Sementara sirene mobil polisi meraung-raung membawa Darman menuju sel tahanan dan tangisan histeris Arka masih bergema di sudut Kebun Binatang Gembira Loka, sebuah drama lain—yang jauh lebih dingin dan penuh intrik—sedang berlangsung di kawasan elit Yogyakarta.
Satu jam sebelum penggerebekan tragis di kebun binatang, matahari siang memancarkan terik yang menusuk di atas kediaman mewah milik Rita. Rumah bergaya modern minimalis dengan dinding kaca tembus pandang dan pagar besi tempa setinggi tiga meter itu berdiri dengan anggun, seolah tidak tersentuh oleh kekacauan yang baru saja terjadi di ring road utara.
Namun, di dalam ruangan kerja berpendingin udara di lantai dua rumah tersebut, atmosfernya jauh dari kata tenang. Rita berdiri di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni mahal. Baju gaun sutra mewahnya telah berganti dengan pakaian serba hitam yang ringkas: celana jeans ketat, jaket kulit tebal, dan kacamata hitam yang terselip di lehernya. Di atas meja, dua buah koper rimowa ukuran besar terbuka lebar, memamerkan tumpukan uang tunai mata uang asing—Dolar Amerika dan Dolar Singapura—serta beberapa paspor dengan identitas yang berbeda-beda.
Ponsel khusus berenkripsi milik Rita yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat. Layarnya menyala tanpa menampilkan nama pemanggil, hanya deretan angka acak yang tersamarkan.
Rita menyambar ponsel itu dengan gerakan cepat. "Halo?"
"Pindahkan dirimu sekarang juga, Rita!" suara di ujung telepon terdengar berat, dalam, dan dipenuhi kecemasan yang ditahan. Suara itu tidak asing—suara khas milik seorang lelaki yang sangat dihafal oleh Rita.
Rita memutar bola matanya, menghembuskan napas pendek yang sarat akan kekesalan. "Ada apa lagi, Hermawan? Bukankah kamu sudah janji akan menghentikan timnya Bagus?"
"Bagus membangkang!" potong lelaki yang ternyata bernama Hermawan dengan nada membentak namun ditekankan sekecil mungkin agar tidak terdengar luar. "Lelaki idealis bodoh itu membawa unit kecilnya bergerak sendiri tanpa izin resminya dari saya! Operasi di ring road kacau. Borne melarikan diri, tapi si kurir lokal—Darman—lolos dan saat ini sedang diburu. Bagus sudah mengantongi alamat rumah singgahmu di Jogja dan surat perintah penggeledahan darurat sedang ditandatangani oleh Pengadilan Negeri!"
Wajah cantik Rita seketika membeku. Senyuman culas yang biasa menghiasi bibirnya runtuh sepenuhnya. "Berapa banyak waktu yang aku punya?"
"Kurang dari tiga puluh menit," jawab Hermawan dingin. "Anak buah Bagus sudah dalam perjalanan menuju kompleks perumahanmu. Saya sudah memerintahkan petugas gerbang depan kompleks untuk menahan mobil mereka dengan alasan pemeriksaan identitas dan prosedur keamanan, tapi itu tidak akan lama. Mobil pengawal pribadi yang saya atur sudah menunggu di pintu belakang kompleks. Kamu harus keluar dari Jogja detik ini juga."
Rita mengepalkan tangannya. "Bagaimana dengan sisa asetku di rumah ini?"
"Lupakan aset murahan itu jika kamu tidak ingin membusuk di penjara seumur hidupmu!" tegas Hermawan. "Dua jam lagi ada penerbangan privat jet charter dari Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) menuju Singapore, dilanjutkan ke Bangkok. Dokumen perjalanan barumu atas nama 'Siska Wijaya' sudah ada di tangan kapten pilot. Cepat bergerak!"
Panggilan telepon terputus. Rita membanting ponsel enkripsi itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping, lalu memijak serpihan kacanya dengan tumit sepatu botnya.
Ia meraih dua koper rimowa yang berisi uang dan paspor palsu, lalu menutupnya dengan ketukan kunci kombinasi yang keras. Dengan langkah tergesa-gesa, perempuan yang dikenal sebagai Ratu Sabu itu melangkah keluar dari ruangan kerjanya, meninggalkan kemewahan rumah singgahnya yang sebentar lagi akan digulung oleh hukum.
Di lorong belakang perumahan elit yang sepi dan tersembunyi dari jangkauan kamera CCTV utama, sebuah mobil van hitam bertinta kaca pekat terparkir dengan mesin menyala halus. Di dalam kabin pengemudi, duduk seorang pria berbadan tegap dengan potongan rambut papras rapi—seorang anggota intelijen gadungan yang sebenarnya merupakan anak buah kepercayaan Hermawan yang dibayar mahal dari dana taktis jaringan Rita.
Pintu besi rahasia yang menghubungkan area servis rumah Rita dengan gang belakang terbuka perlahan. Rita muncul dengan menyeret dua kopernya. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang membakar dada. Bagi wanita seperti Rita, melarikan diri bagaikan seekor tikus adalah penghinaan terbesar bagi harga dirinya. Namun, logikanya menyadari bahwa bertahan di Jogja berarti bunuh diri.
Pria di dalam van segera keluar, menyambar dua koper milik Rita dan melemparkannya ke bagasi belakang.
"Ibu Rita, silakan masuk. Kita punya waktu dua belas menit sebelum tim Reskrim menerobos gerbang," kata pria itu dengan suara datar tanpa ekspresi.
Rita melompat masuk ke dalam kabin tengah van yang empuk. Pintu geser otomatis menutup rapat, mengisolasi kabin dari suara luar. Van hitam itu langsung melaju pelan meninggalkan lokasi, menyusuri jalan-jalan pemukiman yang sepi, menjauh dari jalan utama tempat tim AKP Bagus akan melintas.