Malam telah larut ketika motor bebek tua peninggalan almarhum ayahnya berhenti di depan rumah. Suara mesinnya sengaja dimatikan Darman beberapa meter sebelum rumah agar tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu tetangga. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sebelas malam lewat. Angin malam yang dingin menusuk pori-pori kemeja kumalnya, namun tidak mampu membekukan bara kegelisahan yang membakar dadanya. Darman mendorong pelan pintu kayu yang tidak terkunci sempurna. Begitu celah pintu terbuka, pemandangan di dalam ruang tamu langsung membuat hatinya berdenyut ngilu. Di atas kursi plastik, Arka masih terjaga. Bocah kecil itu duduk meringkuk, kelopak matanya yang bengkak menahan kantuk yang amat sangat, berulang kali kepalanya terkantuk ke depan lalu tersentak bangun lagi. Di pelukannya, buku gambar rencana kebun binatang itu masih didekap erat.
"Ayah..." suara Arka terdengar serak dan sangat lirih, menyambut kepulangan sang ayah dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.
Darman tidak mampu membendung rasa harunya. Ia segera berlutut, meletakkan tas ranselnya ke lantai, lalu merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. "Kenapa belum tidur, Jagoan? Ini sudah malam sekali."
"Arka nungguin Ayah... Arka takut kalau tidur duluan, nanti pas bangun Ayah sudah pergi kerja lagi," bisik bocah itu sambil mengucek matanya yang merah.
Tanpa banyak bicara, Darman mengangkat tubuh Arka ke dalam gendongannya. Langkah kakinya bergerak pelan menuju kamar tidur mereka yang sempit. Di atas ranjang kayu, Ratih sedang rebahan. Posisi tubuhnya memunggungi pintu, menyamping kaku, dengan pandangan yang sepenuhnya terpaku pada layar ponsel yang menyala terang di kegelapan kamar. Ia tahu Darman pulang. Ia mendengar langkah kaki suaminya. Namun, tidak ada sedikit pun pergerakan atau sapaan yang keluar dari wanita itu. Dingin, acuh tak acuh, seolah-olah Darman hanyalah seonggok bayangan tanpa arti.
Darman menghela napas panjang, sebuah hembusan napas yang sarat akan beban batin yang teramat berat. Ia membaringkan Arka secara perlahan di atas kasur kapuk usang yang sudah mengeras dan kehilangan keempukannya. Ratih tetap tidak bereaksi, jemarinya masih sibuk menggulir layar ponsel dengan ritme yang monoton.
"Ayo, Arka, baca doa dulu sebelum tidur," tuntun Darman dengan suara selembut mungkin, mengusap kening anaknya yang mulai berkeringat.
Arka mengangguk lemah, memejamkan mata, dan merapalkan doa tidur yang terbata-bata. Tidak butuh waktu lama bagi bocah yang kelelahan menanti itu untuk terlelap. Begitu deru napas Arka terdengar teratur, suasana kamar mendadak berubah menjadi mencekam. Sunyi yang tercipta terasa pekat, seperti udara sebelum badai besar melanda.
Begitu memastikan Arka benar-benar telah tertidur, Ratih tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Ia mematikan layar ponsel, lalu duduk tegak di tepi pembaringan. Tatapan matanya yang diterangi sisa cahaya lampu lima watt di sudut ruangan tampak sangat tajam dan menghakimi.
"Utang di warung Bu Joko sudah bertambah banyak, Mas," buka Ratih tanpa basa-basi, suaranya ditekan serendah mungkin namun sarat akan racun intimidasi. "Hari ini dia menolak memberikan kasbon beras lagi kalau utang minggu lalu belum dicicil. Kamu punya uang tidak?"
Darman duduk di sebuah kursi kayu di dekat ranjang, menundukkan kepalanya, menatap lantai semen yang retak. "Nanti... kalau sudah gajian, pasti aku bayar semua, Tih," jawab Darman pelan, mencoba mengulur waktu dari kenyataan pahit yang harus ia sampaikan.
"Gajian, gajian terus! Uang gajimu itu habis dalam tiga hari untuk bayar utang bulan lalu, Mas! Aku ini pusing memutar otak biar kita tetap bisa makan!" Ratih mulai menaikkan nada suaranya, tidak peduli lagi pada anak mereka yang tidur di sampingnya.
Darman menarik napas dalam-dalam. Ia tahu kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah, dan cepat atau lambat Ratih akan mengetahuinya dari pihak sekolah. Dengan lidah yang terasa kelu dan hati yang bergetar hebat, Darman mulai berbicara dengan perlahan.
"Tih... sebenarnya, hari ini... aku sudah tidak bekerja lagi di sekolah."
Tangan Ratih yang sedang membetulkan ikatan rambutnya mendadak berhenti di udara. "Maksudmu apa?"
"Aku... aku di-PHK hari ini, Tih. Pihak yayasan melakukan efisiensi anggaran, dan nama aku salah satu yang dirumahkan," ucap Darman, setiap kata terasa seperti menumpahkan garam di atas luka yang menganga.
Mendengar pengakuan itu, wajah Ratih mendadak merah padam. Matanya membelalak lebar, memancarkan kombinasi antara rasa tidak percaya dan kemarahan yang meluap-luap. Ia berdiri dari tempat tidur, menunjuk wajah Darman dengan jari yang bergetar.
"Apa?! Dipecat?! Kamu gila ya, Mas?!" suara Ratih meninggi, meledak memenuhi ruangan sempit itu. "Lima tahun kamu mengabdi di sana dengan gaji pas-pasan, dan sekarang kamu dipecat begitu saja? Kamu ini laki-laki macam apa, Mas? Tidak becus kerja! Guru-guru lain tidak ada yang dipecat, kenapa cuma kamu? Pasti kamu bikin ulah, kan? Pasti kamu tidak becus mengajar!"
Cacian itu datang bertubi-tubi, menghantam harga diri Darman yang sudah hancur lebur sejak pagi hari. Awalnya, Darman masih mencoba menahan emosinya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana, menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih, mencoba mengingat ada Arka di kamar itu. Namun, kata-kata Ratih kian lama kian kejam, merembet dari masalah pekerjaan hingga merendahkan martabatnya sebagai seorang suami.
"Kalau tahu hidupku akan sengsara dan kelaparan begini setelah menikah denganmu, lebih baik dulu aku tidak pernah memilihmu! Kamu tidak becus jadi kepala keluarga, Mas! Laki-laki tidak berguna!" Kalimat terakhir Ratih meluncur seperti korek api yang dilemparkan ke dalam tangki bensin.
Api kemarahan yang selama ini ditekan Darman akhirnya menyala hebat. Ia berdiri dari kursinya, wajahnya menegang dengan urat-urat leher yang menonjol.
"Cukup, Ratih!" bentak Darman, suaranya menggelegar menembus dinding-dinding tripleks rumah mereka. "Kamu pikir aku mau semua ini terjadi?! Kamu pikir aku tidak sakit hati dikeluarkan dari tempat kerjaku sendiri? Aku sudah peras keringat tiap hari, mengajar dari pagi sampai malam, bahkan ikut bimbel paruh waktu demi menutup kekuranganmu! Tapi apa yang aku dapat di rumah ini? Tidak pernah ada senyuman, tidak pernah ada rasa syukur, yang ada cuma cibiran dan makian!"
Pertengkaran hebat pun tak terelakkan lagi. Mereka saling berteriak, melemparkan tuduhan dan rasa frustrasi yang selama bertahun-tahun terpendam di balik kemiskinan. Suara benturan kata-kata kasar memecah keheningan malam yang sunyi.