Jangan Panggil Aku Bapak

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #5

Awal Baru

Pluit kereta api ekonomi fajar itu melengking panjang, memecah kabut pagi yang masih menggelayuti stasiun di Yogyakarta. Darman melangkah turun dengan jantung yang bertalu-talu. Setahun menahan rindu di belantara beton Jakarta telah menempuh garis akhir. Di tangan kanannya, ia menjinjing tas usang berisi pakaian, sementara tangan kirinya mendekap erat sebuah kardus berukuran sedang yang masih terbungkus rapi dengan pita perekat toko. Di dalamnya ada sebuah mobil-mobilan remote kontrol berwarna merah menyala—harta yang ia beli dari toko mainan di dekat stasiun dengan sisa uang jalannya. Ia ingat tangis Arka setahun lalu saat mainan satu-satunya dihancurkan, dan mainan baru ini adalah penebus janji pertamanya.

Sepanjang perjalanan di atas ojek motor menuju rumah kontrakannya, hati Darman dipenuhi bayangan manis. Ia membayangkan bagaimana Arka akan berteriak histeris kegirangan, melompat ke pelukannya, dan bagaimana wajah Ratih perlahan akan melembut setelah melihat amplop tabungan yang dibawanya. Gengsi sebagai sarjana telah ia tanggalkan, yang tersisa hanyalah kerinduan seorang ayah.

Namun, begitu ojek berhenti di ujung gang yang akrab itu, dada Darman mendadak terasa dihantam godam tak kasat mata.

Rumah petak berukuran empat kali enam itu berdiri membisu di bawah temaram sinar matahari pagi. Tidak ada suara tawa Arka. Tidak ada jemuran daster batik Ratih di halaman. Kondisi rumah itu tampak mengenaskan. Beberapa keping kayu plafon teras telah rapuh dan jatuh berserakan di atas semen tegel abu-abu yang kini tertutup lapisan debu tebal. Daun pintu jalusi yang biasanya terbuka sedikit kini tertutup rapat, menyisakan sarang laba-laba yang merayap di sela-sela engselnya yang berkarat.

Darman melangkah maju dengan lutut yang gemetar. Ia mendekati rumah itu, mencoba mengetuk pintu yang terasa sangat dingin. "Ratih? Arka? Ini Ayah pulang, Nak..." suara Darman parau, nyaris tenggelam oleh desau angin gang.

Sepi. Tidak ada jawaban.

Mendengar ketukan tersebut, seorang wanita paruh baya dari rumah sebelah—Bu Joko, pemilik warung—melangkah keluar. Wajahnya menatap Darman dengan pandangan campur aduk antara kaget dan iba.

"Mas Darman? Baru pulang dari Jakarta toh?" tanya Bu Joko perlahan.

"Iya, Bu. Ratih sama Arka ke mana ya, Bu? Kok rumahnya sepi dan kotor sekali?" Darman bertanya dengan terburu-buru, menyembunyikan badai kepanikan yang mulai mengoyak dadanya.

Bu Joko menghela napas panjang, sebuah gestur yang langsung menjatuhkan mental Darman ke titik nadir. "Aduh, Mas Man... Ratih itu sudah bawa Arkan pergi seminggu setelah kamu berangkat ke Jakarta setahun lalu. Dia mengemas semua pakaiannya ke dalam kardus, lalu pergi naik taksi online. Kami semua di sini tidak ada yang tahu kemana Ratih pergi. Dia tidak pamit, tidak meninggalkan alamat baru."

Seminggu setelah aku pergi? Jantung Darman seolah berhenti berdetak. Itu menjelaskan mengapa semua teleponnya setahun ini tidak pernah diangkat dan pesan-pesannya hanya menyisakan tanda centang satu yang membisu. Ratih telah memutus seluruh komunikasi sejak awal.

Mendengar kenyataan pahit itu, kekuatan di kaki Darman seketika lenyap. Ia terduduk lemas di atas lantai teras yang kotor berdebu. Pegangan tangannya melonggar. Kotak mainan berisi mobil-mobilan remote kontrol yang ia bawa jauh-jauh dari Jakarta terjatuh begitu saja dari tangannya, tergeletak tak berdaya di atas lantai tegel yang usang.

Darman menumpukan kedua tangannya di atas lutut, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Hatinya benar-benar terpukul dan sedih bukan kepalang. Air mata yang setahun ini ia bendung demi menjaga ketegaran di perantauan, akhirnya tumpah ruah, membasahi debu di teras rumahnya sendiri. Ia telah mengorbankan harga dirinya menjadi pembersih toilet di ibu kota demi menghidupi mereka, namun saat ia kembali membawa hasil peluh keringatnya, tempat yang ia sebut rumah telah berubah menjadi istana kosong yang tak berpenghuni.

"Hal paling tragis dari sebuah perjuangan adalah ketika kamu berhasil memenangkan pertempuran di luar sana, namun saat kamu pulang untuk merayakannya, orang-orang yang kamu perjuangkan telah pergi meninggalkan medan perang yang kosong."

Setelah beberapa jam tenggelam dalam kubangan rasa sedih dan berhasil menguasai gejolak emosinya, Darman bangkit berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Ia menatap pintu rumahnya yang terkunci rapat. Tanpa memedulikan etika lagi, ia mengambil sebuah balok kayu dari sela-sela plafon yang jatuh, lalu menghantamkannya ke arah gembok pintu dengan keras.

Prak!

Kunci itu patah. Darman mendorong pintu kayu tersebut perlahan. Begitu pintu terbuka, aroma pengap dan bau apek langsung menyengat indra penciumannya. Di dalam rumah tampak sangat kotor, dipenuhi lapisan debu kelabu yang tebal. Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat celah-celah ventilasi, menyinari partikel debu yang beterbangan di udara. Dua ekor tikus got yang besar tampak berlarian panik, mencicit keras manakala langkah kaki Darman mengusik ketenangan wilayah kekuasaan mereka selama setahun terakhir.

Darman melangkah masuk ke dalam kamar tidur mereka. Kasur kapuk usang tempatnya bertengkar dengan Ratih dan tempatnya memeluk Arka setahun lalu kini tampak kusam, berbau apek, dan tertutup kotoran cicak. Pakaian-pakaian bekas yang tidak dibawa Ratih berserakan di sudut lantai.

Dengan hati yang hancur, Darman mulai mengambil sapu lidi tua yang tergeletak di pojok dapur. Dengan perlahan dan ritme yang monoton, ia mulai membersihkan rumahnya itu. Setiap ayunan sapunya di atas lantai semen membawa kembali rekaman masa lalu yang menyiksa batin. Ia seolah mendengar suara lengkingan tawa Arka yang berlarian di ruang tengah, ia seolah melihat bayangan Ratih yang sedang melipat baju di atas tikar plastik.

Lihat selengkapnya