania melihat sekeliling, seolah takut ada yang mendengar.

“Aku… piker dulu ya, Pak.”

“Tidak apa-apa. Saya tunggu jawaban kamu.”

Telepon terputus.

Dan sejak saat itu, pikiran Kania tidak bisa lagi tenang.

Sepanjang sisa jam kerja, Kania melakukan semuanya secara otomatis.

Tangannya bekerja.

Tapi pikirannya… tidak di sana.

Ia memikirkan satu hal.

 

Haruskah ia datang?

 

Sore menjelang malam.

Kania berdiri di depan cermin kecil di ruang ganti karyawan.

Ia tidak mengganti pakaiannya, hanya merapikan rambut dansedikit membenarkan penampilannya.

“Aku Cuma ngobrol,” bisiknya pada diri sendiri.

“Tapi kenapa harus merasa seperti ini…?”

Perasaan bersalah mulai muncul.

Bayangan Tino melintas.

Wajahnya.

Suaranya.

Caranya menatap Kania dengan penuh harapan.

Kania menutup mata.

“Ini bukan apa-apa,” ulangnya pelan.

Tapi jauh di dalam hati… ia tahu, ini bukan sekedar “ngobrol.”

Ini adalah langkah.

Langkah menuju sesuati yang belum pasti.

Kafe itu tidak terlalu ramai.

Tenang.

Nyaman.

Dan jelas… bukan tempat yang biasa Kania datangi.

Satria sudah duduk di sana.

Kemeja gelapnya rapi, sikapnya tenang seperti biasa.

“Kamu datang,” katanya sedikit tersenyu.

Kania mengangguk.

“Iya, Pak.”

Duduklah. Pesan apa saja yang kamu mau.”

Kania melihat menu, tapi sebenarnya ia tidak focus.

“Apa saja, Pak… yang biasa saja.”

Satria memesan untuk mereka berdua.

Lalu, untuk beberapa saat, suasana hening.

“Jadi,” kata Satria akhirnya, “ceritakan tentang kamu.”

Kania sedikit gugup.

Lihat selengkapnya