Jangan Panggil Aku Bapak

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #1

Awal Bencana

Suara ujung spidol yang bergesekan dengan white board itu mendadak terhenti. Darman membalikkan badannya, menghadap ke arah tiga puluh pasang mata anak-anak kelas lima yang sedang menyimak penjelasannya tentang hukum alam. Udara pagi itu terasa agak gerah, meski kipas angin di langit-langit berputar dengan ritme yang monoton, menciptakan bunyi cit-cit yang konstan. Darman baru saja hendak melanjutkan kalimatnya ketika pintu kayu kelas yang bercat hijau kusam itu diketuk dari luar. Sesosok wanita paruh baya dengan seragam pegawai tata usaha melangkah masuk. Itu Bu Lucy. Wajahnya yang biasanya ramah dan dipenuhi senyum kini tampak kaku, guratan-guratan di sekitar matanya menyiratkan sesuatu yang tidak mengenakkan. Beliau berdehem kecil, mencoba memecah keheningan kelas yang tiba-tiba tercipta.

"Maaf mengganggu waktunya sebentar, Pak Darman," kata Bu Lucy, suaranya agak merendah, seolah-olah tidak ingin para murid mendengar apa yang akan dikatakannya. "Pak Kepala Sekolah meminta Anda untuk segera datang ke ruangannya sekarang juga."

Darman mengernyitkan dahi. Jantungnya memberikan satu hentakan kecil yang ganjil. "Sekarang, Bu? Ini jam pelajaran saya baru berjalan setengahnya."

"Iya, Pak. Sekarang. Katanya penting," jawab Bu Lucy pendek.

Tatapannya tidak berani berlama-lama menatap mata Darman, sebuah detail kecil yang luput dari perhatian Darman saat itu, namun kelak akan terus membayanginya.

"Baiklah," Darman mengembuskan napas, mencoba mengusir rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di tengkuknya. Ia menoleh ke arah murid-muridnya.

"Anak-anak, kerjakan latihan halaman empat puluh lima dulu ya. Jangan berisik, Bapak ke ruang kepala sekolah sebentar."

Darman meletakkan sisa kapur tulisnya di tatakan kayu bawah papan tulis. Sembari membersihkan noda spidol hitam yang menempel di jemarinya, ia melangkah keluar kelas. Koridor sekolah swasta yang telah menjadi tempatnya mengabdi selama lima tahun terakhir itu terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkahnya menggema di atas lantai tegel abu-abu. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ia tahu setiap sudut sekolah ini; dari atap bocor di pojok perpustakaan hingga aroma pohon kamboja di dekat pagar lapangan upacara. Ia merasa telah menjadi bagian dari fondasi tempat ini.

Pintu ruang kepala sekolah bermaterial kayu jati itu tertutup rapat. Darman mengetuknya tiga kali, lalu membukanya setelah mendengar suara bariton dari dalam yang mempersilakannya masuk. Di balik meja kerja yang rapi dan mengkilap karena pelitur, duduklah Pak kepala sekolah. Di atas meja, selembar kertas putih dengan kop surat resmi sekolah sudah tergelar telanjang. Tidak ada buku-buku atau berkas lain di sekitarnya, seolah-olah meja itu sengaja dikosongkan hanya untuk menyambut kehadiran Darman dan kertas tersebut.

"Silakan duduk, Pak Darman," ujar Kepala Sekolah tanpa senyuman formalitas yang biasanya ia berikan.

Darman duduk di kursi kain di hadapan meja kerja tersebut. Atmosfer ruangan terasa dingin, berkat embusan AC yang langsung mengarah ke punggungnya, namun telapak tangan Darman justru mulai berkeringat.

"Ada apa ya, Pak? Kebetulan saya sedang mengajar di kelas lima," Darman membuka percakapan, mencoba mencairkan kekakuan.

Kepala Sekolah menghela napas panjang, sebuah gestur yang langsung membuat firasat buruk Darman berubah menjadi kepastian yang mengerikan. Ia mendorong kertas di atas meja itu ke hadapan Darman.

"Pak Darman, langsung saja ya. Sekolah kita belakangan ini sedang mengalami fase yang cukup berat secara finansial. Jumlah pendaftaran siswa baru menurun drastis dalam dua tahun terakhir, dan yayasan menuntut kami untuk melakukan restrukturisasi besar-besaran." Beliau berhenti sejenak, membasahi bibirnya yang kering. "Dengan berat hati, manajemen sekolah memutuskan untuk melakukan efisiensi anggaran. Mulai bulan depan, kami terpaksa harus merumahkan beberapa tenaga pendidik. Dan... nama Anda adalah salah satu di antaranya."

Kata-kata itu meluncur begitu gampang, begitu lancar, seolah-olah telah dilatih berulang kali di depan cermin. Namun bagi Darman, setiap patah kata itu laksana hantaman gada besi yang telak mengenai dadanya. Pandangannya mendadak kabur, berfokus pada baris-baris ketikan di kertas tersebut: Surat Pemutusan Hubungan Kerja.

Lihat selengkapnya