Bab 4. Pernikahan Tanpa Cinta
Keputusan itu akhirnya diambil.
Bukan dalam satu malam.
Bukan juga tanpa air mata.
Tapi perlahan, pasti… dan tidak bisa ditarik Kembali.
Sejak malam Ketika Kania mengirim pesan kepada Satria, hidupnya berjalan lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Pertemuan demi pertemuan terjadi.
Bukan lagi sekedar kebetulan.
Tapi sengaja.
Satria mengajaknya ke tempat-tempat yang sebelumnya hanya bisa Kania lihat dari luar. Restoran besar, kafe elegan, bahkan pusat perbelanjaan yang terasa asing baginya.
Awalnya, Kania canggung.
Ia merasa tidak pantas berada di sana.
Tapi Satria selalu membuatnya merasa… cukup.
“Kamu tidak perlu jadi orang lain,” kata Satria suatu malam.
“Jadi diri kamu saja.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi ironisnya… justeru membuat Kania semakin jauh dari dirinya yang dulu.
Hubungan mereka berkembang cepat.
Terlalu cepat.
Dan tanpa banyak kata yang diucapkan secara langsung, Kania tahu, ini bukan sekedar kedekatan biasa.
Ini arah.
Ini tujuan.
Di rumah, perubahan Kania tidak luput dari perhatian ibunya.
“Kamu sekarang sering pulang malam,” katanya suatu hari.
Kania tidak langsung menjawab.
“Ada seseorang, ya?” tanya ibunya, kali ini dengan nada berbeda. Lebih berharap daripada menuduh.
Kania mengangguk Perlan.
“Siapa?”
“Namanya Satria.”
Ibunya langsung menoleh cepat.
“Kerja apa?”
Kania ragu sejenak.
“Pengusaha.”
Mata ibunya berbinar.
“Serius?”
“Iya, Bu…”
Untuk pertama kalinya, ibunya tersenyum lebar tanpa beban.
“Alhamdulillah,” ucapnya lirih.
“Ini yang Ibu maksud selama ini.”
Kania menunduk.
Ada rasa hangat… tapi juga sesuatu yang menekan.
“Kania harus jagahubungan ini baik-baik,” lanjut ibunya.
“Jangan sampai lepas.”
Kania hanya mengangguk.
Tanpa sadar… ia sudah berada di jalur yang sama dengan keinginan ibunya.
Sementara itu, Tino benar-benar menghilang.
Tidak ada lagi pesan.
Tidak ada lagi telepon.
Tidak ada lagi sosok yang menunggu di depan rumah.
Awalnya, Kania merasa lega.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada pertanyaan.
Tapi seiring waktu… yang datang justeru keheningan.
Dan dalam keheningan itu, sesekali muncul rasa kosong yang tidak bis ia jelaskan.
Suatu malam, Satria mengajak Kania berbicara serius.
Mereka duduk di sebuah restoran mewah, di sudut yang tenang.
“Aku tidak suka hubungan tanpa arah,” kata Satria langsung.
Kania menegang sedikit.
“Maksudnya?”
“Aku ingin kamu jadi bagian dari hidupku secara resmi.”
Jantung Kania berdegup lebuh cepat.