Lampu teras yang berpendar kekuningan menerangi pelataran rumah baru berfondasi lama itu. Darman duduk termenung di atas kursi rotan yang nyaman, namun tubuhnya terasa sekaku batu. Lelaki berumur 42 tahun itu menyandarkan punggungnya yang letih, sementara tatapan matanya kosong, menerawang menembus pagar besi minimalis. Di dalam kepalanya, kata narkoba bertalu-talu seperti hantaman palu gada. Keringat dingin yang sempat mengucur di toilet SPBU tadi kini telah mengering, meninggalkan rasa kebas dan menggigil di sekujur tengkuknya. Arka terus menempel pada sang ayah, kini duduk bergelayutan di pangkuan tegap Darman. Bocah lelaki itu memeluk erat sebuah mainan robot baru, namun perhatiannya justru teralih pada raut wajah bapaknya. Jiwa kekanakan Arka yang sensitif nampaknya mampu menangkap ada sesuatu yang berjalan keliru. Ia merasakan detak jantung ayahnya yang berpacu tidak beraturan dan napasnya yang berat.
Arka mendongak, menatap dagu Darman yang mulai ditumbuhi janggut tipis. "Yah, kenapa?" tanya bocah itu dengan suara cicit yang lirih. "Mengapa ayah daritadi diam saja?"
Darman tersentak. Pertanyaan polos itu seperti menariknya paksa kembali dari jurang lamunan yang mengerikan. Ia menundukkan kepala, memandangi sepasang mata bulat milik putranya. Di bawah temaram lampu teras, Darman mencoba mengulas sebuah senyuman setengah dipaksakan—sebuah topeng yang ia pasang demi melindungi mental sang anak.
"Tidak apa-apa, Nak. Ayah hanya letih dan kecapekan," ujar Darman, suaranya serak dan berat. Ia mengusap rambut Arka dengan telapak tangannya yang agak gemetar. "Nyetir mobil tadi sangat jauh, macet juga. Sekarang Arka main saja dulu di sana, ya? Coba mobil barunya."
Arka mengangguk patuh, meski gurat kebingungan belum sepenuhnya sirna dari wajahnya. Ia turun dari pangkuan Darman, lalu berjalan menuju ruang tengah yang beralaskan granit mengkilap untuk membuka kotak mainan besarnya.
Tepat setelah Arka melangkah masuk, pintu kamar depan terbuka. Sesosok wanita keluar dengan langkah yang terdengar berketuk tegas di atas lantai. Darman menoleh, dan seketika itu juga napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya yang baru saja melambat akibat ketakutan akan Rita, kini kembali bergejolak oleh rasa panas yang membakar dada.
Ratih berdiri di sana, sudah berdandan rapi dengan baju dinas malamnya. Wanita itu mengenakan rok pendek hitam ketat yang berakhir beberapa sentimeter di atas lutut, dipadukan dengan kemeja putih lengan pendek yang ukurannya terlampau kecil. Kain kemeja yang ketat itu mencetak dengan sangat jelas lekuk dan bentuk tubuh Ratih, mengekspos moleknya bentuk tubuh seorang wanita yang bersiap menjadi santapan pandangan mata di bawah remang lampu disko. Riasan wajahnya tebal, dengan gincu merah menyala yang menyamarkan kepucatan batinnya.
Darman menghela napas panjang dan teramat berat, seolah seluruh pasokan udara di teras itu telah habis. Ia bangkit berdiri, menatap Ratih dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan mata yang sarat akan kehancuran ego seorang suami.
"Kamu mau kemana, Ratih?" tanya Darman, suaranya ditekankan serendah mungkin namun bergetar hebat oleh amarah yang bergolak. "Berangkat kerja lagi ke tempat sialan itu?!"
Ratih menghentikan langkahnya di dekat pintu teras. Ia tidak berani menatap langsung mata Darman. Sambil merapikan tas selempang kecilnya, ia menjawab pendek, "Iya, Mas..."
Darman mendengus kesal, sebuah tawa getir lolos dari sela-sela giginya yang merapat. "Berhentilah kerja di tempat itu, Ratih! Tabunganku sekarang sudah lebih dari cukup untuk menghidupimu dan Arka secara layak, daripada kau terus-menerus melacurkan harga diri dan martabatmu demi uang yang tidak seberapa banyaknya itu!"
Mendengar kata melacurkan, Ratih mendadak membalikkan tubuhnya. Ia menatap Darman dengan pandangan mata yang teramat tajam—sebuah tatapan yang mengombinasikan rasa terhina, kemarahan, sekaligus luka lama yang digaruk kembali. Perempuan itu tidak berkata apa-apa lagi, bibirnya terkatung rapat, lalu ia bergegas membalikkan badan hendak melangkah pergi meninggalkan teras.
Namun, gerakan Darman jauh lebih cepat. Lelaki itu melangkah lebar, menjangkau lengan Ratih dan menahan pergelangan tangan istrinya dengan cengkeraman yang kuat namun tidak menyakiti.
"Dengarkan aku, Ratih! Aku mohon kali ini saja..." suara Darman melunak, berubah menjadi sebuah rintihan memelas dari seorang suami yang sedang berada di titik nadir kehidupannya. "Berhentilah bekerja di tempat sialan itu."
Ratih mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Darman terlalu kokoh. Ia menghela napas, menatap suaminya dengan kepasrahan yang dingin. "Aku tidak bisa, Mas. Kontrak kerjaku di manajemen klub masih tersisa satu tahun lagi. Aku harus membayar denda pinalti yang sangat besar kalau memutuskan keluar secara sepihak sementara masa kontrakku belum selesai. Aku tidak punya uang sebanyak itu."
Darman mendengus, matanya menyipit penuh tekad yang gelap. "Aku bayar pinalti denda itu. Berapa pun angkanya!" cetus Darman tanpa ragu. Pikiran tentang uang haram dari Rita sejenak terlupakan, tertutup oleh ambisinya yang menggebu-gebu untuk menarik istrinya keluar dari lumpur malam. "Ayo, aku antar kau ke tempat kerjamu sekarang. Pertemukan aku dengan manajermu!"
Ratih tertegun melihat keseriusan di wajah suaminya. Setelah perdebatan batin yang singkat, ia akhirnya mengangguk pelan. Sebelum berangkat, Darman melangkah ke rumah tetangga sebelah, meminta bantuan kepada Mbak Murni—seorang tetangga dekat yang cukup tepercaya—untuk datang ke rumah dan menjaga Arka yang mulai mengantuk di ruang tengah. Setelah memastikan putranya aman, Darman dan Ratih masuk ke dalam sedan hitam, memacu kendaraan itu menuju sebuah night club terkemuka di bilangan Jalan Magelang. Jalan Magelang malam itu tampak ramai oleh kendaraan yang mencari hiburan malam. Mobil Darman berhenti di pelataran parkir sebuah gedung dengan fasad megah yang dihiasi lampu neon besar bertuliskan nama sebuah karaoke dan night club. Suara dentuman bass dari dalam gedung terasa bergetar hingga ke dinding luar, menciptakan atmosfer yang bising dan memabukkan.