Nama Ronald semula hanyalah sebuah coretan alamat dan nomor telepon di layar ponsel Darman. Namun, seiring berjalannya waktu, pria itu menjelma menjadi figur yang paling sering ditemui Darman dalam rantai bisnis gelap ini. Ronald bukanlah pria biasa yang bisa ditemui di pasar atau kantor-kantor pemerintahan. Ia adalah seorang pria dengan perawakan tinggi besar, bertubuh tegap berotot yang kokoh seperti dinding batu. Rambutnya hitam legam, dibiarkan tumbuh gondrong hingga menyentuh sebahu, memberikan kesan liar, berandal, sekaligus mengintimidasi siapa saja yang menatapnya. Sorot matanya selalu tajam dan waspada, seolah-olah ia selalu siap menghadapi serangan mendadak dari sudut mana pun. Hampir setengah tahun ini, Darman bekerja menjadi kurir setia yang mengantarkan kotak-kotak tersegel kepada Ronald. Anehnya, hingga detik ini, Darman sama sekali tidak tahu sebenarnya paket yang dibungkus rapi dalam box karton tebal berlapis lakban hitam itu isinya apa. Rasa penasaran tentu saja pernah mampir di kepalanya. Logika seorang guru membuatnya sempat berpikir kritis tentang risiko legalitas barang tersebut.
Pernah suatu ketika, di awal-awal kerja samanya, Darman memberanikan diri bertanya kepada Rita saat mereka bertemu di vila Kaliurang. "Bu Rita, kalau boleh saya tahu, paket-paket yang selama ini saya antar ke Mas Ronald itu sebenarnya berisi apa? Hanya agar saya bisa lebih berhati-hati di jalan."
Saat itu, Rita tidak marah. Ia hanya menatap Darman dengan senyuman tipis yang sarat akan dominasi, lalu menjawab secara diplomatis namun mematikan keingin tahuan Darman.
"Kerjakan saja tugasmu dengan baik, Mas Darman, tanpa perlu memikirkan apa itu isinya. Toh, fee yang masuk ke rekeningmu setiap bulan sudah lebih dari cukup besar, kan? Jauh lebih besar dari gaji gurumu dulu. Fokus saja pada hasilnya."
Sejak teguran halus namun dingin itulah, Darman tidak pernah berani bertanya lagi tentang misteri di dalam paket itu. Ia memilih membutakan mata, menulikan telinga, dan membisukan nuraninya. Lembaran rupiah yang mengalir deras telah berhasil menjinakkan rasa ingin tahunya. Bagi Darman saat itu, yang terpenting adalah mengumpulkan modal sebanyak-banyaknya untuk melacak keberadaan Arka.
Sore itu, gumpalan awan mendung menggelayuti langit Yogyakarta saat ponsel Darman berdering. Nama Ronald tertera di layar. Tanpa ada sangkut pautnya dengan urusan pengiriman paket, Ronald menelpon Darman untuk mengajaknya sekadar keluar mencari angin dan refreshing di sebuah lounge karaoke mewah. Sebenarnya, hati Darman menolak. Ia sedang enggan keluar rumah; suasana hatinya sedang buruk akibat kerinduan pada Arka yang kian memuncak setiap kali hujan turun. Namun, Ronald bukanlah pria yang mudah menerima penolakan. Dengan suaranya yang berat dan menggelegar, pria gondrong itu berhasil membujuk Darman, berdalih bahwa mereka perlu merayakan kelancaran bisnis beberapa bulan terakhir ini. Mereka berdua akhirnya pergi menuju sebuah lounge karaoke papan atas yang terletak di seputaran Jalan Magelang. Setelah melewati lobi yang beraroma wewangian mahal, mereka memesan sebuah VIP Room berukuran besar yang dilengkapi dengan fasilitas kedap suara mutakhir.
Tidak lama setelah mereka duduk di sofa kulit yang empuk, Ronald memanggil mami kelab dan langsung memesan tiga orang Ladies Companion (LC) untuk menemani mereka bernyanyi dan minum. Melihat kedatangan wanita-wanita berpakaian minim itu, Darman merasa tidak nyaman. Ia langsung menggelengkan kepala dan berniat menolak kehadiran mereka di sampingnya.
"Ah, tidak usah, Ron. Kamu saja. Aku di sini cuma mau menemanimu minum kopi atau merokok saja," kata Darman, mencoba menggeser posisi duduknya menjauh.
Ronald tertawa terbahak-bahak, suara tawanya yang serak memenuhi ruangan. Ia menepuk pundak tegap Darman dengan keras. "Halah, Man! Jangan sok suci begitu. Sesekali saja, tidak ada salahnya menikmati hidup. Kita ini kerja cari uang taruhan nyawa, buat apa kalau tidak dinikmati? Duduk saja, nikmati malam ini!"
Mendengar bujukan dan desangan Ronald yang terus-menerus, Darman akhirnya mengalah. Ia mengiyakan ajakan Ronald dengan sebuah anggukan pasrah yang getir.
Di dalam ruangan yang remang-remang dengan sorotan lampu neon berwarna biru-merah yang berputar lambat, para LC yang mengenakan busana super ketat dan cukup sexy itu mulai meliuk-liuk genit. Mereka bergerak gemulai, mengikuti irama lagu bergenre disko dangdut yang liriknya berputar di layar TV datar berukuran 50 inci di depan mereka.
Sementara itu, Ronald tampak sangat menikmati atmosfer tersebut. Pria gondrong berbadan tegap itu duduk bersandar sembari memangku salah seorang LC—seorang wanita muda dengan potongan rambut pendek se-leher dan riasan tebal. Mereka berdua segera hanyut dalam kesibukan masing-masing; saling membisikkan kata-kata mesra, tertawa manja, dan sesekali meneguk minuman dari gelas yang sama. Ronald benar-benar larut dalam dunia malam yang penuh syahwat.
Berbeda terbalik dengan Ronald yang bersenang-senang, Darman justru tampak seperti seonggok batu karang yang mati di sudut sofa. Ia hanya terdiam membisu, menatap kosong ke arah gelas kristal di depannya. Di tangannya, sebotol bir dingin tinggal tersisa separo, mengembun karena es yang mulai mencair. Entah sudah berapa batang rokok putih yang dihabiskannya sejak sore tadi; asbak di depannya telah penuh dengan gunungan abu dan puntung yang menyengat.
Di tengah hiruk-bingar suara musik dari sistem suara ruangan yang menggelegar menghantam dinding, pikiran Darman sama sekali tidak berada di tempat itu. Jiwanya melayang jauh, melintasi batas-batas ruang, kembali tertuju pada satu nama yang paling sakral di hatinya: Arka.
Setiap kepulan asap rokok yang diembuskannya dari bibir seolah menjelma menjadi untaian doa dan jeritan batin yang tersiksa. Dari dalam palung hatinya yang paling dalam, Darman memanggil-manggil nama anak lelakinya dengan ratapan yang teramat pilu.
“Arka... anakku... Lihatlah bapakmu sekarang, Nak. Sekarang Ayah sudah punya uang banyak. Uang Ayah tidak akan habis hanya untuk membelikanmu mainan baru. Arka mau apa saja, mau mainan mobil yang paling mahal, mau baju baru, mau pergi ke kebun binatang setiap hari, Ayah sekarang bisa membelikan semuanya untuk Arka... Ayah mampu, Nak!” Jerit Darman dalam keheningan batinnya, matanya mulai terasa panas oleh air mata yang mendesak keluar.
“Tapi kamu di mana, Jagoan? Ayo dek... ayo pulang ke rumah. Ayah sangat merindukanmu sampai rasanya dada Ayah mau pecah. Ayah kesepian di rumah mewah itu, Dek. Kamu di mana, Nak...?”
"Penderitaan tertinggi dari materi yang berlimpah adalah ketika kamu memiliki kemampuan untuk membeli seluruh isi dunia, namun tidak lagi memiliki orang yang paling kamu cintai untuk berbagi kebahagiaan tersebut. Kekayaan tanpa kehadiran orang tercinta tak ubahnya seperti mahkota emas di atas kepala seorang narapidana mati."
Rasa sesak di dadanya kian lama kian tak tertahankan. Ditambah pengaruh alkohol dari setengah botol bir yang mulai membuat kepalanya terasa pening, Darman merasa ruangan karaoke ini berubah menjadi sebuah peti mati yang mengurung jiwanya. Ia butuh membasuh wajahnya demi mempertahankan kewarasannya.
Darman lantas berdiri dari sofa dengan gerakan yang agak kaku. Ia menepuk pundak Ronald yang masih sibuk dengan LC di pangkuannya. "Ronald, aku keluar sebentar ya. Mau ke toilet."
Ronald yang sudah setengah mabuk hanya mengacungkan jempol tangannya ke udara tanpa menoleh, sementara dua LC yang tersisa di ruangan itu sudah mulai bergeser duduk mendekat ke arah sofa tempat Darman tadi duduk, berniat menggoda pria itu jika ia kembali nanti.