Jangan Panggil Aku Bapak

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #11

Kenyataan Pahit

Sedan hitam itu perlahan merayap memasuki sebuah gang sempit di pinggiran kota Yogyakarta, tempat di mana kenangan manis dan getir pernah berkelindan. Arka menempelkan wajahnya ke kaca mobil, matanya mengerjap-ngerjap berusaha mengenali lingkungan sekitar yang terasa akrab sekaligus asing. Ketika mobil berhenti tepat di depan sebuah pagar besi minimalis yang kokoh, anak kecil itu terbelalak. Ini adalah rumah lama mereka. Rumah yang dua tahun lalu berndinding kusam dengan cat yang mengelupas, atap teras yang bocor setiap kali hujan deras mengguyur, dan halaman yang gersang. Namun kini, bangunan itu telah bermutasi menjadi sebuah hunian dua lantai yang megah dan elegan. Dindingnya dibalut cat kombinasi putih bersih dan abu-abu modern, dilengkapi lampu-lampu taman yang mewah.

"Ayah... ini benar-benar rumah kita dulu?" tanya Arka, suaranya bergetar antara tidak percaya dan kagum.

"Iya, Jagoan. Ini rumah kita. Ayah sudah memperbaikinya untuk Arka," jawab Darman dengan senyuman hangat, walau di sudut hatinya ada rasa ngilu yang mendalam. Rumah ini memiliki kenangan yang sangat buruk.

Arka langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk setelah Darman membukakan pintu utama. Anak itu menjelajahi setiap sudut ruangan beralaskan granit mengkilap. Langkah kaki mungilnya berhenti di depan sebuah kamar di lantai bawah—kamarnya dulu yang sempit dan pengap. Ketika pintu dibuka, Arka memekik gembira. Kamar itu kini terasa sangat lega. Sebuah ranjang berukuran sedang dengan kasur busa yang tebal dan empuk didominasi sprei bermotif karakter kartun kesukaannya tampak begitu mengundang. Namun, yang membuat jantung anak kecil itu melonjak kegirangan adalah sebuah benda yang terletak persis di tengah-tengah ranjang. Sebuah kotak besar pembungkus mainan mobil-mobilan remote control idaman yang bannya besar—yang selama ini hanya bisa ia pandangi lewat etalase toko mainan di mall—kini nyata berada di depannya.

"Ayah! Ini... ini untuk Arka?!" Arka menoleh ke arah Darman yang berdiri di ambang pintu bersama Ratih. Anak itu langsung menerjang dan memeluk kaki Darman dengan sangat erat. "Terima kasih, Ayah! Terima kasih banyak! Ayah hebat sekali!"

Darman berlutut, memeluk tubuh anaknya yang mungil. Air mata kebahagiaan berbaur dengan kepedihan di sudut mata Darman. "Sama-sama, Jagoan. Apapun untuk Arka."

Di belakang mereka, Ratih hanya bersandar pada kusen pintu. Matanya menatap tumpukan kemewahan itu dengan tatapan kosong. Pikirannya semakin tidak menentu. Rumah ini sudah kembali indah, bahkan jauh lebih mewah dari apa yang pernah ia impikan dulu sebagai istri seorang guru honorer. Namun, mengapa atmosfer di dalam rumah ini justru terasa begitu dingin dan asing?

Hari itu juga, Darman tidak ingin membuang waktu. Ia ingin segera menarik Arka dari keterasingan di ujung selatan Bantul dan mengembalikan masa depannya ke sekolah yang lebih layak di kota. Dengan ditemani Ratih yang duduk membisu di kursi penumpang, Darman memacu mobilnya kembali menuju daerah Sanden.

Perjalanan siang itu terasa begitu lambat. Setibanya di sekolah dasar negeri tempat Arka menuntut ilmu selama setahun terakhir, Darman melangkah mantap menuju ruang kepala sekolah dan wali kelas Arka. Proses administrasi kepindahan diurus dengan cepat. Uang pelicin yang keluar dari dompet tebal Darman seolah meruntuhkan segala birokrasi yang rumit. Para guru memandang Darman dengan tatapan hormat, mengira pria berjaket kulit mahal itu adalah seorang pengusaha sukses yang baru kembali dari perantauan.

Setelah urusan sekolah selesai, tujuan terakhir mereka di Sanden adalah rumah petak kecil milik Bu Murni. Wanita tua itu menyambut kedatangan Darman dan Ratih dengan senyuman tulus yang sama seperti malam sebelumnya.

"Bu Murni," ucap Darman seraya menjabat tangan keriput wanita tua itu di teras rumah yang beralas semen kasar. "Hari ini saya resmi membawa Arka kembali ke kota. Ini ada sedikit uang tanda terima kasih dari saya. Tolong jangan dilihat nominalnya, ini tidak akan pernah cukup untuk membalas ketulusan Ibu menjaga darah daging saya selama dua tahun ini."

Darman menyerahkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. Bu Murni sempat menolak, matanya berkaca-kaca. "Oalah, Pak Darman... saya ikhlas menyayangi Dek Arka. Tapi nggih pun, kalau Bapak memaksa, uang ini akan saya gunakan untuk memperbaiki atap dapur yang bocor. Maturnuwun sanget nggih, Pak, Mbak. Tolong Dek Arka dijaga baik-baik, dia anak yang sangat berbakti."

Saat mobil sedan hitam itu mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumah Bu Murni, membelah hamparan kebun tebu yang bergoyang ditiup angin siang, Darman melirik dari kaca spion atas. Sosok wanita tua itu berdiri melambai di depan rumah petaknya yang terpencil, semakin lama semakin mengecil hingga akhirnya lenyap ditelan tikungan jalan berdebu. Tali sejarah Arka di Sanden resmi terputus hari itu.

Sepanjang perjalanan pulang dari Bantul menuju kota, kabin mobil kembali dikuasai oleh keheningan yang mencekam. Hanya suara deru mesin dan gesekan ban dengan aspal jalanan yang terdengar. Ratih menatap keluar jendela, memandangi deretan pohon-pohon perindang jalan yang bergerak mundur. Darman mencengkeram kemudi dengan erat. Pikirannya berkecamuk. Kehadiran Arka di rumah baru mereka telah mengembalikan sedikit nyawa dalam hidupnya, namun ia tahu keluarga ini tidak akan pernah utuh jika ego di antara dirinya dan Ratih tidak diselesaikan. Pria itu menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberanian dari balik dadanya yang sesak.

"Ratih..." Darman membuka suara, memecah kesunyian yang kaku.

Ratih tidak menoleh, namun gerak tubuhnya yang mendadak menegang menunjukkan bahwa ia mendengarkan.

"Apakah... apakah bisa kita bersama lagi?" tanya Darman dengan suara yang berat, sarat akan harapan sekaligus keputusasaan. "Mengulangi semuanya dari awal... dan membangun lagi sesuatu yang sudah terlanjur hancur berantakan di antara kita?"

Mendengar pertanyaan itu, jantung Ratih berdegup kencang. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah jeritan kerinduan menggema hebat. Aku ingin, Mas... Aku ingin sekali kembali ke kehidupan normal kita yang dulu. Aku ingin menjadi ibu rumah tangga biasa yang menunggumu pulang mengajar, menyiapkan teh hangat, dan hidup tanpa ketakutan akan malam.

Lihat selengkapnya