Jangan Lupa Bahagia

novizuzanna
Chapter #5

Chapter #5

Bab 5. Bahagia yang dipertanyakan.

 

Pagi di rumah besar itu selalu terasa sama.

 

Tenang.

Sunyi.

Dan… kosong.

 

Kania berdiri di depan jendela besar di kamarnya. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin, membiarkan Cahaya matahari masuk dengan lembut.

 

Semua terlihat indah.

 

Tapi tidak terasa hidup.

 

Ia memegang cangkir the hangat di tangannya, tapi kehangatan itu tidak pernah benar-benar sampai ke hatinya.

 

Sudah berbulan-bulan sejak ia menikah dengan Satria.

 

Dan semakin lama… ia semakin mengerti satu hal yang dulu tidak pernah ia bayangkan.

 

Bahwa kemewahan… bisa terasa sangat sepi.

 

Rutinitasnya berubah total.

 

Ia tidak lagi bekerja di mini market.

Tidak lagi berdiri berjam-jam di belakang kasir.

Tidak lagi menghitung receh atau memikirkan uang belanja.

 

Sekarang ia punya segalanya.

 

Atau setidaknya… terlihat seperti itu.

 

Lemari pakaiannya penuh dengan baju-baju mahal.

Meja riasnya dipenuhi produk kecantikan.

Rumahnya luas, bersih, dan tertata sempurna.

 

Tapi waktunya…

 

Kosong.

 

Satria jarang di rumah.

 

Dan Ketika ada pun… hanya sebentar.

 

“Kerja,” katanya setiap kali Kania bertanya.

 

Dan Kania tidak pernah berani bertanya lebih jauh.

 

Ia mengingat kesepakatan mereka.

 

Tentang kebebasan.

 

Tentang tidak saling mengikat.

 

Dulu, itu terdengar dewasa.

 

Sekarang… terasa seperti jarak.

 

Suatu siang, Kania mencoba mengisi waktunya dengan berjalan-jalan ke pusat perbenalnjaan.

 

Tempat yang dulu hanya bisa ia lihat dari luar.

 

Kini, ia bisa masuk kapan saja.

 

Membeli apa saja.

 

Tanpa perlu bepikir Panjang.

 

Ia berjalan melewati deretan took, melihat barang-barang mahal yang dulu hanya menjadi angan.

 

Seharusnya ia Bahagia.

 

Tapi langkahnya terasa hampa.

 

Sampai akhirnya, ia berhenti di sebuah kafe kecil di dala mall.

 

Ia duduk sendirian.

 

Memesan minuman.

 

Dan menatap sekeliling.

 

Di meja sebelah, ada sepasang suami istri sederhana dengan seorang anak kecil.

 

Mereka tertawa.

 

Berbagi makanan.

 

Berbicara tentang hal-hal kecil.

 

Kania memperhatikan mereka tanpa sadar.

 

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama…

 

Ia merasa iri.

 

Bukan pada apa yang mereka miliki.

 

Tapi pada apa yang mereka rasakan.

 

Kehangatan.

 

Kebersamaan.

 

Hal-hal yang dulu ia anggap biasa.

 

Malam itu, saat pulang ke rumah, suasana tetap sama.

 

Sepi.

 

Tidak ada suara.

Lihat selengkapnya