Arbi mengetukkan jemarinya ke meja kayu yang sudah kusam, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali amarahnya mulai mendidih di balik dada. Tatapannya tertuju tajam pada Bima yang baru saja meletakkan tas perkakasnya dengan suara denting logam yang memekakkan telinga di sudut ruang tamu. Keheningan di antara mereka terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh ego yang saling berbenturan dalam diam yang mencekam.
"Ayah bilang uang sekolahku sudah aman, tapi kenyataannya pihak tata usaha memanggilku lagi tadi pagi," ucap Arbi dengan nada bicara yang datar namun menusuk, ciri khasnya saat sedang menghakimi seseorang. Ia tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak membongkar tumpukan janji manis yang dianggapnya sebagai sampah yang mengotori keseharian mereka. Baginya, kejujuran adalah mata uang yang paling berharga, dan ayahnya telah lama dinyatakan bangkrut dalam hal itu.
Bima hanya terdiam sambil mengusap peluh di keningnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk meredam ledakan putra sulungnya yang selalu haus akan pembuktian logis. Namun, setiap kali Bima membuka mulut, Arbi segera memotongnya dengan argumen yang disusun rapi seperti skripsi, menelanjangi setiap kegagalan sang ayah di depan adik-adiknya. Keharmonisan yang selama ini dijaga dengan tawa palsu di meja makan kini retak secara permanen oleh serangan verbal Arbi.
Ketegangan itu merambat hingga ke dapur, di mana Arafa hanya bisa mematung sambil memegang erat pinggiran wastafel, tidak berani melerai perselisihan yang sudah melampaui batas kewajaran. Arbi berdiri tegak, menantang otoritas laki-laki yang ia anggap sebagai pecundang yang hanya pandai bersilat lidah demi menutupi ketidakberdayaan ekonomi mereka. Ia memutuskan untuk berhenti mempercayai setiap silabel yang keluar dari bibir ayahnya, sebuah keputusan yang ia ambil dengan penuh keyakinan dingin.
Suasana rumah yang biasanya hangat kini berubah menjadi medan perang dingin yang dipenuhi dengan kecurigaan dan rasa tidak hormat yang terang-terangan dari sang anak. Arbi merasa bahwa dengan meruntuhkan wibawa ayahnya, ia sedang menyelamatkan keluarga ini dari delusi berkepanjangan yang diciptakan oleh Bima selama bertahun-tahun. Ia tidak menyadari bahwa setiap kata tajam yang ia lontarkan ibarat paku yang tertancap dalam pada sebuah papan yang tak akan pernah mulus kembali.
Puncaknya terjadi ketika Arbi membanting pintu kamarnya, meninggalkan Bima yang masih terpaku di tengah ruangan dengan bahu yang tampak lebih merosot dari biasanya. Luka yang tercipta malam itu bukan sekadar pertengkaran biasa, melainkan sebuah deklarasi perang terhadap sosok kepala keluarga yang dianggapnya telah gagal total dalam menjalankan perannya. Arbi merasa menang dalam perdebatan itu, tanpa tahu bahwa kemenangan tersebut adalah awal dari penyesalan paling pahit dalam sejarah hidupnya.
Di balik pintu yang tertutup, Arbi bersumpah tidak akan pernah lagi membiarkan kata-kata ayahnya mendikte realita yang ia jalani, meski itu berarti ia harus berjalan sendirian tanpa perlindungan. Ia tidak melihat bagaimana tangan ayahnya gemetar hebat saat mencoba memungut kembali baut-baut yang terjatuh dari tasnya, sebuah detail kecil yang luput dari pengamatan si anak cerdas yang merasa paling tahu segalanya. Malam itu, kepercayaan yang tersisa benar-benar musnah, menyisakan puing-puing hubungan yang hancur berantakan di lantai rumah mereka.
Pena di tangan Arbi bergerak gelisah di atas kertas buram yang sudah penuh dengan coretan tinta hitam. Dia sedang menyusun draf pidato kelulusan sebagai siswa terbaik, namun setiap kata yang merujuk pada sosok teladan keluarga terasa seperti duri yang menusuk harga dirinya. Arbi menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu seiring dengan rasa muak yang perlahan naik ke kerongkongan.
Di ruang tengah, suara tawa Bima yang terdengar serak dan dipaksakan saat menelepon seseorang kembali membelah kesunyian rumah mereka yang sederhana. Arbi bisa membayangkan ayahnya sedang membual lagi tentang kesuksesan semu atau proyek besar yang sebenarnya tidak pernah ada di dunia nyata. Bagi Arbi, tawa itu bukanlah suara kebahagiaan, melainkan sebuah simfoni kebohongan yang sudah ia dengar selama belasan tahun hidupnya.
Arbi meremas kertas pidato itu hingga hancur di dalam genggamannya, merasakan tekstur kasar yang seolah mewakili kekacauan batinnya saat ini. Dia menyadari bahwa dia tidak akan pernah bisa menuliskan kalimat-kalimat indah tentang kebanggaan terhadap seorang ayah yang hanya pandai merangkai janji kosong. Kebanggaan itu tidak pernah ada, terkubur di bawah tumpukan kekecewaan yang ia simpan rapat-rapat sejak ia mulai memahami arti kejujuran.
Matanya menatap tajam ke arah pintu kamar yang tertutup, seolah bisa menembus dinding dan melihat wajah Arafa, ibunya, yang pasti sedang tersenyum getir mendengarkan bualan suaminya. Arbi sering bertanya-tanya bagaimana ibunya bisa bertahan dengan pria yang selalu menyembunyikan kegagalan di balik tawa nyaring. Nama "Arbi" yang merupakan gabungan nama kedua orang tuanya kini terasa seperti beban besi yang mengikat kakinya agar tidak bisa lari dari kenyataan pahit ini.
Tiba-tiba, suara pintu depan berderit terbuka, menampilkan sosok Bima dengan kemeja lusuh yang warnanya sudah memudar dimakan usia. Ayahnya melangkah masuk dengan gaya yang sok tegap, seolah-olah dia baru saja memenangkan tender bernilai miliaran rupiah di luar sana. "Arbi, anakku yang paling cerdas! Ayah baru saja bicara dengan kolega penting, masa depanmu sudah di depan mata!" seru Bima sambil menepuk bahu Arbi dengan semangat yang berlebihan.
Arbi hanya diam membeku, tidak sudi membalas tepukan itu atau sekadar memberikan senyum formalitas yang biasa ia lakukan demi menjaga perasaan ibunya. Dia memperhatikan detail kecil pada ayahnya: sepatu yang solnya mulai lepas dan bau keringat yang bercampur dengan aroma rokok murahan yang sangat menyengat. Semua itu adalah bukti nyata dari kemiskinan yang coba ditutupi Bima dengan narasi-narasi megah yang selalu berakhir menjadi debu di mata anak-anaknya.
Mengapa dia tidak bisa sekali saja mengakui bahwa hidup kita ini hancur karena kesalahannya sendiri?
batin Arbi sambil memalingkan wajah ke arah jendela yang berdebu. Dia merasa terjebak dalam sebuah sandiwara panjang di mana dia dipaksa menjadi penonton setia dari kegagalan yang dibungkus dengan rapi. Setiap kali Bima berbicara, Arbi hanya bisa mendengar suara retakan kepercayaan yang semakin lebar di dalam dadanya yang terasa begitu sesak.
Kemarahan Arbi akhirnya memuncak ketika Bima mulai menceritakan tentang rencana liburan mewah yang mustahil bisa mereka jangkau dengan kondisi keuangan saat ini. Arbi berdiri dengan sentakan kasar, membuat kursi kayunya berdecit nyaring di atas lantai semen yang dingin dan tidak rata. "Cukup, Yah! Berhenti membual tentang hal-hal yang tidak akan pernah terjadi!" teriak Arbi dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan selama bertahun-tahun.
Suasana seketika menjadi hening, hanya suara detak jam dinding tua yang terdengar mengisi kekosongan di antara ayah dan anak itu. Bima tertegun, matanya yang mulai mengeruh menatap Arbi dengan binar yang sulit diartikan, antara terkejut dan rasa sakit yang mendalam. Namun, Arbi tidak peduli lagi; dia sudah terlalu lelah menjadi bagian dari khayalan ayahnya yang tidak pernah berujung pada kenyataan yang membahagiakan.
Arbi menyambar tas sekolahnya dan melangkah pergi menuju pintu keluar tanpa menoleh sedikit pun ke arah pria yang mematung di tengah ruangan itu. Di luar, udara malam terasa menusuk kulitnya, namun itu jauh lebih baik daripada harus menghirup udara yang penuh dengan racun kebohongan di dalam rumah. Dia berjalan cepat di bawah temaram lampu jalan, mencoba membuang bayangan wajah ayahnya yang tampak menua dalam sekejap karena bentakannya.
Beberapa bulan kemudian, saat Arbi sedang sibuk dengan persiapan ujian masuk perguruan tinggi, sebuah kabar duka datang meruntuhkan seluruh dunianya yang sudah rapuh. Bima meninggal dunia secara mendadak karena serangan jantung di tempat kerjanya yang selama ini dirahasiakan dari seluruh anggota keluarga. Arbi berdiri di depan nisan kayu yang masih basah, merasa dunianya berputar dengan sangat cepat saat rahasia-rahasia ayahnya mulai terungkap satu demi satu.
Seorang pria asing menghampiri Arbi di pemakaman dan menyerahkan sebuah amplop cokelat yang berisi buku tabungan dan catatan harian milik ayahnya. Pria itu bercerita bahwa Bima bekerja sebagai kuli panggul di pasar induk setiap malam hanya agar Arbi bisa terus bersekolah di tempat terbaik. Bualan tentang "kolega penting" ternyata adalah cara Bima menyembunyikan rasa lelahnya agar anak-anaknya tidak merasa rendah diri di hadapan teman-teman mereka yang lebih beruntung.
Arbi membuka catatan itu dan menemukan coretan tangan ayahnya yang gemetar, berisi doa-doa tulus untuk kesuksesan putra sulungnya yang sangat ia banggakan. Di setiap halaman, Bima menuliskan betapa dia rela dianggap pembohong asalkan anak-anaknya tidak perlu merasakan pahitnya kenyataan hidup yang sedang dia pikul sendirian. Tangis Arbi pecah di tengah rintik hujan yang mulai turun, menyadari bahwa kebenciannya selama ini adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.
Penyesalan itu datang menghantam Arbi seperti ombak besar yang menghancurkan segala pertahanan ego yang selama ini dia bangun dengan sangat kokoh. Dia ingin berteriak meminta maaf, ingin memeluk tubuh ayahnya yang sudah tertutup tanah, namun semua itu kini hanyalah angan-angan yang mustahil terwujud. Arbi menunduk dalam-dalam, menyadari bahwa sosok yang selama ini dia remehkan adalah laki-laki sejati yang telah mengorbankan segalanya demi masa depan yang dia nikmati sekarang.
Jemari Arafa gemetar saat mengelap potret pernikahan di atas bufet kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Arbi berdiri mematung di ambang pintu, memperhatikan punggung ibunya yang tampak jauh lebih rapuh dan sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya. Aroma minyak kayu putih dan debu tipis memenuhi ruangan sempit itu, menciptakan suasana yang menyesakkan bagi Arbi yang baru saja pulang membawa medali emas dari olimpiade sains di sekolahnya.
Pikiran Arbi melayang pada bualan ayahnya tadi pagi tentang rencana membeli mobil baru, padahal untuk membayar uang SPP saja mereka harus menunggak berbulan-bulan. "Kenapa Ibu diam saja saat dia terus membual?" Pertanyaan itu tertahan di tenggorokan, terasa pahit seperti empedu yang dipaksa telan. Arbi memutar-mutar cincin perak di jari kelingkingnya, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali rasa tidak hormat kepada ayahnya mulai memuncak di ubun-ubun.
Arafa hanya menoleh sekilas, menyembunyikan mata sembabnya di balik senyum yang dipaksakan demi menjaga perasaan anak sulungnya tersebut. Dia tahu Arbi adalah anak yang cerdas, terlalu cerdas untuk dibohongi oleh janji-janji manis Bima yang seringkali terdengar seperti dongeng sebelum tidur bagi anak kecil. Namun, bagi Arafa, kesetiaan bukan tentang menelan kebenaran mentah-mentah, melainkan tentang menjaga sisa-sisa martabat seorang kepala keluarga yang sedang hancur lebur.