Jangan Panggil Aku Bapak

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #4

Bencana ke-2

Badai dalam hidup Darman ternyata belum usai, dan takdir tampaknya belum puas mencabik-cabik sisa martabatnya. Baru saja ia merasakan secercah harapan setelah pertemuannya dengan Rita, sebuah hantaman telak kembali datang tanpa peringatan. Sore itu, suasana di bimbingan belajar tempat Darman menggantungkan sisa-sisa nasibnya mendadak berubah mencekam. Tidak ada riuh suara anak-anak yang belajar. Ruang garasi yang biasanya pengap itu kini terasa dingin dan hampa. Di balik meja kerjanya, Pak Wanto duduk dengan wajah kuyu, menatap tumpukan berkas pembukuan yang berantakan.

"Kita gulung tikar, Pak Darman," ucap Pak Wanto, suaranya parau, menghindari tatapan mata Darman. "Operasional sudah tidak tertutup. Investor menarik diri, dan jumlah murid terjun bebas. Hari ini, bimbel resmi ditutup."

Darman terpaku di ambang pintu. Lututnya seketika terasa lolos, tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. "Lalu... bagaimana dengan honor mengajar kami bulan ini, Pak? Istri saya menunggu di rumah..."

Pak Wanto hanya bisa menghela napas panjang, sebuah gestur ketidakberdayaan yang paling dibenci Darman. "Tetap akan kami bayar, Pak. Tapi saya mohon, harap bersabar dan maklum. Saat ini kas benar-benar kosong. Begitu ada dana masuk, Anda adalah orang pertama yang saya hubungi."

Kata-kata "sabar dan maklum" itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Darman. Sabar tidak bisa ditukar dengan beras di warung Bu Joko. Maklum tidak bisa meredam amarah Ratih yang siap meledak setiap saat. Darman berjalan keluar dari tempat itu dengan tubuh lemas tidak berdaya. Ia menuntun motor bebeknya tanpa tenaga, merasa seolah-olah seluruh dunia sedang bersekongkol untuk melenyapkannya dari muka bumi. Hari ini, ia resmi menjadi pria yang sama sekali tidak punya pekerjaan, tidak punya penghasilan, dan tidak punya arah tujuan.

Sesampainya di rumah, sebelum ia sempat menata hatinya yang hancur, bencana kecil lain sudah menyambutnya. Arka berlari ke arahnya sambil menangis tersedu-sedu. Air matanya bercucuran membasahi pipinya yang kotor. Di tangan kecilnya, ia memegang sebuah mobil-mobilan plastik murahan yang rodanya sudah patah dan bodinya retak berantakan. Itu adalah mainan satu-satunya, harta paling berharga yang dimiliki bocah itu.

"Ayah... mobil Arka dirusak sama Dito," tangis Arka pecah, dadanya kembang-kempis menahan sesak. "Tadi dilempar ke selokan... Arka sudah bilang jangan, tapi tetap dihancurkan..."

Melihat air mata anaknya, hati Darman serasa diiris sembilu. Di tengah kehancuran hidupnya yang masif, ia bahkan tidak mampu melindungi kebahagiaan kecil anak semata wayangnya. Darman berlutut, merengkuh tubuh Arka yang bergetar ke dalam pelukannya. Ia menghapus air mata di pipi anaknya dengan jemarinya yang kasar.

"Sudah, Nak... Adek jangan menangis lagi," bisik Darman, mati-matian menahan suaranya agar tidak ikut pecah. "Nanti Ayah perbaiki. Ayah lem lagi biar bisa jalan. Besok... kalau Ayah ada uang lebih, kita beli yang baru yang lebih bagus ya? Janji."

Mendengar bisikan menenangkan dari sang bapak, tangis Arka perlahan mereda. Bocah itu mengangguk polos, menyandarkan kepalanya di pundak Darman. Arka percaya pada janji itu, tanpa tahu bahwa untuk membelikan mainan baru seharga sepuluh ribu rupiah pun, ayahnya harus memeras darah dan air mata yang sudah kering.

Malam merayap turun, membawa keheningan yang mencekam di rumah petak itu. Darman duduk sendirian di teras rumahnya yang gelap. Angin malam Jogja yang biasanya membawa ketenangan, kini terasa menusuk hingga ke tulang sumsum. Pikirannya melayang kemana-mana, liar dan tak tentu arah.

Bagaimana dia bisa menyambung hidup esok hari? Lapangan pekerjaan di kota kelahirannya ini terasa begitu sempit bagi seorang sarjana pendidikan yang baru saja terdepak. Jika ia terus bertahan di sini tanpa penghasilan, bagaimana dengan Ratih? Wanita itu pasti akan sangat marah, kecewa, dan melontarkan caci maki yang lebih menyakitkan dari malam sebelumnya. Rumah ini akan benar-benar berubah menjadi neraka jahanam yang tak menyisakan ruang untuk bernapas.

Apakah aku harus pergi keluar kota? Merantau? Pertanyaan itu tiba-tiba melintas di kepalanya.

Namun, ketakutan baru segera menyergap. Ke luar kota? Ke mana? Darman sama sekali tidak memiliki pengalaman merantau. Sedari kecil, seluruh garis kehidupannya dihabiskan di kota ini, di Yogyakarta. Ia tahu setiap jengkal jalanan Malioboro, ia tahu aroma tanah setelah hujan di sudut-sudut kampungnya, namun ia buta total terhadap dunia di luar sana. Baginya, melangkah keluar dari Jogja adalah bentuk perjudian nasib yang teramat mengerikan.

"Merantau bagi orang yang berada adalah sebuah pilihan untuk memperluas wawasan. Namun bagi orang yang terhimpit kemiskinan, merantau adalah bentuk pelarian putus asa, sebuah pertaruhan nyawa di tanah asing demi sesuap nasi."

Setelah melewati perenungan panjang yang menyiksa batin, dengan modal sisa uang tiga ratus ribu rupiah di dalam dompetnya—sisa uang pengobatan dan pemberian Rita yang telah tergerus kebutuhan mendesak—Darman membulatkan tekad. Ia harus pergi. Bukan karena ia pengecut, melainkan karena menetap di sini hanya akan membiarkan anak dan istrinya mati kelaparan secara perlahan.

Sore hari menjelang keberangkatannya, langit Jogja tampak mendung, sewarna dengan mendung yang menggelayuti hati Darman. Di ruang tamu yang remang-remang, Darman berlutut di hadapan Arka. Ia memeluk tubuh anak lelakinya itu dengan sangat erat, seolah-olah ingin menyalurkan seluruh sisa kasih sayang yang dimilikinya ke dalam dada sang anak.

"Adek... Ayah kerja dulu ya," ucap Darman, suaranya bergetar hebat. Ia mencium pucuk kepala Arka berulang kali. "Ini Ayah kerjanya jauh sekali. Jadi, nanti Ayah akan jarang-jarang pulang ke rumah. Tapi Adek jangan takut, Ayah akan selalu telepon Adek kalau kangen. Adek di sini sama Ibu jangan nakal ya, harus nurut."

Arka menatap wajah bapaknya dengan tatapan murung. Wajah bocah itu kehilangan binar cerianya. Dengan polos, ia melontarkan pertanyaan yang membuat pertahanan batin Darman runtuh seketika.

Lihat selengkapnya