Jangan Percaya Kata Ayah

Bilsyah Ifaq
Chapter #4

Gema di Lorong Sepi

Arbi mengetukkan jemarinya pada tepian meja kayu yang mulai lapuk, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia mencium aroma kebohongan di udara. Di hadapannya, Bima tersenyum lebar sambil menceritakan keberhasilan khayalan tentang proyek besar yang konon akan mengubah nasib mereka bulan depan. Arbi hanya bisa menelan pahitnya kenyataan, sambil memutar-mutar pulpen di tangannya tanpa sedikit pun niat untuk mempercayai dongeng sang ayah yang sudah terlalu sering ia dengar.

"Tenang saja, Bi, nanti kalau bonusnya cair, kita beli laptop baru untukmu," ucap Bima dengan nada ringan yang justru terasa seperti beban bagi Arbi. Arbi tidak menjawab, ia hanya menyesuaikan letak kacamatanya dengan gerakan kaku, sebuah tanda bahwa ia sedang menahan ledakan amarah di balik dadanya yang sesak. Baginya, setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya hanyalah rangkaian huruf tanpa makna yang dirancang untuk menutupi kegagalan hidup yang kian nyata di depan mata.

Langkah kaki Arbi terasa berat saat ia beranjak menuju kamar adik-adiknya, berusaha menciptakan benteng perlindungan dari janji-janji kosong yang melayang di ruang tamu. Ia melihat si bungsu sedang mewarnai dengan krayon yang sudah patah-patah, sementara adik laki-lakinya termenung menatap langit-langit kamar yang berjamur. Arbi bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan harapan adik-adiknya hancur berkeping-keping seperti kepercayaan yang ia miliki terhadap sosok kepala keluarga mereka.

Kemandirian menjadi satu-satunya jalan keluar yang masuk akal bagi Arbi, maka ia mulai mengambil pekerjaan sampingan sebagai tutor tanpa sepengetahuan orang tuanya. Setiap lembar uang yang ia kumpulkan disimpan rapat-rapat di balik sampul buku pelajaran, sebuah rahasia kecil yang ia jaga demi keberlangsungan hidup saudara-saudaranya. Ia belajar untuk tidak mengandalkan siapapun, terutama pria yang selalu mengaku sebagai pahlawan namun tak pernah mampu membayar tagihan listrik tepat pada waktunya.

Suatu malam, ketegangan memuncak ketika Arbi mendapati ayahnya kembali pulang dengan tangan hampa setelah berjanji membawa makanan enak untuk perayaan kecil di rumah. "Ayah tadi lupa bawa dompet, Bi, besok pasti Ayah ganti dua kali lipat," dalih Bima dengan sorot mata yang menghindari tatapan tajam sang putra sulung. Arbi tertawa getir, sebuah tawa pendek yang menusuk kesunyian malam, sebelum akhirnya ia membanting pintu kamar dengan kekuatan yang menggetarkan seluruh dinding rumah kayu itu.

Luka batin itu semakin menganga, namun Arbi justru semakin mahir dalam menyembunyikannya di balik prestasi sekolah yang gemilang dan sikap dingin yang tak tertembus. Ia memposisikan dirinya sebagai tulang punggung bayangan, memastikan adik-adiknya tetap makan meskipun ia sendiri harus menahan lapar di kantin sekolah. Baginya, kasih sayang bukan lagi tentang kata-kata manis, melainkan tentang berapa banyak beban yang bisa ia pikul sendirian tanpa harus meminta bantuan pada sang ayah.

Namun, sebuah surat usang yang ia temukan secara tidak sengaja di laci meja kerja ayahnya mulai menggoyahkan segala keyakinan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Surat itu berisi rincian biaya pengobatan jangka panjang yang selama ini dirahasiakan, menunjukkan bahwa setiap rupiah yang hilang ternyata dialokasikan untuk sesuatu yang jauh lebih gelap. Arbi tertegun, menyadari bahwa kebenciannya mungkin telah membutakan dirinya dari sebuah pengorbanan sunyi yang sedang dilakukan oleh pria yang ia anggap pecundang itu.

Penyesalan mulai merayap pelan di hatinya, tepat saat ia mendengar suara batuk berat ayahnya dari ruang tengah yang kini terdengar lebih rapuh dari biasanya. Ia ingin melangkah keluar dan bertanya, namun egonya yang keras menahan kakinya tetap terpaku di lantai kamar yang dingin dan lembap. Arbi hanya bisa menggenggam surat itu erat-erat, menyadari bahwa kebenaran yang baru saja ia temukan mungkin datang pada saat waktu yang mereka miliki sudah hampir habis tergerus usia.

Matahari merayap tepat di atas ubun-ubun, mengirimkan hawa panas yang memicu keringat dingin di sepanjang pelipis Arbi. Ia menyesuaikan posisi tumpukan koran di pundak kirinya yang mulai terasa kaku dan perih akibat gesekan kertas kasar. Setiap kali lampu lalu lintas berubah merah, Arbi segera melesat di antara deretan mobil yang mengeluarkan uap panas dari mesin-mesin mereka. Ia harus bergerak cepat sebelum lampu berubah hijau dan peluangnya hilang begitu saja dalam kepulan asap knalpot yang menyesakkan dada.

Arbi sengaja memilih persimpangan di ujung kota ini, tempat yang hampir mustahil dikunjungi oleh Arafa, ibunya, yang sehari-hari hanya berkutat di pasar dekat rumah. Ia tidak ingin ibunya melihat realitas pahit ini, bagaimana putra sulung kebanggaan keluarga harus bertarung dengan debu jalanan demi sekeping uang receh. Baginya, rahasia ini adalah beban yang harus ia pikul sendiri daripada membiarkan ibunya menangis meratapi nasib anak laki-lakinya yang seharusnya fokus belajar untuk olimpiade sains bulan depan.

Tangan kanannya yang kasar terus menghitung lembaran uang ribuan yang sudah lecek dan berbau keringat di dalam saku celananya. Setiap koin yang berdenting masuk ke kantong adalah harapan baru untuk melunasi biaya ujian Rian, adiknya, yang sudah menunggak dua bulan lamanya. Arbi tahu betul bahwa jika ia hanya mengandalkan janji-janji Bima, ayahnya, maka pendidikan adik-adiknya akan berakhir di jalanan seperti dirinya sekarang. Baginya, keringat yang mengucur deras ini jauh lebih nyata dan dapat dipercaya.

Langkah kaki Arbi terhenti sejenak saat melihat sebuah sedan mewah melintas, mengingatkannya pada bualan ayahnya tentang masa depan yang gemilang. Bima selalu berkata bahwa sebentar lagi proyek besarnya akan cair dan mereka akan pindah ke rumah yang lebih layak dengan mobil di garasi. Namun, kenyataannya, setiap sore ayahnya hanya pulang dengan tangan hampa dan aroma kopi murah yang melekat di pakaiannya yang lusuh. Kebohongan itu telah menjadi racun yang perlahan mematikan rasa hormat di hati Arbi.

"Koran, Pak! Berita terbaru tentang skandal korupsi dan krisis ekonomi!" seru Arbi dengan suara serak, mencoba mengalahkan kebisingan klakson yang bersahut-sajutan. Ia menyodorkan lipatan kertas itu ke arah jendela mobil yang terbuka sedikit, berharap ada tangan yang terjulur memberikan selembar uang. Di matanya, setiap pembeli bukan sekadar pelanggan, melainkan penyelamat yang membantunya menambal lubang-lubang kegagalan yang ditinggalkan oleh ayahnya di meja makan setiap malam.

Kelelahan yang merambat dari telapak kaki hingga punggungnya terasa seperti cambukan yang jujur, mengingatkannya bahwa hidup tidak bisa dimenangkan hanya dengan kata-kata manis. Arbi sering kali merasa muak setiap kali teringat bagaimana Bima tertawa lebar menceritakan koneksi hebatnya di ibu kota, sementara beras di dapur hampir habis. Baginya, ayahnya adalah seorang pemimpi yang tersesat dalam labirin ilusinya sendiri, meninggalkan Arbi untuk menjadi tiang penyangga yang sebenarnya bagi keluarga mereka yang rapuh.

Suasana perempatan semakin riuh ketika seorang pengamen jalanan mulai memetik gitar dengan nada sumbang di dekat trotoar tempat Arbi berdiri. Bau aspal yang terpanggang matahari menyengat hidung, bercampur dengan aroma bensin dan debu yang beterbangan tertiup angin kencang. Arbi mengusap wajahnya dengan punggung tangan, meninggalkan bekas abu-abu yang kotor di kulitnya yang sawo matang. Ia tidak peduli dengan penampilannya, selama ia bisa membawa pulang cukup uang untuk membayar SPP Rian besok pagi.

Tiba-tiba, pandangan Arbi tertumbuk pada sesosok pria paruh baya di seberang jalan yang mengenakan jaket kumal yang sangat ia kenali. Jantungnya berdegup kencang, mungkinkah itu Bima yang sedang berkeliaran di area ini padahal katanya sedang ada pertemuan bisnis penting? Ia menyipitkan mata, mencoba memastikan identitas pria yang terlihat sedang mengais sisa makanan di samping tempat sampah besar. Rasa mual sekaligus amarah mulai membuncah di ulu hati Arbi, memicu ketegangan yang membuat tangannya gemetar hebat.

Mungkin benar apa yang selalu kupikirkan, bahwa setiap kalimat yang keluar dari mulutnya hanyalah sampah yang dibungkus kertas kado indah.

Arbi memutuskan untuk mendekat, mengabaikan lampu yang sudah berubah hijau dan deru kendaraan yang mulai melaju kencang di sekelilingnya. Ia ingin membuktikan sekali lagi bahwa ayahnya adalah seorang pembohong besar yang tidak layak mendapatkan simpati sedikit pun dari anak-anaknya. Namun, semakin dekat ia melangkah, semakin jelas terlihat bahwa pria itu memang Bima, tetapi ia tidak sedang mengais sampah untuk dirinya sendiri. Pria itu sedang memunguti botol plastik bekas untuk dimasukkan ke dalam karung besar.

"Ayah?" bisik Arbi, suaranya nyaris hilang ditelan kebisingan jalanan yang semakin menjadi-jadi di telinganya. Bima tersentak, menoleh dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari ingatan Arbi, dengan mata yang cekung dan kulit yang terbakar matahari ekstrem. Karung di tangannya terjatuh, menumpahkan puluhan botol plastik kosong yang mengeluarkan bunyi berisik saat menghantam trotoar yang keras.

Keheningan yang janggal mendadak tercipta di antara mereka, membelah hiruk-pikuk kota yang tak peduli.

Kemarahan Arbi meledak seketika, ia melemparkan tumpukan korannya ke tanah hingga kertas-kertas itu berhamburan tertiup angin yang kencang. "Jadi ini proyek besar yang selalu Ayah sombongkan itu? Menjadi pemulung di saat Ayah bilang sedang bertemu klien penting di kantor?" teriaknya dengan nada tinggi yang menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Ia merasa dikhianati bukan karena kemiskinan mereka, melainkan karena sandiwara panjang yang selama ini dimainkan ayahnya dengan begitu rapi.

Bima hanya terdiam, tidak berusaha membela diri atau memberikan alasan-alasan konyol seperti biasanya saat ia tertangkap basah berbohong kecil. Ia hanya menunduk, tangannya yang gemetar mencoba memunguti kembali botol-botol yang berserakan dengan gerakan yang lambat dan penuh beban. Pemandangan itu justru membuat Arbi semakin murka, ia merasa ayahnya telah menghancurkan sisa-sisa harga diri yang ia perjuangkan mati-matian di jalanan ini. Baginya, kejujuran yang pahit jauh lebih baik daripada kenyataan yang disembunyikan di balik karung kotor.

Tanpa sepatah kata pun, Arbi berbalik dan berlari meninggalkan persimpangan itu, mengabaikan panggilan parau ayahnya yang mencoba mengejarnya dari belakang. Air mata kemarahan mulai mengaburkan pandangannya, membuat lampu-lampu kota terlihat seperti gumpalan cahaya yang kacau dan tidak beraturan. Ia bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan pernah lagi mempercayai satu kata pun yang keluar dari mulut pria yang ia panggil ayah itu. Namun, di balik amarahnya, ada rasa perih yang mendalam karena ia menyadari bahwa pahlawannya telah benar-benar runtuh.

Malam itu, Arbi duduk di teras rumah yang gelap, menatap langit tanpa bintang sambil meremas sisa uang hasil jualan korannya yang kini terasa tidak berarti. Ia mendengar langkah kaki Bima yang terseok-seok memasuki halaman, membawa aroma keringat dan sampah yang menyengat ke dalam rumah mereka yang sempit. Sebuah rahasia besar baru saja terungkap, namun luka yang ditimbulkannya jauh lebih dalam dari yang pernah Arbi bayangkan sebelumnya. Ia tahu bahwa mulai besok, segalanya tidak akan pernah sama lagi di dalam keluarga kecil mereka yang penuh kepalsuan.

Jari-jari Arbi gemetar hebat saat ia menarik secarik kertas kusam yang terselip di balik tumpukan kemeja kerja ayahnya yang sudah menipis dan memudar warnanya. Aroma detergen murah dan keringat kering yang khas dari pakaian Bima menyeruak, namun kali ini bau itu terasa mencekik paru-paru Arbi hingga ia sulit bernapas. Kertas itu bukan sekadar catatan biasa; logo bank merah di sudut atasnya seolah berteriak, mengonfirmasi ketakutan terdalam yang selama ini ia tepis jauh-jauh dari pikirannya.

Surat peringatan penyitaan itu menyatakan dengan sangat jelas bahwa rumah mereka berada di ambang kehilangan karena tunggakan yang sudah berbulan-bulan tidak terbayar. Arbi merasakan dunianya runtuh seketika, mengingat bagaimana ayahnya selalu tersenyum lebar setiap malam di meja makan sambil menjanjikan masa depan yang cerah. Kebohongan Bima tentang tabungan pendidikan yang katanya sudah aman dan tersimpan rapi kini hancur berkeping-keping, menyisakan puing-puing kekecewaan yang tajam di hati putra sulungnya.

Arbi meremas kertas itu hingga buku-buku jarinya memutih, menelan pahitnya kenyataan bahwa ia harus segera bertindak untuk menyelamatkan atap tempat mereka berteduh sebelum semuanya terlambat. Ia menatap bayangannya di cermin lemari yang retak, melihat seorang pemuda yang selama ini merasa lebih pintar dari ayahnya, namun kini justru terjebak dalam jaring tipu daya yang ditenun oleh orang tuanya sendiri. Amarahnya memuncak, bukan hanya karena kemiskinan yang mengancam, tetapi karena rasa dikhianati oleh sosok yang seharusnya menjadi pelindung.

"Jadi ini alasan Ayah selalu pulang larut dengan tangan kosong?" gumam Arbi dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar oleh telinganya sendiri di kamar yang sunyi itu. Ia membayangkan Arafa, ibunya, yang masih sibuk di dapur tanpa tahu bahwa badai besar sedang menuju ke arah keluarga kecil mereka yang tampak tenang dari luar. Arbi merasa dadanya sesak oleh beban tanggung jawab yang tiba-tiba jatuh ke pundaknya, sebuah beban yang seharusnya dipikul oleh seorang kepala keluarga yang jujur.

Lihat selengkapnya