Di sebuah ruangan semi-basement yang tersembunyi di sudut markas Ditresnarkoba Polda DIY, suasananya teramat kontras dengan teriknya siang di luar. Ruangan itu kedap suara, pengap oleh aroma kopi hitam yang sudah mendingin, asap rokok elektrik, dan hawa dingin dari mesin AC yang dipaksa bekerja maksimal. Di salah satu dinding, sebuah papan tulis putih besar dipenuhi oleh tempelan foto-foto hasil pengintaian rahasia, peta jaringan bertinta merah, serta coretan spidol yang saling menghubungkan nama-nama makelar kelas teri hingga bermuara pada satu nama besar yang dilingkari dua kali: RITA.
Ajun Komisaris Polisi (AKP) Bagus, kepala unit reskrim yang dikenal lurus dan bertangan besi, berdiri di depan papan tersebut. Matanya yang merah karena kurang tidur selama tiga hari terakhir menatap tajam ke arah lima orang anggotanya yang duduk melingkari meja panjang.
"Dua tahun kita mengendus pergerakan jalur tikus ini," suara AKP Bagus memecah keheningan, berat dan penuh penekanan. "Iblis betina bernama Rita ini sangat rapi. Dia memanfaatkan orang-orang berlatar belakang bersih, orang-orang putus asa yang butuh uang, untuk menjadi kurir penjemput di Jogja. Dan dari informasi informan kita, dua hari ke depan akan ada transaksi besar di kawasan ring road utara. Target utama kita adalah tangan kanan Rita yang baru datang dari Jakarta, si Ronald, dan kurir lokalnya."
Para anggota tim Reskrim mengangguk serempak. Jari-jari mereka bergerak cepat di atas keyboard laptop, menyelaraskan koordinat GPS dan mematangkan taktik penyergapan berlapis agar buruan kakap ini tidak lolos lagi seperti operasi tahun lalu.
Namun, di tengah ketegangan yang memuncak itu, pintu ruangan besi itu mendadak terbuka tanpa ketukan. Langkah sepatu pantofel yang mengkilap berndindingkan sol keras terdengar ketat mengepruk lantai ubin. Sosok pria bertubuh tegap dengan seragam dinas lengkap berpangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes) melangkah masuk dengan dagu terangkat. Ia adalah Kombes Hermawan, salah satu petinggi di direktorat tersebut.
Kehadiran sang perwira menengah membuat AKP Bagus dan seluruh anggotanya refleks berdiri tegak dan memberi hormat. Namun, atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah menjadi canggung dan pekat oleh kecurigaan. Kombes Hermawan melirik ke arah papan tulis putih, mengamati lingkaran merah di nama Rita, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang sarat akan maksud tersembunyi.
"Duduk, duduk semuanya," ujar Kombes Hermawan, suaranya terdengar ramah namun ada nada dingin yang memotong antusiasme tim. Ia berjalan mendekati AKP Bagus, lalu menepuk pundak juniornya itu dengan pelan. "Bagus... saya menghargai kerja keras timmu selama ini. Tapi, untuk operasi dua hari ke depan di ring road utara... saya perintahkan untuk ditunda. Tarik semua personel penyamaran dari lapangan malam ini juga."
Mendengar perintah itu, AKP Bagus terperangah. Wajahnya yang kuyu mendadak menegang, rahangnya mengeras menahan gejolak penolakan. "Tapi, Komandan... ini adalah kesempatan emas kita. Informan kita sudah memastikan Ronald akan turun langsung membawa barang bukti dalam jumlah kiloan. Kalau kita tunda sekarang, mereka akan mencium pergerakan kita dan memutus jalurnya lagi!"
Kombes Hermawan mengubah raut wajahnya menjadi tegas, sepasang matanya menatap AKP Bagus dengan pandangan mengancam yang terselubung. Sebagai salah satu petinggi yang sudah lama menerima aliran dana ratusan juta rupiah setiap bulannya ke rekening penampung milik kerabatnya demi mengamankan jalur bisnis Rita, Hermawan tidak akan membiarkan anak buahnya yang idealis ini merusak lumbung uangnya.
"Ini perintah dari atas, Bagus! Ada kepentingan intelijen yang lebih besar yang sedang kita jaga. Jangan sampai tindakan gegabah timmu mengacaukan operasi skala nasional yang dipimpin markas besar!" bentak Kombes Hermawan, melempar alasan klasik demi menutupi borok korupnya. "Patuh, atau saya mutasikan kamu ke Polres ujung luar Jawa minggu depan!"
AKP Bagus hanya bisa mengepalkan tinjunya di balik saku celana. Di dalam ruangan yang dingin itu, ia tersadar bahwa musuh paling berbahaya bukan hanya para bandar yang berkeliaran di jalanan kelam, melainkan pengkhianat berseragam yang duduk nyaman di kursi singgasana kekuasaan.
Sementara perang dingin antara polisi idealis dan petinggi korup berkecamuk di markas reskrim, di belahan kota yang lain, Darman tengah melewati detik-detik paling menyiksa dalam hidupnya. Setelah pulang dari rumah Rita dengan membawa amplop cokelat berisi instruksi penyergapan maut, Darman memilih untuk tidak langsung masuk ke dalam rumah barunya.
Ia memarkirkan mobil sedannya di bawah pohon talok yang rindang, beberapa puluh meter dari pagar rumahnya. Darman mematikan mesin mobil, membiarkan dirinya tenggelam dalam kesunyian kabin yang pengap. Lelaki 42 tahun itu menyandarkan keningnya di atas lingkar kemudi. Kedua tangannya yang biasa digunakan untuk menuliskan rumus matematika di papan tulis sekolah kini gemetar hebat, sedingin es.
Dari balik kaca depan mobil yang agak berdebu, mata Darman memandangi teras rumahnya. Di sana, di bawah langit sore Jogja yang mulai meredup jingga, Arka tampak sedang berlari-lari kecil di halaman rumput yang hijau, mengejar mainan mobil remote control barunya dengan tawa yang lepas dan renyah. Suara tawa polos bocah itu samar-samar terdengar sampai ke dalam kabin mobil Darman, menembus kaca, dan langsung menghujam tepat ke ulu hati sang ayah.
Air mata Darman jatuh menetes tanpa bisa ia tahan lagi. Bahunya yang tegap bergetar hebat, tertunduk oleh rasa sedih dan penyesalan yang teramat menghunjam batin.
"Ya Tuhan... apa yang sudah aku lakukan?" rintih Darman dalam bisikan yang serak. Suaranya tercekat di tenggorokan, melahirkan rasa perih yang luar biasa di dadanya.