Jangan Panggil Aku Bapak

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #9

Pertemuan Kembali

Mobil sedan hitam milik Darman terus bergerak membelah kegelapan yang kian pekat, meninggalkan aspal halus jalanan utama kota menuju ke arah selatan, semakin jauh masuk ke pedalaman Kabupaten Bantul. Lampu sorot mobil yang terang benderang menjadi satu-satunya sumber cahaya yang menembus keheningan malam di daerah Sanden—sebuah wilayah di ujung selatan Bantul yang berbatasan langsung dengan embusan angin laut Pantai Selatan. Malam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat. Jam digital di dasbor mobil seolah menegaskan bahwa dunia luar telah lama tertidur. Di kanan dan kiri jalan sempit yang berkerikil itu, tidak ada lagi deretan ruko atau gemerlap lampu kota. Yang ada hanyalah hamparan area persawahan yang luas dan kebun-kebun tebu yang tumbuh tinggi menjulang. Daun-daun tebu yang panjang dan tajam itu bergesekan satu sama lain ditiup angin malam, menciptakan suara desau mistis yang menambah kesan sunyi sekaligus mencekam.

Sesekali, sorot lampu mobil menangkap bayangan pohon-pohon tua yang berdiri angkuh di tepi jalan. Darman terus mencengkeram setir, sementara Ratih di sebelahnya memberikan petunjuk arah dengan suara lirih, menunjuk ke sebuah jalan tanah yang semakin menyempit.

Akhirnya, mobil sedan mahal itu berhenti di depan sebuah rumah petak kecil berndinding batako tanpa plesteran yang rapi. Letaknya sedikit terpencil, berdiri sebatang kara di antara batas kebun tebu dan pekarangan kosong yang ditumbuhi pohon pisang. Penerangan di sekitar rumah itu sangat minim; hanya ada sebuah lampu pijar lima watt berwarna kuning kusam yang menggantung di langit-langit teras, bergoyang pelan dipermainkan angin malam yang dingin.

Melihat kondisi bangunan yang jauh dari kata layak itu, hati Darman mendadak berdenyut-denyut hebat. Rasa ngilu yang luar biasa menghujam jantungnya. Pikiran tentang anak lelakinya yang harus menghabiskan malam-malam sepi di tempat terpencil seperti ini membuat napas Darman terasa sesak. Tubuhnya gemetar bukan lagi karena pengaruh sisa alkohol, melainkan karena gejolak amarah dan kepedihan yang memuncak.

Ratih turun lebih dulu dari mobil, merapatkan jaket rajutnya untuk menghalau angin malam Sanden yang menggigit tulang. Darman mengikuti dari belakang dengan langkah berat, matanya menatap tajam setiap sudut rumah petak itu dengan pandangan tidak percaya. Ratih melangkah ke teras yang beralas semen kasar, lalu mengetuk pintu kayu yang tampak mulai lapuk itu dengan pelan.

Tok... Tok... Tok...

Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Hanya suara jangkrik dan katak sawah yang bersahut-sahutan di kejauhan, merayakan kesunyian malam. Ratih menarik napas panjang, lalu mengetuk lagi dengan sedikit lebih keras.

Tok... Tok... Tok... Mas... Mbok...

Tidak lama berselang, dari balik dinding batako, terdengar suara batuk-batuk kecil seorang perempuan paruh baya, disusul suara langkah kaki yang diseret perlahan di atas lantai semen. Suara grendel pintu besi yang berkarat ditarik terdengar berderit nyaring, memecah keheningan teras.

Pintu terbuka seadanya. Sosok seorang wanita tua berumur sekitar 60 tahun berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan daster batik motif lawas yang sudah pudar warnanya. Rambutnya yang sudah memutih di beberapa bagian dibiarkan tergerai acak-acakan, sementara sepasang matanya tampak sedikit sayu dan merah karena dipaksa bangun dari tidur lelapnya.

"Oalah, Mbak Rara...?" ucap wanita tua itu dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Matanya mengerjap-ngerjap berusaha mengenali tamu yang datang di tengah malam buta itu.

Sebelum Ratih sempat menjawab, Darman melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Matanya menyapu bagian dalam rumah yang terlihat remang-remang dari celah pintu—sebuah ruang tamu merangkap ruang keluarga yang sempit dengan perabotan alakadarnya. Sisi emosional Darman sebagai seorang bapak seketika meledak. Ia tidak bisa lagi menahan diri.

"Jadi di sini...? Di tempat terpencil dan kumuh seperti ini kamu menitipkan anakku, Ratih?!" desis Darman, suaranya ditekan rendah namun sarat akan getaran amarah yang menakutkan. Ia membalikkan tubuh menghadap Ratih, menatap istrinya dengan mata yang memerah.

Ratih terkejut mendapat serangan mendadak itu. Egonya yang tinggi kembali terusik. "Jaga bicaramu, Mas! Di tempat ini Arka bisa makan dan sekolah dengan aman! Bu Murni menjaga Arka dengan baik selama aku bekerja!" jawab Ratih setengah berbisik, mencoba menahan suaranya agar tidak memicu keributan di malam yang sunyi.

"Aman kamu bilang?!" Darman melangkah mendekati Ratih, menunjuk ke arah hamparan kebun tebu hitam di belakang mereka. "Kamu lihat kanan-kiri tempat ini! Ini hutan tebu, Ratih! Jauh dari mana-mana! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Arka di tengah malam? Bagaimana kalau dia sakit? Bagaimana kalau ada hewan buas atau orang berniat jahat?! Kamu ibunya, tapi kamu tega membuang anak kandungmu sendiri ke ujung selatan Jogja hanya demi kamu bisa bebas berpesta dan melayani laki-laki lain di kota!"

Tuduhan kejam itu menghantam ulu hati Ratih. Wajahnya yang tebal oleh sisa riasan malam berkerut menahan amarah dan rasa malu di depan Bu Murni. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang perjuanganku, Mas! Kamu pergi ke Jakarta dan menghilang tanpa kabar! Aku harus bertahan hidup sendirian di kota ini! Jangan sok menjadi pahlawan sekarang hanya karena kamu datang dengan membawa gepokan uang haram!"

"Uang haram atau bukan, aku melakukannya demi memberi kalian kehidupan yang layak! Bukan untuk melihat anakku hidup terasing di rumah petak seperti ini!" bentak Darman, suaranya mulai meninggi, mengabaikan etika bertamu.

Melihat situasi yang kian memanas dan adu mulut yang hampir tidak terkendali antara sepasang suami istri itu, wanita tua pemilik rumah, Bu Murni, segera melangkah maju menepuk pundak Darman dengan lembut. Pengalaman hidupnya selama enam puluh tahun membuatnya paham bahwa amarah tidak akan pernah menyelesaikan badai.

"Astagfirullah... Sampun, Pak, Mbak... Tolong dilerem rumiyin amarahnya. Ini sudah tengah malam, tidak enak didengar tetangga jauh," ucap Bu Murni dengan tutur kata Jawa yang halus dan menenangkan. Ia menatap Darman dengan pandangan keibuan yang teduh. "Bapak ini suaminya Mbak Rara? Bapaknya Arka?"

Darman menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan gemuruh di dadanya demi menghormati wanita tua itu. "Iya, Bu. Saya Darman, bapak kandungnya Arka."

Lihat selengkapnya