Hujan deras menghantam atap seng rumah petak mereka, menciptakan kebisingan yang meredam suara isak tangis di balik pintu kamar utama. Arbi berdiri mematung di lorong gelap, jemarinya terus-menerus memutar kancing kemeja sekolahnya yang mulai menguning. Kebiasaan itu selalu muncul setiap kali ia mencium bau rokok murah dan sisa kopi pahit dari arah ruang tamu, tempat ayahnya, Bima, duduk bersandar sambil memijat kening. Arbi tahu ada yang tidak beres, meski ayahnya baru saja tersenyum lebar dan mengaku baru saja mendapat bonus besar dari pabrik.
"Cuma masalah kecil di kantor, Bi, jangan dipikirkan," suara Bima terdengar parau dari balik kepulan asap. Arbi hanya mendengus pelan, sebuah respon sinis yang menjadi ciri khasnya setiap kali ia merasa ayahnya sedang mengarang cerita. Sebagai anak sulung yang mewarisi kecerdasan ibunya, Arafa, Arbi memiliki insting tajam untuk mendeteksi ketidaksesuaian antara kata-kata manis ayahnya dengan tumpukan tagihan listrik yang ia temukan tersembunyi di bawah taplak meja makan beberapa hari yang lalu.
Malam itu, Arbi melihat adiknya, si bungsu yang masih kecil, merengek meminta buku gambar baru untuk tugas sekolah besok pagi. Arbi memperhatikan bagaimana tangan ayahnya gemetar saat merogoh saku celana yang tampak kosong, namun sang ayah tetap bersikeras bahwa semuanya terkendali. "Besok Ayah belikan yang paling bagus, ya?" janji Bima dengan nada yang dibuat-buat ceria. Arbi memalingkan wajah, merasa muak dengan sandiwara yang terus dipentaskan di hadapan adik-adiknya yang masih sangat polos dan mudah percaya.
Keputusan Arbi untuk tidak lagi meminta uang saku menjadi bias keputusan yang ia ambil secara sepihak, sebuah bentuk protes sekaligus perlindungan bagi adik-adiknya. Ia mulai menyisihkan waktu setelah sekolah untuk membantu tetangga mengangkut barang di pasar, demi beberapa lembar ribuan yang bisa ia gunakan untuk membelikan susu bagi adiknya. Baginya, kejujuran adalah mata uang yang paling berharga, dan ayahnya telah lama bangkrut dalam hal itu, meninggalkan Arbi untuk memikul beban sebagai kepala keluarga bayangan di usia yang masih sangat muda.
Suasana memuncak ketika Arbi mendapati ibunya sedang menghitung koin di dapur dengan mata sembab yang berusaha disembunyikan. Arbi tidak tahan lagi; ia melangkah masuk ke ruang tamu dan membanting tas sekolahnya ke lantai kayu yang rapuh. "Berhenti berbohong, Yah! Kita tidak punya apa-apa lagi, kan?" teriaknya dengan suara yang pecah oleh amarah dan kekecewaan. Bima hanya terdiam, wajahnya tampak menua sepuluh tahun dalam sekejap, sementara Arbi merasakan dadanya sesak oleh kebencian yang ia anggap sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Ketegangan itu menyisakan lubang besar dalam hubungan mereka, di mana Arbi menganggap setiap gerak-gerik ayahnya hanyalah upaya pengecut untuk menutupi kegagalan. Ia bersumpah dalam hati tidak akan pernah menjadi seperti laki-laki di hadapannya itu, yang terus tersenyum di tengah badai kehancuran finansial yang nyata. Tanpa Arbi sadari, setiap kebohongan yang ia benci sebenarnya adalah perisai terakhir yang dibangun sang ayah agar anak-anaknya tidak perlu merasakan pahitnya dunia sebelum waktunya tiba.
Pagi berikutnya, Arbi menemukan sebuah buku gambar baru terletak di atas meja belajar adiknya, lengkap dengan sekotak krayon yang masih tersegel plastik. Ia tahu ayahnya pasti telah mengorbankan sesuatu yang sangat berharga untuk membelinya, mungkin jatah makannya sendiri atau bahkan jam tangan tua peninggalan kakek. Namun, kesombongan masa muda membuat Arbi tetap membisu, membiarkan keheningan dingin membeku di antara mereka, tanpa menyadari bahwa waktu untuk meminta maaf sedang berdetak menuju akhir yang tak terduga.
Logam lima ratusan berdenting nyaring saat menghantam dasar celengan tanah liat yang mulai terasa berat. Arbi mengatur napasnya yang memburu, jemarinya yang lincah menyusun kepingan koin itu menjadi menara-menara kecil di atas lantai semen yang dingin. Setiap denting adalah pengingat bahwa hanya angka-angka nyata inilah yang bisa ia pegang, jauh lebih meyakinkan daripada rentetan bualan Bima tentang promosi jabatan yang selalu berakhir menjadi sekadar angin lalu di meja makan.
Mata Arbi menyipit, fokusnya tidak teralihkan sedikit pun oleh suara tawa ayahnya yang terdengar dari ruang tamu, menceritakan proyek besar khayalan kepada tetangga. Baginya, setiap rupiah yang ia kumpulkan dari hasil mengajar les matematika adalah benteng pertahanan terakhir bagi martabat keluarganya. Ia tidak akan membiarkan Rian, adiknya yang pendiam, harus menunduk malu di sekolah hanya karena seragam olahraga yang sudah robek di bagian ketiak dan memudar warnanya.
"Jangan khawatir, Bi, bulan depan Ayah belikan yang paling mahal untuk kalian semua," pungkas suara itu dari luar.
Arbi hanya mendengus pelan, sebuah kebiasaan yang muncul tiap kali janji-janji manis itu meluncur dari bibir pria yang seharusnya ia teladani. Ia segera memasukkan kembali uangnya ke dalam laci terkunci, sebuah keputusan yang didasari oleh ketidakpercayaan yang sudah mengakar kuat. Baginya, lebih baik bergerak dalam diam daripada berharap pada keajaiban yang dijanjikan oleh seorang pria yang bahkan tidak mampu memperbaiki atap dapur yang bocor selama berbulan-bulan.
Ketegangan di dadanya meningkat saat pintu kamar berderit terbuka, menampilkan sosok Bima yang tersenyum lebar dengan aroma rokok murahan yang melekat di bajunya. Arbi tidak membalas senyum itu; ia justru menyibukkan diri dengan buku-buku kalkulusnya, menciptakan jarak yang tak kasat mata namun sangat terasa menyesakkan. Kecewa yang bertahun-tahun ia pendam kini telah mengkristal menjadi kemandirian yang dingin dan tajam, sebuah pedang yang ia gunakan untuk memotong semua ketergantungan pada sosok kepala keluarga.
Suasana mendadak meledak ketika Bima mencoba menyentuh bahu putra sulungnya itu, sebuah gestur akrab yang justru memicu amarah Arbi hingga ke puncak kepala. Arbi menyentak tangan ayahnya dengan kasar, membuat beberapa buku di meja terjatuh berantakan ke lantai yang kusam. "Simpan saja tangan itu untuk menghitung uang khayalanmu, Yah, karena Rian butuh seragam nyata, bukan cerita tentang kejayaan yang tidak pernah ada!" teriaknya dengan suara bergetar yang memecah keheningan malam.
Bima terpaku, wajahnya memucat di bawah temaram lampu bohlam kuning, sementara
Arbi berdiri tegak dengan napas yang memburu dan mata yang menyala penuh kebencian. Tidak ada lagi ruang untuk basa-basi atau kepura-puraan di antara mereka, hanya ada kebenaran pahit yang kini terhampar luas di antara tumpukan koin dan harga diri yang terluka. Malam itu menjadi saksi bisu bagaimana seorang anak laki-laki secara resmi menyatakan perang terhadap kebohongan yang selama ini menyelimuti rumah mereka dengan kabut ketidakpastian.
Arbi mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke pinggiran meja kayu yang sudah mulai lapuk, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali amarahnya mulai mendidih di balik dada. Di hadapannya, sepotong tempe orek yang dingin tampak menyedihkan di atas piring seng yang sudah mengelupas catnya di beberapa bagian. Aroma kecap yang samar tidak mampu menutupi bau apek dari sudut ruangan yang lembap, menciptakan suasana mencekam yang seolah mencekik tenggorokan remaja cerdas itu setiap kali waktu makan tiba.
"Makanlah, Arbi. Ibu masak tempe orek kesukaanmu," suara Arafa terdengar parau, seolah ada gumpalan pasir yang menyumbat pita suaranya setelah seharian mencuci baju tetangga. Wanita itu mencoba mengulas senyum, namun kerutan di sudut matanya tidak bisa berbohong tentang rasa lelah yang menghunjam tulang. Arbi hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap piringnya dengan tatapan kosong, merasakan getaran ketidaksukaan yang semakin kuat terhadap dinding-dinding rumah yang seolah merunduk lesu.
Arbi mengamati tangan ibunya yang gemetar saat memindahkan potongan tempe terakhir ke piring si bungsu, sementara piring milik Arafa sendiri hanya menyisakan butiran nasi putih tanpa pendamping. "Aku tidak lapar, Bu. Tadi di sekolah sudah makan banyak," bohong Arbi sambil menggeser piringnya menjauh, sebuah keputusan yang selalu ia ambil meski perutnya melilit perih karena lapar. Ia tidak tahan melihat sandiwara pengorbanan ini, sebuah rutinitas memuakkan yang menurutnya berakar dari ketidakmampuan sang kepala keluarga.
Di sudut ruangan, Bima baru saja meletakkan tas selempangnya yang dekil dengan napas yang sedikit tersengal seolah baru saja berlari dari kejaran sesuatu yang tak terlihat. "Ayah sudah makan di bengkel tadi, banyak sisa nasi kotak dari pelanggan yang baik hati," ucap Bima dengan nada riang yang terdengar sangat dipaksakan di telinga Arbi. Arbi mendengus pelan, ia tahu benar bahwa ayahnya hanya membual untuk menutupi fakta bahwa dompetnya mungkin sedang kosong melompong tanpa sepeser pun uang tersisa.
Kebohongan-kebohongan kecil itu menumpuk dalam benak Arbi seperti sampah yang tidak pernah dibersihkan, menciptakan gunung prasangka yang menjulang tinggi terhadap sosok laki-laki di hadapannya. "Pelanggan mana yang memberikan nasi kotak di bengkel tambal ban pinggir jalan, Yah?" tanya Arbi dengan nada sarkasme yang tajam, matanya menatap lurus ke dalam manik mata ayahnya. Bima hanya terdiam sebentar, lalu tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya, sebuah gestur yang bagi Arbi adalah tanda mutlak dari sebuah kepalsuan yang payah.
Ketegangan di meja makan itu semakin memuncak ketika Arbi membanting sendoknya ke atas piring seng hingga menimbulkan bunyi dentang yang memekakkan telinga di ruang sempit itu. Ia berdiri dengan kasar, membuat kursi kayu di bawahnya berderit protes, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun kepada adik-adiknya yang ketakutan. Baginya, setiap kata yang keluar dari mulut Bima adalah racun manis yang dirancang untuk menidurkan kenyataan pahit bahwa mereka hidup dalam kemiskinan yang memalukan.
Malam itu, hujan turun dengan deras, membasahi atap seng yang bocor dan memaksa Arafa sibuk menaruh ember di sana-sini untuk menampung tetesan air yang jatuh. Arbi berdiri di ambang pintu kamar, melihat ayahnya yang dengan sigap memanjat tangga bambu tua untuk memeriksa bagian atap yang paling parah bocornya. "Hati-hati, Yah, nanti jatuh," teriak Arafa cemas, namun Bima hanya membalas dengan jempol yang diangkat tinggi-tinggi, seolah-olah semuanya berada dalam kendali penuh tangannya.
Arbi memalingkan wajah, merasa muak dengan kepahlawanan palsu yang coba ditunjukkan oleh ayahnya di tengah badai yang melanda gubuk kecil mereka yang rapuh. Ia selalu merasa bahwa kecerdasannya adalah sebuah kutukan karena ia bisa melihat melampaui senyum Bima, melihat kegagalan yang disembunyikan di balik lelucon hambar. Dalam pikirannya, seorang laki-laki sejati seharusnya mampu memberikan atap yang kokoh, bukan sekadar menjadi penambal lubang yang akan bocor lagi saat hujan berikutnya tiba.
Beberapa bulan kemudian, sebuah surat dari sekolah tiba, menyatakan bahwa Arbi mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikan ke universitas ternama di ibu kota. Alih-alih merasa bangga, Arbi justru merasa terbebani karena ia tahu ayahnya akan kembali membual tentang bagaimana ia sudah menyiapkan tabungan rahasia untuk biaya hidupnya. "Jangan khawatir, Bi. Ayah sudah menabung di bawah bantal sejak kamu lahir," canda Bima malam itu sambil menepuk-nepuk bahu putra sulungnya dengan bangga.
Arbi menepis tangan ayahnya dengan kasar, kemarahan yang selama ini dipendamnya akhirnya meledak seperti gunung berapi yang sudah lama tertidur di dasar jiwanya yang kelam. "Cukup, Yah! Berhenti membohongi kami semua dengan cerita-cerita kosongmu itu karena aku tahu Ayah tidak punya apa-apa!" teriak Arbi dengan suara yang menggelegar. Bima tertegun, tangannya menggantung di udara, sementara matanya menunjukkan kilatan luka yang sangat dalam, sebuah luka yang belum pernah Arbi lihat sebelumnya selama hidupnya.