Jangan Panggil Aku Bapak

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #8

Kamar 116

Gelisah adalah kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan badai yang sedang mengamuk di dalam dada Darman. Di dalam Kamar 116, lantai dua Hotel Phoenix—sebuah hotel megah berbintang empat dengan arsitektur kolonial yang anggun di kawasan Malioboro, tak jauh dari riuh pluit kereta Stasiun Tugu—Darman terus melangkah mondar-mandir bak singa yang terkurung dalam sangkar besi. Karpet tebal bergaris klasik di bawah kakinya seolah tak mampu meredam getaran kecemasan yang menjalar dari seluruh tubuhnya.

Sedari jam tujuh malam tadi, selepas ia meninggalkan kelab malam di Jalan Magelang, Darman telah mengirimkan pesan singkat kepada petugas security bertubuh besar yang disuapnya. Ia menegaskan posisi koordinatnya: Kamar 116. Dan beberapa menit yang lalu, sebuah pesan balasan masuk, menyatakan bahwa wanita yang menggunakan nama panggung Rara itu sudah berada di dalam taksi, sedang membelah rintik hujan Jogja menuju hotel tempatnya menunggu.

Kamar hotel mewah itu telah disulap Darman menjadi sebuah panggung sandiwara yang getir. Di atas meja kayu jati yang kokoh, ia telah mempersiapkan bermacam-macam makanan mewah dan minuman pembakar kesadaran. Dua botol vodka merk Iceland ukuran 500 ml berdiri angkuh, bersandingan dengan dua bungkus rokok putih kelas premium dan sebuah korek api gas. Semua itu disediakan Darman bukan untuk bersenang-senang, melainkan sebagai sebuah umpan sekaligus tes mental bagi wanita yang akan datang.

Darman menghentikan langkahnya di dekat jendela besar yang menghadap ke arah jalan raya. Ia melirik arloji mahal yang melingkar erat di pergelangan tangan kanannya. Jarum jam menunjukkan pukul delapan lebih empat puluh lima menit. Detik demi detik serasa berjalan dengan sangat lambat, seperti sengaja memperpanjang siksaan batin yang sedang dialaminya. Setiap detak jarum jam terasa seperti hantaman palu yang memukul telinganya.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pintu yang tiba-tiba terdengar memecah kesunyian kamar yang mencekam itu. Jantung Darman mencelos. Dengan langkah yang terburu-buru dan napas yang tertahan di tenggorokan, ia melangkah maju dan membuka pintu kayu yang berat tersebut.

Namun, sosok di balik pintu bukanlah wanita yang dinantinya. Seorang lelaki muda mengenakan seragam hitam rapi dengan emblem hotel berdiri sambil mendorong troli kecil. Ternyata ia hanyalah petugas room service.

"Maaf, Kak, apakah ada yang perlu dibersihkan atau ditambahkan untuk kamarnya?" tanya petugas itu dengan senyuman ramah yang formal.

Darman menghela napas panjang, mencoba meredakan kekecewaannya yang mendadak. "Tidak... terima kasih," jawab Darman pendek.

Namun sebelum petugas itu membalikkan badan, sebuah ide melintas di kepala Darman. Ia merogoh saku celananya. "Oh ya, Mas. Nanti kalau ada seorang wanita yang mencari kamar saya ini, tolong langsung diantarkan ke depan pintu saja, ya. Ini... sekadar uang kecil buat beli rokok."

Darman lantas mengangsurkan selembar uang seratus ribuan yang masih baru ke hadapan petugas room service tersebut. Mata pemuda itu berbinar, ia membungkuk hormat berkali-kali sebelum melangkah pergi membawa trolinya. Di dunia yang digerakkan oleh materi, selembar uang kertas sering kali bertindak sebagai pelicin jalan yang paling sunyi. Ia mampu membeli kepatuhan tanpa perlu banyak retorika, mengubah orang asing menjadi pelayan setiamu dalam sekejap.

Tidak lama berselang setelah petugas hotel itu pergi, keheningan kamar kembali pecah. Kali ini, terdengar sebuah ketukan halus dan ragu-ragu dari luar pintu.

Tok... Tok...

Darman membeku di tengah ruangan. Ia sudah tahu siapa yang berdiri di balik bilah kayu itu. Degup jantung lelaki itu semakin dipacu dengan kecepatan yang mengerikan, berdentum keras di dalam rongga dadanya hingga menimbulkan rasa pening di kepala. Untuk sesaat, keberanian yang ia bangun sejak di kelab malam tadi nyaris runtuh. Mencoba menyembunyikan identitas aslinya, Darman menarik napas dalam-dalam, lalu bersuara dengan nada yang sengaja dibesar-besarkan, diberatkan, dan dibuat serak agar tidak dikenali dari luar.

"Buka saja, pintunya sengaja tidak dikunci. Saya sedang di dalam kamar mandi!" teriak Darman dari dalam ruangan.

Darman lantas melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi mewah berlantai marmer tersebut. Ia sengaja tidak merapatkan pintu kayu kamar mandi, menyisakan celah sekitar beberapa sentimeter agar ia bisa mengamati apa yang terjadi di luar. Di depan wastafel, Darman memegang pinggiran wastafel dengan kedua tangannya yang gemetar hebat. Ia sedang menyiapkan mentalnya untuk menghadapi badai terdahsyat dalam hidupnya.

Dari balik celah pintu kamar mandi yang renggang, Darman melihat sesosok wanita melangkah masuk dengan ragu ke dalam kamarnya. Wanita itu mengenakan gaun malam mini berpotongan rendah yang mengekspos lekuk tubuhnya, dengan jaket rajut tipis yang bertumpu di pundak untuk menghalau dinginnya hujan. Langkah kakinya yang ditopang sepatu hak tinggi terdengar berketuk di atas lantai sebelum akhirnya ia duduk di atas kursi kayu empuk yang telah disediakan di dekat meja minuman.

Melalui celah sempit itu, di bawah siraman lampu kuning temaram kamar hotel, Darman dapat mengenali wajah wanita itu seutuhnya tanpa ada sedikit pun keraguan yang tersisa. Riasan tebal, gincu merah yang merona, dan aroma parfum murah yang menyengat tidak mampu menipu naluri seorang suami.

Ya, benar... wanita itu adalah Ratih. Istrinya, ibu dari anaknya, yang kini telah menggadaikan sisa martabatnya dan memakai nama panggung Rara di belantara malam Yogyakarta.

Setelah melewati beberapa menit yang menyiksa untuk menguasai gejolak emosi dan meredam gemetar di sekujur tubuhnya, Darman perlahan mendorong pintu kamar mandi. Ia melangkah keluar dengan tatapan mata yang dingin dan menusuk.

Ratih, yang sedang duduk bersandar sembari memandangi botol vodka di atas meja, spontan mengalihkan pandangannya ke arah suara langkah kaki Darman.

Deg.

Pandangan mereka beradu di udara. Detik itu juga, seluruh ruangan seolah kehilangan gravitasinya. Wajah Ratih yang semula tenang seketika berubah menjadi pucat pasi, sewarna dengan kertas putih. Bola matanya membelalak lebar diliputi rasa syok yang teramat sangat. Bibirnya yang berlapis gincu merah menyala bergetar hebat, tak mampu mengeluarkan satu kata pun. Tubuhnya mendadak kaku, seolah-olah ia baru saja melihat hantu dari masa lalunya bangkit berdiri di depannya.

Darman memaksakan sebuah senyuman di wajah kuyunya—sebuah senyuman yang lebih mirip seringai kepahitan seorang pria yang dikhianati oleh takdir. Tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Ratih, lelaki itu berjalan cepat menuju pintu utama. Ia meraih kartu akses kamar, mengunci pintu tersebut secara manual dari dalam dengan bunyi klik yang tegas, lalu memasukkan kartu magnetik itu jauh ke dalam kantong celananya. Jalan keluar telah ditutup.

Lihat selengkapnya