Keberhasilan pengiriman paket pertama ke tangan Ronald menjadi batu pijakan bagi perubahan nasib Darman yang teramat drastis. Rita, yang melihat ketepatan waktu, kejujuran, dan sikap Darman yang tidak banyak bertingkah, mulai menaruh kepercayaan penuh. Paket kedua, ketiga, hingga paket-paket selanjutnya mengalir lancar melalui tangannya. Bersamaan dengan itu, arus uang masuk dengan deras ke dalam rekening bank Darman. Lembaran angka digital yang dulu harus ia kejar setengah mati di Jakarta hingga telapak kakinya kapalan, kini berpindah ke dalam tabungannya hanya dalam hitungan jam. Darman, seorang sarjana pendidikan yang setahun lalu kelaparan, kini menjelma menjadi seorang lelaki yang sehat secara finansial. Uang seolah kehilangan nilainya yang sakral; ia tidak lagi perlu menghitung sisa ribuan rupiah di dompetnya hanya untuk makan esok hari.
Rita bahkan mulai melangkah lebih jauh. Tidak jarang, wanita itu mengajak Darman untuk menemaninya di berbagai acara bisnis resmi. Dari sanalah Darman baru mengetahui latar belakang resmi dari kekayaan Rita. Wanita paruh baya itu ternyata merupakan seorang pengembang atau developer perumahan elit dan vila-vila mewah yang tersebar di kawasan berudara sejuk di sekitaran Kaliurang. Di depan para kolega bisnis, pejabat daerah, dan investor, Darman diperkenalkan sebagai asisten pribadi kepercayaannya. Menghadiri jamuan makan malam di hotel bintang lima, mengenakan setelan jas mahal yang pas di tubuhnya, dan menjabat tangan orang-orang penting membuat Darman sempat terbuai oleh ilusi pelesiran kelas atas.
Perubahan finasial itu paling tampak pada rumah warisan peninggalan orang tuanya di pinggiran Jogja. Rumah yang selama bertahun-tahun berdiri lusuh, usang, dengan atap bocor dan dinding semen yang mengelupas, kini telah dirombak total. Darman merenovasinya secara besar-besaran, mengubah bangunan tua itu menjelma menjadi sebuah hunian yang cukup mewah dan mencolok di antara rumah-rumah tetangga sekitarnya. Pagar besi yang kokoh, lantai granit yang berkilau, dan lampu taman yang terang benderang kini menghiasi rumah yang dulunya menjadi saksi bisu caci maki Ratih.
Perubahan instan yang teramat mencolok itu tentu saja memicu desas-desus. Tetangga-tetangga di sekitar kampungnya mulai banyak bergunjing di pos ronda dan warung kelontong. Mereka berbisik-bisik, menebak-nebak dari mana seorang mantan guru honorer yang sempat luntang-lantung di Jakarta bisa mendadak kaya raya dalam hitungan bulan. Ada yang menuduh Darman memelihara pesugihan, ada pula yang berbisik bahwa ia menjadi simpanan janda kaya. Namun, Darman masa bodoh dengan semua gunjingan itu. Dunianya sudah terlalu hancur untuk sekadar memikirkan omongan orang. Guna membungkam bibir-bibir nyinyir tersebut, Darman dengan sengaja menyumbangkan uang tunai beberapa juta rupiah untuk pembangunan masjid kampung yang sempat mangkrak, serta mendanai pengaspalan jalan gang yang rusak.
Efeknya instan dan luar biasa. Uang, seperti yang selalu terjadi dalam tatanan sosial manusia, berhasil membeli kehormatan. Orang-orang yang dulu memandang Darman dengan sebelah mata, yang dulu membuang muka saat ia berniat meminjam uang beras, kini berbalik arah. Mereka mendadak menjadi sangat ramah, menunduk takzim, dan menaruh hormat yang amat dalam jika kebetulan berpapasan dengan Darman di jalan kampung.
"Uang tidak hanya mampu mengubah ukuran rumah seseorang, tetapi juga mampu mengubah sudut kemiringan kepala orang lain saat menghormatimu. Di hadapan lembaran rupiah, keangkuhan moral sering kali bertekuk lutut menjadi sebuah keramahan yang palsu."
Tidak hanya tetangga, fenomena yang lebih menggelikan terjadi di dalam lingkaran keluarganya sendiri. Saudara-saudara sepupu, paman, dan bibi Darman yang dulu menghilang bak ditelan bumi saat ia dikejar-kejar utang warung Bu Joko, kini mendadak bermunculan satu per satu. Mereka datang ke rumah mewahnya dengan berbagai alasan: menjalin tali silaturahmi yang terputus, membawa buah tangan, hingga ujung-ujungnya meminjam modal usaha. Mereka tumbuh subur seperti cendawan yang tumbuh di musim hujan, merubung kegemerlapan baru Darman.
Darman hanya bisa menyeringai sinis setiap kali menerima kunjungan mereka di ruang tamunya yang megah. Di balik senyum formalnya sebagai tuan rumah, hatinya bergolak memendam kepahitan yang mendalam. Dalam hati ia berkata dengan ketus, “Kalau aku kaya seperti sekarang, kalian semua berebut mengaku saudara, datang bermuka dua. Tapi di mana kalian semua saat aku susah? Di mana kalian saat anakku kelaparan dan mainannya dihancurkan?”
Namun, di balik seluruh kemewahan yang kasat mata, di balik kilau lantai granit dan penghormatan semu dari orang-orang sekitar, ada luka yang terus menganga dan ada hati yang teramat hampa di dalam dada Darman. Rumah mewah itu terasa seperti sebuah makam yang megah—indah di luar, namun mati dan dingin di dalam. Hingga detik ini, ia tidak tahu dan sama sekali tidak dapat melacak keberadaan Ratih dan Arka. Uang lima juta yang ia terima berulang kali dari Rita telah ia gunakan sebagian untuk membayar orang demi melacak keberadaan anak-istrinya, namun hasilnya nihil. Ratih seolah telah menenggelamkan dirinya dan Arka ke dalam palung terdalam yang tak terjangkau oleh radar apa pun. Setiap sudut rumah mewah yang ia bangun justru mempertegas ketidakhadiran anaknya. Mobil-mobilan remote kontrol berwarna merah itu masih tersimpan rapi di dalam kardusnya di sudut kamar, perlahan berdebu, menunggu pemilik kecilnya yang tak kunjung datang.
Kegundahan hati dan sorot mata Darman yang selalu kosong rupanya tertangkap oleh radar kepekaan Rita. Sore itu, di beranda belakang vila mewah milik Rita di Kaliurang, suasana tampak tenang berlatar belakang siluet Gunung Merapi yang tertutup awan. Rita duduk santai di kursi rotan, sementara Darman berdiri terpaku menatap kosong ke arah deretan pohon pinus.
"Mengapa Mas Darman belakangan ini terlihat murung? Apakah uang yang aku transfer kemarin sudah habis?" tanya Rita dengan nada suara yang berayun santai, memecah keheningan. Jemarinya yang lentik dengan kuku bercat merah memegang sebingkai cawan kecil berisi cairan bening. Ia menyeruput vodka kuat itu sedikit demi sedikit, membiarkan alkohol membakar tenggorokannya.
Darman berbalik perlahan, lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan itu, Bu Rita. Uang di rekening saya masih lebih dari cukup. Saya hanya... saya hanya sedang teringat dengan anak saya, Arka."
Rita terdiam sejenak. Ia meletakkan cawan kecilnya di atas meja kaca, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan. "Ah, anak... Aku sendiri belum pernah punya anak seumur hidupku, jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya merindukan darah daging sendiri. Kedengarannya sangat menyiksa ya?"