Jangan Percaya Kata Ayah

Bilsyah Ifaq
Chapter #1

Bayang-Bayang di Meja Makan

Arbi mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja kayu yang sudah mulai lapuk, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan setiap kali rasa sangsi mulai menggerogoti benaknya. Di sudut ruang tamu yang remang itu, ia menatap punggung ayahnya, Bima, yang tengah asyik bercerita tentang masa mudanya yang penuh kejayaan fiktif. Aroma kopi tubruk yang tajam memenuhi udara, namun bagi Arbi, bau itu kini terasa menyesakkan karena setiap hirupannya seolah membawa aroma kepalsuan yang semakin pekat menyelimuti rumah sederhana mereka.

Setiap kalimat yang keluar dari bibir Bima terdengar seperti dongeng yang disusun terburu-buru, penuh dengan detail yang tidak konsisten dari waktu ke waktu. Arbi sering kali hanya bisa membuang muka, menatap retakan di dinding sambil memutar-mutar kancing bajunya yang longgar, sebuah gestur yang menunjukkan betapa ia ingin segera pergi dari sana. "Logikanya tidak masuk akal, Ayah," batinnya dalam diam, sementara ia tetap menjaga wajahnya tetap datar tanpa ekspresi agar tidak memicu perdebatan yang melelahkan di depan adik-adiknya.

Jarak emosional itu tidak tumbuh dalam semalam, melainkan melalui tumpukan kebohongan kecil yang Ayah anggap sebagai bumbu pembicaraan, namun bagi Arbi itu adalah pengkhianatan terhadap kejujuran. Saat Bima mengaku telah memenangkan penghargaan yang tak pernah ada buktinya, Arbi hanya bisa mendengus pelan sambil memperbaiki letak kacamatanya yang melorot. Ia adalah anak sulung yang cerdas, dan baginya, fakta adalah segalanya, sehingga perilaku ayahnya yang gemar membual terasa seperti penghinaan terhadap kecerdasan yang selama ini ia banggakan.

Di tengah kesederhanaan hidup mereka yang serba terbatas, Arbi merasa harga dirinya terluka setiap kali tetangga menatap mereka dengan tatapan kasihan setelah mendengar cerita muluk dari ayahnya. Ia lebih memilih untuk menyimpan semua prestasi sekolahnya di dalam tas, enggan membagikannya kepada sosok yang ia anggap tidak memiliki integritas untuk menghargai sebuah pencapaian nyata. Baginya, kebohongan ayahnya bukan sekadar pelarian dari kemiskinan, melainkan dinding tebal yang memisahkan rasa hormat seorang anak dari kasih sayang tulus seorang orang tua.

Ketegangan itu memuncak ketika suatu sore Bima menjanjikan sebuah hadiah mewah yang jelas-jelas tidak sanggup ia beli dengan upah buruhnya yang pas-pasan. Arbi hanya bisa memilin ujung lengan bajunya dengan kencang, menahan amarah yang mendidih di balik dadanya yang sesak. "Jangan percaya kata Ayah," bisiknya dalam hati dengan nada yang dingin dan penuh kepastian, sebuah keputusan batin yang akan mengubah seluruh cara pandangnya terhadap sosok laki-laki yang seharusnya menjadi pahlawan pertamanya itu.

Ia mulai menarik diri dari setiap percakapan di meja makan, lebih memilih untuk tenggelam dalam buku-buku pelajarannya daripada mendengarkan bualan yang terasa seperti sampah di telinganya. Arbi tidak menyadari bahwa di balik kebohongan-kebohongan yang ia benci itu, ada punggung yang semakin membungkuk karena beban hidup yang tak pernah dikeluhkan secara jujur. Baginya saat ini, ayahnya hanyalah seorang pria lemah yang memilih untuk bersembunyi di balik kata-kata indah daripada menghadapi kenyataan pahit yang mereka jalani setiap hari.

Kekecewaan itu mengkristal menjadi sebuah tembok es yang membuat suasana rumah mereka terasa asing, meski mereka masih bernapas di bawah atap yang sama. Arbi berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah menjadi seperti ayahnya, seorang laki-laki yang ia anggap gagal karena tidak mampu berdiri di atas kebenaran. Tanpa ia ketahui, rahasia besar yang disimpan rapat oleh Bima sebentar lagi akan terkuak, namun saat itu terjadi, semua kata maaf mungkin sudah tidak lagi memiliki telinga untuk mendengarnya.

Cahaya matahari yang pucat menyusup melalui celah-celah ventilasi rumah kayu mereka, menerangi butiran debu yang menari di atas meja makan yang sudah kusam. Arbi duduk mematung sambil menggenggam pinggiran kursi kayu yang kasar, matanya tertuju pada sosok Bima, ayahnya, yang sedang menyesap kopi hitam dengan uap yang mengepul tipis. Aroma kopi yang pahit dan tajam memenuhi ruangan sempit itu, berbaur dengan bau tanah basah dari halaman depan yang baru saja diguyur hujan semalam.

Bima meletakkan gelasnya dengan denting pelan yang terasa nyaring di telinga Arbi yang sensitif. Wajah ayahnya yang dipenuhi garis-garis kelelahan itu tiba-tiba merekah dalam sebuah senyuman lebar, jenis senyum yang selalu membuat Arbi merasa ada sesuatu yang tidak beres. Bima kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah-olah ingin membagikan sebuah rahasia besar yang akan mengubah hidup mereka selamanya, meski Arbi sudah terlalu sering mendengar nada suara seperti itu sebelumnya.

"Arbi, kalau nanti namamu disebut sebagai juara umum di sekolah, Ayah sudah menyiapkan kejutan besar," ucap Bima dengan nada bicara yang melompat-lompat penuh semangat, khas bicaranya saat sedang menjanjikan sesuatu yang mustahil. "Sepeda balap warna merah yang kamu lihat di toko depan pasar itu? Ayah akan membawanya pulang untukmu sebagai hadiah atas kerja kerasmu selama ini, Nak. Ayah janji, kali ini tidak akan meleset."

Arbi tidak langsung menjawab, melainkan hanya menunduk sambil memainkan ujung kemeja sekolahnya yang sudah mulai menguning. Matanya tanpa sengaja menangkap pemandangan di sudut meja, di mana dompet kulit milik Bima yang sudah pecah-pecah tergeletak begitu saja dengan kondisi menganga. Dompet itu tampak sangat tipis, hampir rata dengan permukaan meja, hanya menyisakan beberapa lembar uang ribuan yang lusuh dan tumpukan struk tagihan listrik yang belum terbayar berbulan-bulan.

Pemandangan itu memicu sebuah kebiasaan lama dalam diri Arbi; dia mulai mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja dengan ritme yang cepat dan tidak beraturan. Ini adalah gestur yang selalu muncul setiap kali dia merasa muak dengan kata-kata manis ayahnya yang tidak pernah memiliki dasar kenyataan. Baginya, janji tentang sepeda merah itu hanyalah bualan kosong lainnya yang sengaja ditiupkan Bima untuk menutupi ketidakberdayaan ekonomi yang mencekik leher keluarga mereka setiap harinya.

"Ayah tidak perlu repot-repot, aku bisa jalan kaki seperti biasanya," sahut Arbi dengan nada datar dan dingin, sebuah pola bicara pendek yang selalu dia gunakan untuk memutus harapan palsu. Keputusan Arbi untuk meremehkan setiap ucapan ayahnya sudah menjadi mekanisme pertahanan diri yang permanen sejak dia menyadari bahwa kebohongan adalah napas kedua bagi Bima. Dia lebih memilih untuk tidak berekspektasi daripada harus jatuh dari ketinggian harapan yang diciptakan oleh seorang pemimpi tanpa modal.

Ketegangan di ruang makan itu semakin memuncak ketika Arafa, ibunya, masuk membawa piring berisi singkong rebus sambil menghindari kontak mata dengan mereka berdua. Arbi bisa merasakan beban emosional yang berat di bahu ibunya, yang selama ini hanya diam menyaksikan drama janji-janji surga dari suaminya. Arbi mengepalkan tangannya di bawah meja, merasakan kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga perih, sebuah pengingat nyata bahwa realitas mereka jauh dari kata sejahtera.

Tiba-tiba, suara pintu depan yang digedor dengan kasar memecah keheningan yang canggung tersebut, membuat Bima tersentak hingga kopinya tumpah sedikit ke meja. "Bima! Keluar kamu! Jangan sembunyi terus soal utang koperasi!" teriak sebuah suara parau dari luar yang membuat wajah Bima seketika memucat pasi. Arbi menatap ayahnya dengan tatapan yang penuh dengan penghinaan, melihat bagaimana sosok laki-laki yang baru saja menjanjikan kemewahan itu kini gemetar ketakutan menghadapi penagih utang.

Bima mencoba berdiri sambil memaksakan tawa kecil yang terdengar sangat menyedihkan di telinga Arbi, seolah-olah gedoran itu hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti. "Ah, itu pasti teman Ayah yang mau mampir sebentar, Arbi, jangan khawatirkan itu," ucap Bima dengan suara yang bergetar hebat, masih berusaha mempertahankan topengnya di depan sang putra sulung. Namun, Arbi tidak bergeming sedikit pun, dia tetap duduk dengan punggung tegak, membiarkan kebenciannya terhadap kebohongan ayahnya mengkristal menjadi sesuatu yang tajam.

Ledakan amarah yang selama ini dipendam Arbi akhirnya pecah saat dia berdiri dengan kasar hingga kursi kayunya terjungkal ke belakang dan menimbulkan suara dentum yang keras. "Berhenti berbohong, Yah! Berhenti bicara seolah-olah kita punya segalanya padahal untuk makan besok saja Ayah harus meminjam lagi!" teriak Arbi dengan suara yang pecah oleh emosi yang meluap-luap. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena rasa malu yang luar biasa memiliki seorang ayah yang lebih memilih hidup dalam ilusi daripada menghadapi kenyataan pahit.

Bima terdiam seribu bahasa, tangannya yang memegang pinggiran meja tampak bergetar lebih hebat dari sebelumnya, sementara teriakan di luar rumah semakin menjadi-jadi. Arbi tidak menunggu jawaban lagi, dia menyambar tas sekolahnya yang kusam dan melangkah lebar menuju pintu belakang, menghindari konfrontasi lebih jauh yang hanya akan menyakiti hatinya. Dia bersumpah dalam hati bahwa dia tidak akan pernah menjadi seperti ayahnya, seorang laki-laki yang hanya besar di kata-kata namun kerdil dalam tindakan nyata.

Langkah kaki Arbi yang menghentak keras di atas tanah becek menjadi latar suara bagi badai batin yang sedang berkecamuk di dalam dadanya yang terasa sesak. Dia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, mengabaikan panggilan lirih ibunya yang mencoba menenangkannya dari kejauhan yang kian meredup. Baginya, setiap kata yang keluar dari mulut Bima adalah racun yang harus dia hindari agar dia bisa tetap waras di tengah kemiskinan yang menyiksa dan kepalsuan yang menyesakkan.

Di bawah naungan langit mendung yang seolah ikut merasakan kepahitannya, Arbi menyimpan sebuah rahasia kecil yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat dari semua orang. Dia telah menemukan sebuah berkas usang di kolong tempat tidur ayahnya semalam, sebuah dokumen medis yang menyatakan bahwa jantung Bima sudah tidak lagi berfungsi dengan normal.

Namun, ego masa muda Arbi yang terluka membuatnya memilih untuk menganggap dokumen itu sebagai bagian dari sandiwara panjang ayahnya untuk mendapatkan simpati, tanpa menyadari bahwa waktu yang tersisa untuk mereka berdua sebenarnya sedang berdetak menuju titik nol yang mematikan.

Lihat selengkapnya