Blurb
Bagi Arbi, setiap kata yang keluar dari mulut Bima, ayahnya, tak lebih dari sekadar dongeng usang dan janji-janji kosong. Sebagai putra sulung, ia muak melihat ayahnya terus bersandiwara tentang kejayaan fiktif di tengah gubuk mereka yang mulai lapuk. Kebencian Arbi tumbuh subur di antara tumpukan dusta yang ia yakini sebagai bentuk ketidakmampuan seorang kepala keluarga.
Namun, sebuah kotak kayu di sudut gudang yang berdebu mengubah segalanya.
Satu per satu rahasia mulai tersingkap. Di balik bualan yang Arbi benci, ternyata tersimpan sebuah pengorbanan yang tak pernah terbayangkan. Arbi tersadar bahwa setiap kebohongan ayahnya adalah tameng yang melindungi mereka dari kejamnya realita, meski harus dibayar dengan setiap sisa napas sang ayah.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah permintaan maaf Arbi masih memiliki waktu untuk sampai ke telinga pahlawan yang terlanjur ia hakimi?
Sebuah kisah tentang prasangka, rahasia di balik meja makan, dan penyesalan yang datang saat segalanya telah menjadi debu.