Jangan Panggil Aku Bapak

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #17

Rumah

Sepuluh tahun adalah kurun waktu yang cukup panjang untuk mengubah wajah sebuah kota, membunuh ingatan orang-orang, dan meremukkan tubuh seorang manusia. Bagi Darman, sepuluh tahun di balik dinding semen yang dingin dan jeruji besi yang dingin tak ubahnya seperti sepuluh abad di dalam neraka yang sunyi. Hari ini, pintu gerbang besi Lapas akhirnya terbuka lebar untuknya. Langkah kaki lelaki yang kini genap berumur 52 tahun itu menapak di atas aspal jalanan dengan canggung, seolah bumi tempatnya berpijak sudah bukan lagi milik dunia yang ia kenali.

Tubuh Darman kini tampak kurus, raut wajahnya terlihat cekung dan kuyu, kehilangan separuh dari kegagahan fisiknya yang dulu tegap. Rambutnya yang dulu hitam legam kini telah memutih sepenuhnya, memancarkan warna kelabu yang kusam. Kumis dan berewoknya dibiarkan tumbuh lebat serta menebal di sekitar dagu dan pipinya, menyamarkan garis-garis pipinya yang makin tirus dan keriput mendalam di sudut mata. Hanya sepasang mata cokelatnya yang redup—mata seorang pendosa yang telah meminum habis cawan penyesalannya. Dengan menyangklong sebuah tas kain kusam berisi beberapa helai pakaian lama, Darman berjalan gontai menyusuri jalanan kampung menuju rumahnya.

Suasana siang itu sunyi. Beberapa warga melintas di sampingnya—tetangga-tetangga lama yang dulu kerap menyapanya—namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengenali sosok lelaki tua berpenampilan kusam tersebut. Pandangan orang-orang hanya berlalu begitu saja, menganggapnya tak ubahnya seorang pengembara atau gelandangan tua yang tersesat. Ada rasa perih yang menyayat di dada Darman melihat kenyataan itu, namun di saat yang sama, ia merasa bersyukur. Paling tidak, ia tidak perlu melihat kembali tatapan jijik atau cibiran dari orang-orang yang mengenali masa lalunya sebagai seorang napi narkoba.

Langkah kakinya mendadak terhenti ketika ia sampai di depan sebuah pintu pagar besi. Di depannya, berdiri rumah baru yang sepuluh tahun lalu ia renovasi dengan uang haram. Rumah itu masih terlihat kokoh dan berdiri anggun, meski warna cat dindingnya mulai memudar dimakan cuaca. Suasana rumah itu terasa begitu sepi dan lengang, namun di balik kesunyiannya, ada kehangatan kecil yang terpancar. Halamannya tampak sangat bersih, disapu rapi tanpa ada sehelai daun kering pun yang berserakan. Di tepi pagar, deretan bunga mawar, krisan, dan pucuk merah tumbuh dengan asri dan terawat, memancarkan warna-warni yang kontras dengan kekusaman jiwa Darman.

Darman berdiri mematung di luar pagar. Tangannya yang gemetaran dan dipenuhi urat-urat menonjol perlahan mendorong pintu pagar yang tidak dikunci. Langkah kakinya membawa tubuh renta itu menaiki dua anak tangga teras.

Ia berdiri tepat di depan pintu kayu jati yang tertutup rapat.

Dada Darman bergemuruh hebat, rasanya seperti ingin meledak. Rasa kangen yang membuncah selama sepuluh tahun—rindu akan aroma tubuh anaknya, rindu akan tawa renyah Arka—kini menghantam dinding batinnya tanpa ampun. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, rasa malu yang teramat sangat menahannya. Rasa bersalah yang meremukkan.

Apakah aku masih layak disebut bapak? tanyanya pada diri sendiri dalam bisikan batin yang hancur. Lelaki yang meninggalkan anaknya di kebun binatang demi borgol polisi... apakah masih pantas menginjakkan kaki di rumah ini?

Tangan kanan Darman yang gemetar terangkat pelan, melayang beberapa senti di depan permukaan kayu pintu. Ia ingin mengetuk, namun tangannya terasa seberat gunung batu. Air mata hangat mulai menggenang di pelupuk matanya yang kuyu. Ia merasa seperti seorang asing yang tidak berhak menuntut kasih sayang dari jiwa yang telah ia lukai sepuluh tahun lalu.

Tepat ketika Darman hendak menarik kembali tangannya dan berbalik lari karena tak sanggup menahan gumpalan malu, terdengar suara langkah kaki yang menapak santai di atas paving blok dari arah samping rumah.

"Cari siapa, Pak?"

Suara itu terdengar berat, dalam, namun sarat akan kepolosan khas anak muda.

Darman tersentak. Ia refleks membalikkan tubuhnya yang kaku.

Lihat selengkapnya