Roda sepeda motor bebek tua itu berputar malas memasuki gang sempit menuju rumah Darman. Suara mesinnya yang serak seolah mencerminkan isi kepala Darman yang kusut dan lelah. Di dalam tas ranselnya, surat pemecatan dari sekolah swasta itu terasa seperti bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan apa saja yang tersisa dari rumah tangganya. Darman memarkir motornya di teras kecil yang beralaskan semen retak-retak. Belum sempat ia membuka helm, pintu kayu jalusi rumahnya terbuka. Arka berlari keluar dengan mata berbinar-binar. Bocah enam tahun itu memegang sebuah buku gambar dan pensil warna yang sudah pendek-pendek.
"Ayah! Ayah sudah pulang!" Arka memeluk kaki Darman dengan erat. Wajahnya menengadah, memancarkan kegembiraan yang murni tanpa beban. "Ayah, Sabtu nanti kita jadi ke kebun binatang, kan? Akhir pekan ini Ayah libur, kan?"
Pertanyaan itu meluncur bak anak panah yang langsung menghujam tepat di ulu hati Darman. Darman terpaku. Ia perlahan melepaskan helmnya, mencoba menyembunyikan getaran di tangannya.
"Ayah, lihat ini!" Arka membuka buku gambarnya dengan antusias, memamerkan coretan tangan khas anak-anak. "Arka sudah bikin rencana tahu, Yah! Nanti di sana, Arka mau foto sama gajah yang besar banget. Terus Arka mau naik kuda poni yang lucu kayak di koran. Oh iya, Arka juga mau kasih makan kelinci sama rusa pakai wortel. Tadi Arka sudah nanya Ibu, katanya di sana ada domba-domba berbulu tebal juga. Arka mau pegang bulunya, Yah!"
Darman merasakan dadanya mendadak sesak, seperti dihantam oleh benda tumpul yang sangat berat. Tenggorokannya tercekat, kering dan kaku. Ia menatap mata bulat anak semata wayangnya yang penuh dengan sejuta harapan sederhana. Harapan yang bagi sebagian orang tua adalah hal sepele, namun bagi Darman saat ini, hal itu terasa seperti pungguk merindukan bulan.
Bagaimana mungkin aku mewujudkan fotomu dengan gajah, Nak, sementara untuk membeli beras esok hari saja Ayah tidak tahu harus meminjam ke mana? Jerit Darman dalam hatinya.
Air mata Darman mendesak ingin keluar, memanaskan sudut-sudut matanya. Namun, ia mati-matian menahannya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa begitu getir di bibirnya. Ia berlutut di depan Arka, mengusap rambut anaknya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Bagus sekali gambarmu, Jagoan," bisik Darman, suaranya parau. Ia tidak sanggup berkata "ya" untuk membohongi anaknya lagi, tapi ia juga tidak memiliki ketegaan untuk mengatakan "tidak" dan menghancurkan binar bahagia di mata itu. "Arka simpan dulu ya rencananya di dalam tas. Ayah... Ayah mau masuk sebentar, gerah."
"Hal paling menyakitkan bagi seorang orang tua bukanlah menahan lapar, melainkan melihat harapan anak-anaknya layu sebelum berkembang, hanya karena kemiskinan yang membelenggu tangan mereka."
Darman melangkah masuk melewati ambang pintu, dan atmosfer hangat yang tadi dibawa oleh Arka langsung menguap begitu saja. Di ruang tengah yang merangkap ruang tamu dan ruang makan, Ratih sedang melipat pakaian di atas tikar plastik yang warnanya sudah memudar. Begitu menyadari kehadiran suaminya, Ratih menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia tidak menyambut dengan senyuman atau sekadar sapaan hangat. Tatapan matanya sinis, tajam, dan penuh dengan selidik yang menghakimi.
"Bagus ya, jam segini baru pulang," cibir Ratih, suaranya renyah oleh nada sarkasme yang sudah sangat akrab di telinga Darman. "Guru teladan kok pulangnya sore terus, tapi uang belanjanya makin hari makin menciut. Itu Bu Joko tadi pagi sudah sengaja lewat depan rumah, batuk-batuk sengaja biar aku dengar. Hutang beras sama minyak bulan lalu belum dibayar, Mas! Mau ditaruh di mana mukaku ini?"
Darman hanya berdiri mematung di dekat pintu. Tas ranselnya masih menggantung di pundak, terasa seberat bongkahan batu kali. Ia tidak berniat membela diri. Ia terlalu lelah untuk memicu pertengkaran baru yang ujung-ujungnya hanya akan membuat Arka duduk meringkuk ketakutan di pojok kamar sambil menutup telinga.
"Maaf, Tih. Tadi ada urusan sebentar di sekolah," kata Darman lirih, mencoba meredam ketegangan. Ia sengaja menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya baru saja dipecat. Jika Ratih tahu sekarang, rumah ini pasti akan berubah menjadi neraka jahanam dalam sekejap.
Ratih mendengus kencang, melemparkan sepotong baju ke dalam tumpukan dengan kasar. "Alasan terus! Bosan aku dengarnya. Kalau cuma pengabdian yang kamu cari, anak-istrimu mau dikasih makan batu? Pikirkan itu, Mas!"
Darman memejamkan matanya rapat-rapat. Kata-kata istrinya terasa seperti sembilu yang mengiris-ngiris harga dirinya sebagai seorang laki-laki, seorang suami, dan kepala rumah tangga. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak emosi dan rasa sedih yang berbaur menjadi satu di dadanya.
Dalam keheningan batinnya, Darman menengadahkan jiwanya. “Tuhan... tebalkan telingaku, kuatkan hatiku setiap kali aku sampai di rumah ini. Jadikan hatiku sekeras karang agar tidak hancur oleh cemooh, dan jadikan pundakku sekuat baja agar mampu memikul beban ini sedikit lebih lama lagi,” doanya meratap dalam hati.