Arbi mengetukkan jemarinya pada meja kayu yang sudah mulai lapuk di sudut kamar, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat sedang menghitung angka-angka di buku tabungan rahasianya. Matanya yang tajam menatap tumpukan tagihan listrik dan air yang sudah terbayar, namun ia sengaja membiarkan amplop kosongnya tergeletak di meja ruang tamu agar terlihat seolah Ayahnya yang menyelesaikannya. Ia harus memastikan bahwa harga diri Bima tetap tegak di depan adik-adiknya, meskipun Arbi tahu betul bahwa dompet lelaki tua itu kini hanya berisi lembaran-lembaran doa dan harapan kosong.
"Tenang saja, Bi, Ayah baru saja dapat bonus besar dari proyek di kota sebelah," ujar Bima sambil membusungkan dada, suaranya terdengar sedikit bergetar namun penuh keyakinan yang dipaksakan. Arbi hanya mengangguk pelan, menyesuaikan ritme bicaranya yang singkat dan padat untuk menghindari konfrontasi yang tidak perlu. Ia tahu bahwa kata 'bonus' itu hanyalah sandiwara usang yang selalu diputar berulang kali sejak usaha kecil-kecilan Ayahnya bangkrut setahun yang lalu, namun Arbi memilih untuk menutup rapat mulutnya dan terus bermain dalam drama kepalsuan ini.
Setiap pagi sebelum matahari benar-benar bangun, Arbi sudah berada di gudang logistik untuk bekerja paruh waktu, sebuah rahasia yang ia simpan rapat dari seluruh anggota keluarga. Ia sengaja mengambil keputusan untuk memikul beban finansial ini sendirian, sebuah bias keputusan yang lahir dari rasa tidak percaya sekaligus keinginan untuk melindungi ibunya, Arafa, dari kenyataan pahit. Arbi lebih memilih untuk terlihat lelah dan kurang tidur daripada harus melihat Ayahnya terus-menerus meminjam uang kepada kerabat dengan janji-janji yang tidak akan pernah bisa ditepati.
Ketegangan memuncak ketika Bima pulang membawa sebuah televisi baru yang ia beli dengan sistem kredit yang bunganya mencekik leher, hanya demi menunjukkan bahwa ia masih sanggup menjadi penyokong utama keluarga. Arbi berdiri mematung di ambang pintu, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan amarah yang hampir meledak melihat kebodohan yang dibalut kesombongan itu. "Bagus, Yah, sangat bagus untuk pajangan di rumah yang atapnya mulai bocor ini," sindir Arbi dengan nada datar yang menusuk, sebuah ciri khas bicaranya yang selalu mengandung sarkasme halus.
Bima hanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar hampa di telinga Arbi, sementara Arafa mencoba mencairkan suasana dengan menyiapkan teh hangat yang sebenarnya dibeli dari sisa upah lembur Arbi semalam. Arbi merasa terjebak dalam labirin kebohongan yang ia bangun sendiri untuk menutupi kebohongan Ayahnya, menciptakan sebuah ekosistem kepalsuan yang sangat menyesakkan dada. Ia mulai menyadari bahwa setiap rupiah yang ia keluarkan untuk menambal lubang finansial keluarga sebenarnya adalah paku yang semakin memperkuat dinding pemisah antara dirinya dan sang Ayah.
Malam itu, saat semua orang sudah terlelap, Arbi menemukan catatan kecil di saku jaket tua milik Bima yang tergantung di dekat pintu keluar. Di sana tertulis daftar obat-obatan yang harganya sangat mahal, jauh melampaui kemampuan mereka, dengan coretan tangan Ayahnya yang berbunyi: 'Jangan sampai Arbi tahu, dia harus tetap fokus kuliah'. Jantung Arbi berdegup kencang saat menyadari bahwa selama ini ia bukan satu-satunya orang yang sedang bersandiwara demi keselamatan orang lain di rumah ini.
Kenyataan itu menghantamnya lebih keras dari apa pun, membalikkan segala prasangka yang selama ini ia pelihara dengan rapi di dalam kepalanya yang cerdas namun angkuh. Ia menatap punggung Ayahnya yang tertidur dengan napas berat di ruang tengah, menyadari bahwa ada sebuah rahasia yang lebih besar dan gelap yang selama ini disembunyikan di balik senyum palsu lelaki itu. Arbi menggenggam catatan itu dengan tangan gemetar, menyadari bahwa waktu yang ia miliki untuk memperbaiki segalanya mungkin tidak akan pernah cukup panjang.
Bau apek kayu tua yang lembap menyambut Arbi saat pintu belakang toko kelontong itu berderit terbuka, menyingkap tumpukan peti kayu yang berdebu. Cahaya sore yang temaram masuk melalui celah ventilasi, menyinari partikel debu yang menari-nari di udara pengap tersebut. Arbi berdiri di sana dengan napas yang sedikit tertahan, menatap deretan botol kaca yang beratnya seolah menantang harga dirinya sebagai anak sulung.
Pemilik toko, seorang pria paruh baya dengan mata sipit yang tajam, menatap ragu ke arah tubuh Arbi yang tergolong kurus untuk pekerjaan kasar seperti ini. Ia mengusap dagunya yang kasar, menimbang-nimbang apakah pemuda di depannya ini sanggup memindahkan puluhan peti minuman ke gudang atas tanpa memecahkan satu botol pun. Arbi hanya diam, namun sorot matanya yang keras menunjukkan bahwa ia tidak akan menerima kata penolakan.
"Saya bisa melakukannya, Pak. Semua peti ini akan selesai sebelum matahari benar-benar tenggelam," ucap Arbi dengan nada suara yang rendah namun penuh penekanan. Ia selalu punya kecenderungan untuk menjanjikan hasil yang mustahil demi mendapatkan apa yang ia inginkan, sebuah bias keputusan yang sering membuatnya kelelahan. Pemilik toko itu akhirnya mengangguk pelan, memberikan isyarat agar Arbi segera memulai pekerjaannya sebelum ia berubah pikiran.
Arbi segera meraih tepian peti kayu yang kasar, merasakan serat kayu yang tajam menusuk telapak tangannya yang mulai berkeringat. Setiap angkatan membuat otot lengannya bergetar hebat, memprotes beban yang jauh melampaui kapasitas fisiknya saat ini. Keringat mulai membanjiri pelipisnya, menetes ke lantai semen yang retak-retak, namun ia menolak untuk berhenti sejenak pun untuk sekadar menyeka wajahnya.
Di dalam benaknya, bayangan amplop putih berisi surat tagihan tunggakan SPP milik Rian, adiknya, terus berputar seperti kaset rusak yang menyakitkan. Ia tidak bisa mengandalkan ayahnya yang selalu membual tentang proyek besar yang tak pernah kunjung datang atau janji-janji palsu tentang uang kiriman. Bagi Arbi, setiap peti yang ia pindahkan adalah tamparan bagi kebohongan ayahnya yang selama ini menghimpit kehidupan mereka.
"Jangan percaya kata Ayah, Arbi. Biar aku sendiri yang membereskan kekacauan ini," bisiknya pada diri sendiri sambil mengangkat peti ketiga puluh dengan sentakan kasar. Ia memiliki kebiasaan unik, yaitu mengetukkan buku jarinya ke permukaan benda keras setiap kali kemarahannya memuncak, sebuah ritual kecil untuk meredam emosi. Bunyi tuk-tuk dari buku jarinya yang beradu dengan kayu peti terdengar nyaring di tengah kesunyian gudang.
Udara di gudang semakin mendingin, namun panas di dada Arbi justru semakin membara seiring dengan rasa lelah yang mulai menggerogoti kewarasannya. Ia merasa dikhianati oleh garis keturunannya sendiri, dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya hanya karena sang kepala keluarga lebih memilih hidup dalam ilusi. Baginya, kejujuran adalah mata uang yang paling mahal, dan ayahnya telah lama bangkrut dalam hal tersebut.
Ketika peti terakhir berhasil ia letakkan di pojokan gudang yang gelap, Arbi jatuh terduduk dengan punggung bersandar pada dinding yang dingin. Tangannya gemetar begitu hebat sehingga ia harus mengepalkannya kuat-kuat agar tidak terlihat lemah di depan pemilik toko. Bau keringat bercampur debu kayu kini memenuhi indra penciumannya, menciptakan aroma perjuangan yang pahit namun terasa nyata bagi seorang pemuda sepertinya.
Pemilik toko datang membawa beberapa lembar uang lusuh yang nilainya mungkin tak sebanding dengan rasa sakit di sekujur tubuh Arbi malam itu. Namun, Arbi menerimanya dengan cepat, menyelipkan uang itu ke saku celananya dengan gerakan protektif yang sudah menjadi instingnya. Ia tidak butuh belas kasihan, ia hanya butuh alat untuk menjaga agar adik-adiknya tetap bisa bersekolah tanpa harus menanggung malu.
Langkah kakinya terasa berat saat ia berjalan keluar dari toko, menyusuri jalanan kampung yang mulai diterangi lampu-lampu jalan yang remang. Di kejauhan, ia melihat sosok ayahnya sedang duduk di warung kopi, tertawa lebar sambil menceritakan rencana bisnisnya yang muluk-muluk kepada orang lain. Arbi memalingkan wajah, merasa mual melihat pemandangan yang menurutnya adalah sebuah sandiwara yang menjijikkan dan tidak tahu malu.
Sesampainya di rumah, suasana sunyi menyambutnya, hanya suara jangkrik yang terdengar dari balik semak-semak halaman depan yang tidak terawat. Arbi masuk ke kamar dan melihat Rian sedang tertidur pulas di atas meja belajarnya, dengan buku pelajaran yang masih terbuka lebar. Ia mengusap kepala adiknya dengan lembut, sebuah kontras yang tajam dari sikap keras yang ia tunjukkan kepada dunia luar sepanjang hari.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah kotak tua di bawah tempat tidur ayahnya yang sedikit terbuka, menyingkap tumpukan surat medis yang selama ini disembunyikan. Dengan tangan yang masih bergetar, Arbi menarik kotak itu dan membaca lembar demi lembar hasil laboratorium yang bertanggal sejak tiga tahun yang lalu. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menyadari bahwa semua kebohongan ayahnya tentang "pekerjaan di luar kota" sebenarnya adalah jadwal pengobatan rutin.
Seluruh dunia Arbi terasa runtuh saat ia menyadari bahwa uang yang selama ini dianggap sebagai hasil tipu daya ayahnya ternyata berasal dari klaim asuransi kesehatan yang dicairkan secara paksa. Ayahnya tidak sedang membual tentang proyek besar, melainkan sedang berjuang melawan kegagalan organ yang perlahan-lahan merenggut nyawanya tanpa pernah mengeluh. Kebencian yang selama ini dipupuk Arbi mendadak berubah menjadi duri yang menusuk jantungnya sendiri dengan sangat dalam.
Ia berlari keluar menuju warung kopi tadi, namun tempat itu sudah kosong dan hanya menyisakan gelas plastik bekas yang berserakan di atas meja kayu. Arbi berdiri mematung di tengah jalan, menyadari bahwa waktu yang ia habiskan untuk meremehkan ayahnya telah memakan habis kesempatan untuk sekadar mengucapkan terima kasih. Penyesalan itu datang dengan ledakan yang memekakkan telinga, meninggalkan Arbi sendirian dalam kegelapan malam yang tak lagi memberikan jawaban atas segala pertanyaannya.
Sinar matahari siang itu memantul tajam di atas aspal yang mulai melunak, mengirimkan gelombang panas yang membakar tengkuk Arbi hingga basah kuyup oleh keringat. Ia menyeka dahi dengan punggung tangannya yang kasar, namun tindakan itu justru meninggalkan jejak tanah kecokelatan yang mengotori kulit wajahnya. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah-olah gravitasi sedang mencoba menarik tubuh kurusnya jatuh ke bumi yang membara.
Kepalanya berdenyut kencang mengikuti irama detak jantung yang tak beraturan, tetapi Arbi menolak untuk menyerah pada rasa pening yang menyerang. Ia memaksakan kakinya terus melangkah menuju sebuah ruko kecil di sudut jalan yang menyediakan jasa fotokopi, tempat tujuannya sejak satu jam yang lalu. Di dalam genggamannya, selembar uang kertas yang sudah lusuh dan beberapa koin hasil keringat mengangkut barang di pasar tadi pagi terasa begitu berharga.
Sesampainya di sana, Arbi segera menyerahkan recehan yang masih terasa hangat karena terus digenggam erat untuk membayar cetakan tugas sekolahnya yang cukup tebal. Ia mengabaikan suara keroncongan dari perutnya yang terus berbunyi minta diisi, memilih untuk menelan ludah demi membasahi tenggorokan yang kering. Baginya, tugas sekolah ini adalah tiket untuk membuktikan bahwa ia bisa lebih baik daripada ayahnya yang hanya pandai membual.
Arbi menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya saat ia menatap tumpukan kertas yang baru saja keluar dari mesin fotokopi. Ia selalu merasa ada beban tak kasat mata yang menekan pundaknya setiap kali teringat ucapan-ucapan muluk ayahnya, Bima, yang tak pernah menjadi kenyataan. Ayahnya sering menjanjikan kehidupan mewah dan makanan enak, padahal realitanya mereka harus berjuang keras demi sesuap nasi setiap harinya.
Sambil merapikan lembaran tugasnya, Arbi sesekali memutar pergelangan tangan kirinya, sebuah kebiasaan yang ia lakukan setiap kali merasa cemas atau kesal terhadap keadaan rumahnya. Ia tidak ingin menjadi laki-laki yang hanya bisa berjanji tanpa bukti, sebuah pola hidup yang menurutnya sangat memuakkan dari sosok Bima. "Aku tidak akan seperti dia, aku harus punya bukti nyata," bisiknya pelan dengan nada bicara yang tajam dan penuh penekanan pada setiap kata.
Keputusannya untuk bekerja serabutan di pasar tanpa sepengetahuan ibunya, Arafa, adalah bentuk pemberontakan diam-diam terhadap ketidakberdayaan ekonomi keluarga mereka. Arbi selalu memilih jalan yang paling sulit asalkan ia tidak perlu meminta bantuan atau bergantung pada janji-janji kosong yang sering dilontarkan sang ayah. Baginya, kemandirian adalah satu-satunya cara untuk menjaga harga diri yang mulai terkikis oleh kemiskinan dan kebohongan di rumah.