Malam kian melarut ketika sedan hitam Darman kembali merapat di pelataran Hotel Phoenix. Arka, yang sudah terlelap sejak dari perjalanan tadi, sama sekali tidak terusik ketika tubuh mungilnya didekap lembut oleh tangan kekar sang ayah, dibawa melewati lobi kolonial yang sunyi, hingga dibaringkan di atas ranjang empuk Kamar 116. Anak kecil itu mendengkur halus, memeluk guling bututnya yang sudah robek dan memudar warnanya. Di bawah selimut putih tebal, Arka tampak begitu aman, seolah-olah seluruh dunia luar yang bising dan kejam telah berhasil dihalau oleh dinding kamar hotel berbintang ini. Setelah memastikan putranya benar-benar larut dalam mimpi, Darman berdiri, memandangi wajah polos itu sejenak sebelum membalikkan badan. Matanya tertuju pada Ratih yang berdiri mematung di dekat pintu, masih dengan tatapan kosong dan kaku yang sama sejak sore tadi.
"Ikut aku ke atas. Kita perlu bicara tanpa harus membuat Arka terbangun," ucap Darman dingin, suaranya nyaris menyerupai bisikan yang menusuk.
Ratih tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan, melangkah mengekor di belakang Darman menuju lift yang membawa mereka naik ke lantai teratas.
Rooftop Hotel Phoenix malam itu menyuguhkan suasana yang teramat mewah dan cozy. Lampu-lampu hias gantung berwarna kuning temaram berpijar estetis, berpadu dengan sofa-sofa rotan empuk dan tanaman hijau yang tertata rapi di setiap sudut. Dari ketinggian ini, kerlip lampu kota Yogyakarta membentang layaknya hamparan permata yang berserakan di atas kain beludru hitam. Suara sayup-sayup kendaraan dari arah Jalan Jenderal Sudirman berbaur dengan embusan angin malam yang berembus konstan, membawa aroma dingin yang menusuk kulit. Namun, kemegahan dan kenyamanan tempat itu sama sekali tidak mampu mencairkan kebekuan di antara keduanya. Mereka duduk berhadapan di sebuah meja bundar kecil di sudut rooftop, terpisah oleh jarak yang dekat namun terasa seperti ribuan mil jauhnya. Sebuah gelas kaca berisi air putih dingin berkeringat di atas meja, memantulkan cahaya lampu kota yang semu. Darman mencengkeram pinggiran meja besi dengan kedua tangannya. Matanya yang memerah menatap lurus ke arah Ratih, menahan gelombang amarah dan kepedihan yang sudah satu tahun ini menyumbat dadanya.
"Satu tahun, Ratih..." Darman memulai pembicaraan, suaranya bergetar hebat, menahan ledakan emosi agar tidak menggema di keheningan malam. "Satu tahun penuh aku hidup seperti tikus tanah di Jakarta. Aku bekerja, mengumpulkan setiap rupiah, dan setiap malam aku menatap ponselku. Mengapa pesan-pesan singkatku tidak pernah satu kali pun kamu gubris? Mengapa telepon-teleponku tidak pernah kamu angkat? Apa salahku sampai kamu memperlakukan aku seolah-olah aku ini sudah mati?"
Ratih memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah kegelapan malam di luar pagar pembatas rooftop. Ia menarik napas panjang, mencoba membangun kembali keangkuhan yang siang tadi sempat runtuh di depan anaknya.
"Aku sengaja melakukannya, Mas," jawab Ratih datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun di dalam suaranya. "Aku tidak ingin Arka terus-menerus memikirkanmu. Setiap kali kamu menelepon atau mengirim pesan, Arka selalu menangis berhari-hari menanyakan kapan ayahnya pulang. Itu menyiksanya, Mas. Jadi, aku memutuskan untuk mengabaikan semua panggilan dan WhatsApp darimu agar dia pelan-pelan terbiasa hidup tanpa bayangan seorang ayah yang pergi entah ke mana."
Mendengar pengakuan yang meluncur begitu enteng dari bibir Ratih, Darman merasakan darahnya mendidih seketika. Emosinya yang semula berusaha ditekan kini terpancing hebat. Ia memajukan tubuhnya, menatap Ratih dengan pandangan mata yang menyala-nyala oleh rasa sakit hati yang teramat dalam.
"Terbiasa hidup tanpa ayah?!" bentak Darman dengan suara tertahan, urat-urat di lehernya menegang. "Itu hakku, Ratih! Aku ini bapak kandungnya! Aku yang memberi dia nama, aku yang membiayai napasnya sejak dia lahir! Tidak peduli seberapa jauh aku pergi mencari nafkah, kamu tidak punya hak sedikit pun untuk memutus hubungan antara aku dan anakku! Kamu tahu bagaimana rasanya mengemis kabar tentang anak sendiri di ruang tunggu stasiun yang sepi? Kamu egois, Ratih! Kamu menghukumku dengan cara menyiksa batin anakku sendiri!"
Ratih menatap balik Darman, matanya yang tajam menolak untuk mengalah. "Kamu tidak berhak bicara tentang hak, Mas, setelah kamu meninggalkan kami tanpa kepastian selama berbulan-bulan di awal kepergianmu! Aku yang menghadapi kenyataan di lapangan, bukan kamu!"
Darman menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang kembang kempis. Ia memijat pelipisnya yang mulai berdenyut sakit, lalu mengalihkan pertanyaan ke arah luka paling bernanah di dalam hatinya.
"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang?" tanya Darman, suaranya beralih menjadi serak dan penuh kegetiran. "Mengapa kamu terjun ke dunia malam yang menjijikkan itu, Ratih? Bukankah uang yang selama ini aku kirimkan dari Jakarta setiap bulan itu sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidupmu dan Arka tanpa kamu harus bekerja sebagai seorang LC di sebuah klub malam?"
Ratih mendengus sinis, ia mengambil gelas di depannya namun mengurungkan niat untuk minum. "Cukup? Kamu bilang uang kirimanmu itu cukup, Mas? Kamu hanya melihat angka di atas kertas, tapi tidak tahu bagaimana harga-harga meroket di kota ini. Aku butuh uang cepat untuk membayar utang-utang lama, biaya kontrakan yang naik, dan tabungan masa depan Arka. Ketika seorang teman menawarkan pekerjaan dengan penghasilan jutaan rupiah dalam semalam hanya dengan menemani orang bernyanyi, aku tidak punya alasan untuk menolak. Aku butuh uang itu!"
Krak.
Tangan Darman bergerak cepat, mencengkeram gelas kaca di atas meja hingga jari-jemarinya memutih. Ia hampir saja mengangkat gelas itu dan melemparkannya ke lantai rooftop yang mewah demi meluapkan rasa frustrasinya. Baginya, seluruh alasan yang keluar dari mulut Ratih sama sekali tidak masuk akal dan teramat dipaksakan.
"Alasanmu itu sampah, Ratih! Tidak masuk akal!" desis Darman, matanya menatap Ratih dengan pandangan menghina yang tidak lagi disembunyikan. "Uang yang aku kirim itu lebih dari cukup kalau kamu hidup dengan kesederhanaan seorang istri guru honorer seperti dulu! Tapi apa? Itu semua hanyalah egoismu saja, Ratih! Kamu hanya ingin mendapatkan uang secara mudah, instan, dan cepat tanpa perlu memeras keringat di jalan yang benar! Kamu mengorbankan kehormatanmu, membiarkan tubuhmu diraba-raba oleh ratusan tangan lelaki hidung belang di dalam ruangan remang-remang yang pengap oleh dosa, hanya demi bisa membeli kemewahan semu itu?!"