Matahari pagi di kawasan ring road utara Yogyakarta merayap naik dibalik gumpalan awan kelabu yang tebal, memancarkan cahaya pucat yang enggan menghangatkan bumi. Udara terasa dingin, lembap, dan sarat akan aroma debu jalanan yang mengepul dari deretan truk antarkota. Di tepi jalan lingkar yang agak lengang itu, berdiri sebuah bangunan bekas bengkel las yang mangkrak. Pagar sengnya yang berkarat dan halaman tanahnya yang ditumbuhi rumput liar menjadi tirai yang sempurna untuk menyembunyikan kejahatan di balik semak-semak beton kota.
Darman menghentikan mobil sedan hitamnya di ceruk halaman bengkel yang teduh. Mesin mobil ia biarkan tetap menyala, menciptakan getaran halus yang merambat hingga ke telapak kakinya yang gemetar. Di sampingnya, di atas jok penumpang, tergeletak sebuah tas ransel kain berwarna hitam pekat. Di dalam tas itulah bersemayam paket terakhir milik Rita—dua kilogram sabu kelas satu yang dikemas rapi dalam bungkus teh Cina berwarna hijau emas. Darman menyandarkan kepalanya pada lingkar kemudi. Matanya yang merah dan berair menatap lurus ke arah dinding seng berkarat di depannya. Napasnya memburu, dangkal dan patah-patah. Setiap detak jantungnya terasa seperti dentuman godam yang menghantam rusuknya sendiri. Pria berumur 42 tahun itu berada di puncak titik nadir keputusasaannya.
“Ini yang terakhir, Darman. Setelah ini kamu bebas,” bisikan janji manis Rita terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, namun intuisi batinnya sebagai seorang ayah justru membisikkan hal yang berseberangan: ada aroma maut di tempat ini.
Dari balik saku jaket kulitnya, Darman merogoh ponselnya. Di layar kunci, tampak foto Arka yang tersenyum lebar dengan dua gigi depan yang ompong. Hari ini adalah hari besok lusa yang dijanjikan. Hari di mana ia seharusnya berada di bawah naungan pohon-pohon rindang Kebun Binatang Gembira Loka, tertawa melihat Arka memberi makan rusa, bukan berdiri di dalam sarang penjahat dengan tas berisi racun yang bisa mengurungnya seumur hidup.
"Tunggu Ayah, Nak..." rintih Darman pelan. Air mata yang hangat menetes di atas permukaan layar kaca ponselnya. "Sedikit lagi... Ayah akan pulang."
Tanpa disadari oleh Darman, beberapa ratus meter dari tempatnya berhenti, danger terbesar justru telah mengepungnya dari berbagai penjuru. Di dalam sebuah van komersial berstiker toko bangunan yang terparkir di seberang jalan, dua anggota tim AKP Bagus tengah mengamati pergerakan mobil Darman menggunakan teropong jarak jauh. Di gang-gang sempit tak jauh dari bengkel, empat unit sepeda motor matic yang dikendarai oleh polisi berpakaian preman sudah bersiaga dengan mesin meraung halus.
Meskipun ada oknum yang telah berusaha menghentikan operasi ini demi melindungi dana suap dari Rita, AKP Bagus tidak tinggal diam. Perwira idealis itu melakukan gerakan memutar: ia bergerak tanpa izin tertulis dari sang petinggi, mengerahkan unit kecil yang paling ia percaya untuk melakukan penangkapan secara senyap di lapangan. Bagi Bagus, hukum tidak boleh kalah oleh pangkat dan lembaran uang.
Pukul sembilan pagi tepat, sebuah mobil SUV berwarna putih dengan kaca gelap meluncur pelan masuk ke halaman bengkel. Mobil itu berhenti hanya beberapa meter di samping sedan milik Darman. Pintu depan kiri terbuka, dan sesosok pria berbadan tinggi tegap melangkah keluar. Pria itu adalah Borne. Ia mengenakan kemeja pantai bermotif abstrak yang longgar, kaca mata hitam besar yang menutupi separuh wajahnya, dan sebatang rokok kretek yang terselip di bibirnya. Langkah kakinya santai, namun matanya yang tersembunyi di balik lensa gelap bergerak liar menyapu sekeliling area bengkel.
Darman mematikan mesin sedannya. Ia menyambar tas ransel hitam itu, lalu melangkah keluar. Kakinya terasa seberat timah saat menapak tanah yang becek. Udara panas di luar langsung menyergap wajahnya yang kuyu.
"Darman?" suara Borne terdengar serak, terkesan meremehkan. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan kap mobil.
"Iya. Saya orangnya Mbak Rita," jawab Darman singkat. Suaranya bergetar hebat, tak mampu menyembunyikan ketakutan yang merayapi setiap jengkal sarafnya.
Borne terkekeh pelan, menghembuskan asap rokoknya tepat ke arah wajah Darman. "Rileks, Bro. Kamu kelihatan seperti orang yang mau dieksekusi mati. Mana barangnya?"
Darman mengangkat tas ransel hitam di tangannya, namun ia tidak langsung menyerahkannya. "Uangnya mana? Mbak Rita bilang pembayaran dilakukan secara tunai di tempat."
Borne mengibaskan tangannya malas. Ia berbalik menuju pintu belakang SUV-nya, membuka pintu, dan merogoh sebuah tas travel berukuran sedang. Pria itu melemparkan tas travel tersebut ke atas kap mobil Darman. Zipper tas itu agak terbuka, memperlihatkan tumpukan uang pecahan seratus ribu yang diikat rapi dengan karet gelang.
"Dua miliar rupiah. Pas. Tidak kurang satu rupiah pun," ucap Borne dingin. "Sekarang serahkan tas itu."
Darman mengulurkan tas ransel hitamnya. Pada detik ketika jemari Borne menyentuh tali tas tersebut—sebuah Momen di mana transaksi haram itu secara hukum dianggap selesai—suara raungan sirine dan dentuman ban yang direm mendadak memecah keheningan jalanan ring road!
Ckiiiiiikkk!
Pagar seng bekas bengkel las dihantam dengan keras dari luar! Sebuah van putih menerobos masuk, memuntahkan debu dan serpihan seng. Dari balik van dan pintu gerbang yang roboh, belasan pria berpakaian preman dengan rompi anti-peluru dan senjata api terkokoh melompat keluar dengan cepat.
"POLISI! JANGAN BERGERAK! ANGKAT TANGGAN!" jeritan AKP Bagus menggelegar di seluruh penjuru bengkel.
Pemandangan itu terjadi begitu cepat, layaknya kilatan petir di siang bolong. Wajah Borne seketika pucat pasi. Tanpa memikirkan uang atau barang bukti, pria tinggi tegap itu refleks melempar tas ransel ke tanah dan merogoh sesuatu dari balik pinggangnya—sebuah senpi rakitan jenis revolver!
DOORRR!
Tembakan peringatan polisi membumbung ke udara. Borne membalas tembakan itu secara asal-asalan sembari melompat kembali ke dalam SUV-nya. Sopir SUV yang sudah bersiaga langsung menginjak gas dalam-dalam, membuat ban mobil memercikkan kerikil dan melesat kabur menabrak sisa gerbang seng, meloloskan diri dalam kekacauan yang mendadak terjadi.