Pagi itu, kedamaian di rumah baru Darman terusik oleh suara yang teramat bising dan konstan. Di atas meja makan jati yang kokoh, ponsel milik Darman tidak sekalipun berhenti berdering. Getarannya yang panjang beradu dengan permukaan kayu, menciptakan bunyi bzzzz yang berulang-ulang, disusul suara denting notifikasi pesan masuk yang bertubi-tubi, silih berganti seolah tanpa jeda.
Semua panggilan dan pesan itu berasal dari satu nama: RITA.
Di dalam kabin rumah yang mulai terasa hangat oleh tawa polos Arka yang sedang bermain mobil-mobilan baru di ruang tengah, layar ponsel Darman justru terus memancarkan teror digital yang dingin. Rita mengirimkan puluhan pesan singkat dengan nada yang kian meninggi, menanyakan dengan ketus dan gusar mengapa selama dua hari terakhir ini Darman sama sekali tidak kunjung memberi kabar. Nomor teleponnya susah dihubungi, dan laporan pengantaran barang yang biasa ia lakukan mendadak mandek tanpa kejelasan. Darman duduk mematung di kursi makan, menatap layar ponsel itu dengan tatapan mata yang bimbang sekaligus ngeri. Setiap kali ponsel itu menyala, bayangan kata narkoba yang diucapkan oleh lelaki misterius di toilet SPBU kemarin kembali terngiang, membuat ulu hatinya terasa diremas kuat. Keringat dingin kembali membasahi telapak tangannya.
Ratih yang sedang menyapu lantai di dekat tangga sesekali melirik ke arah meja makan dengan pandangan penuh selidik. Namun, setelah pergulatan batin malam tadi, wanita itu memilih untuk menahan lidahnya dan tidak melempar pertanyaan. Suasana kaku di antara mereka masih menyisakan dinding tipis yang rapuh.
Setelah memikirkan hal itu selama beberapa jam dalam keheningan yang menyiksa—sembari memandangi punggung kecil Arka yang tampak begitu bahagia menikmati fasilitas rumah barunya—Darman akhirnya menegakkan punggung. Keputusannya sudah bulat. Ia tidak bisa terus-menerus lari dan bersembunyi di bawah selimut hotel atau rumah mewah ini. Ia harus menyelesaikan urusannya di hulu sebelum bom waktu itu meledak dan menghancurkan masa depan anak lelakinya. Lelaki berumur 42 tahun itu meraih ponselnya, mematikan suaranya, lalu bangkit berdiri memakai jaket kulit hitamnya yang mulai terasa berat beban moralnya. Ia telah memantapkan hati untuk berhenti total menjadi kurir pengantaran benda-benda terlarang milik Rita. Apapun risikonya, ia harus keluar dari lingkaran setan ini.
Darman memacu sedannya menuju ke sebuah kawasan perumahan elit di pinggiran kota Yogyakarta, tempat di mana Rita memiliki sebuah rumah singgah yang mewah jika sedang berkunjung ke luar Jakarta. Rumah itu berdiri angkuh dengan arsitektur modern minimalis berpola kaca-kaca besar tembus pandang, dikelilingi oleh taman tropis yang tertata rapi dan dijaga oleh seorang satpam swasta di gerbang depan.Matahari siang itu bersinar terik, namun atmosfer di dalam area rumah Rita terasa teramat dingin saat Darman melangkah masuk melewati pintu depan yang dibukakan oleh seorang pelayan.
Di dalam ruang tamu yang beralaskan marmer putih Italia, Rita sudah menunggu. Perempuan itu duduk di atas sofa kulit mahal dengan kaki yang disilangkan anggun. Ia mengenakan gaun rumah sutra berwarna merah marun, jemarinya yang lentik dengan kuku-kuku bercat merah menyala tengah memegang sebatang rokok putih yang asapnya mengepul tipis ke langit-langit ruangan. Wajah cantiknya yang blasteran tampak mengeras, diselimuti oleh kegusaran yang mendalam.
"Dua hari, Darman..." ucap Rita, suaranya terdengar rendah namun sarat akan racun intimidasi yang mematikan. Ia mengembuskan asap rokoknya ke udara, menatap Darman yang berdiri kaku di tengah ruangan. "Dua hari kamu hilang tanpa kabar seperti ditelan bumi. Ponselmu mati, pesan-pesanku tidak kamu balas. Kamu pikir kamu ini siapa? Kamu pikir kamu bisa seenaknya bermain-main dengan bisnisku?!"
Darman menarik napas panjang, mencoba menguatkan fondasi mentalnya yang mulai goyah di hadapan aura dominan perempuan di depannya. "Maaf, Bu Rita. Saya ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Anak saya... anak saya sakit dan saya harus mengurus kepindahannya," jawab Darman, mencoba mencari alasan yang paling aman.
"Aku tidak peduli dengan urusan anakmu!" potong Rita dengan nada suara yang meninggi, ia bangkit berdiri dari sofanya, melangkah mendekati Darman dengan tatapan mata yang menembus jantung. "Kamu dibayar mahal untuk menjadi anjing pengantar yang patuh, bukan untuk menjadi seorang bapak rumah tangga yang cengeng! Kehilangan kontak denganmu selama dua hari itu artinya kerugian ratusan juta bagi jaringanku di Jakarta dan Jogja!"
Mendengar kata anjing pengantar dan jaringan, darah Darman berdesir hebat. Rasa takutnya mendadak menguap, digantikan oleh gelombang keberanian yang lahir dari keputusasaan seorang ayah yang ingin bertobat.