Jangan Percaya Kata Ayah

Bilsyah Ifaq
Chapter #6

Debu di Atas Pigura

Tangan Arbi gemetar hebat saat meremas lembaran kertas kusam yang ia temukan di balik tumpukan koran lama milik ayahnya. Amplop cokelat dengan stempel merah menyala itu seolah mengejeknya, mengungkap kebohongan yang selama ini tersusun rapi dalam rumah mereka yang tampak tenang. Arbi tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya ketika menyadari bahwa kata-kata manis ayahnya tentang keamanan masa depan hanyalah sebuah fatamorgana yang rapuh.

Di ruang tamu yang remang, Bima sedang duduk menyesap kopi hitamnya sambil bersenandung kecil, seolah beban dunia tidak pernah menyentuh pundaknya yang mulai membungkuk. Arbi melangkah mendekat, langkah kakinya sengaja dihentakkan keras ke lantai kayu agar sang ayah sadar akan kehadirannya yang penuh amarah. Setiap langkah itu membawa ingatan tentang janji-janji kosong yang selalu diucapkan Bima setiap kali mereka makan malam bersama di meja kayu tua itu.

"Ayah bilang tanah ini sudah lunas, Ayah bilang kita tidak punya hutang," suara Arbi bergetar, lebih mirip geraman rendah daripada sebuah pertanyaan. Ia melemparkan surat penyitaan itu ke atas meja, tepat di samping cangkir kopi ayahnya yang masih mengepulkan uap tipis. Mata Arbi menatap tajam, menuntut penjelasan atas

pengkhianatan yang baru saja ia temukan di balik tumpukan rahasia yang selama ini dijaga ketat oleh sang kepala keluarga.

Bima terdiam sejenak, jemarinya yang kasar karena kerja paksa tampak kaku saat menyentuh pinggiran kertas yang melengkung itu. Senyum palsu yang biasanya terukir di wajahnya perlahan luntur, menyisakan gurat kelelahan yang selama ini ia sembunyikan dengan sangat rapi di balik tawa renyah. Ia tidak segera membela diri, melainkan hanya menatap kosong ke arah surat yang menyatakan bahwa rumah tempat mereka bernaung akan segera diambil paksa oleh bank.

"Kenapa Ayah selalu berlagak seolah semuanya baik-baik saja sementara kita sedang hancur?" Arbi berteriak, memecah kesunyian malam yang biasanya diisi oleh suara jangkrik di luar jendela. Amarahnya meluap karena ia merasa diperlakukan seperti anak kecil yang tidak berhak tahu tentang badai yang mengancam nyawa mereka. Baginya, kejujuran jauh lebih berharga daripada kenyamanan palsu yang dibangun di atas tumpukan surat peringatan dan ancaman sita.

Bima akhirnya mendongak, matanya yang mulai berkabut menatap putra sulungnya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara rasa bersalah dan keinginan untuk tetap melindungi. Ia menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar sangat berat seolah-olah ia sedang memikul seluruh beban atap rumah ini sendirian di punggungnya.

Namun, Arbi tidak peduli dengan raut wajah itu karena baginya, kebohongan tetaplah sebuah racun yang merusak kepercayaan mereka.

"Kamu tidak akan mengerti, Arbi, ada hal-hal yang tidak perlu kamu pikul di usia semuda ini," jawab Bima dengan suara yang nyaris berbisik, berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya. Namun, kalimat itu justru menjadi pemantik api yang lebih besar bagi Arbi yang selama ini menganggap dirinya sudah cukup dewasa untuk menghadapi kenyataan pahit dunia. Ia merasa dikhianati oleh sosok yang seharusnya menjadi kompas kebenaran dalam hidupnya yang masih sangat panjang.

Konfrontasi itu tidak berakhir dengan pelukan atau permintaan maaf yang tulus, melainkan dengan keheningan yang jauh lebih menyakitkan daripada teriakan mana pun. Arbi membalikkan badan, meninggalkan ayahnya yang masih terpaku di kursi rotan itu, membawa serta rasa benci yang mulai berakar kuat di dalam hatinya. Ia bersumpah tidak akan pernah lagi mempercayai satu kata pun yang keluar dari mulut pria yang ia anggap sebagai pembohong ulung tersebut.

Jari-jari Arbi mencengkeram surat berstempel merah itu hingga kertasnya berderit dan kusut di bawah buku jarinya yang memutih. Matanya yang tajam, hasil didikan keras di sekolah unggulan, menatap nanar pada baris-baris kalimat dingin yang menyatakan bahwa rumah mereka akan segera disita. Di depannya, Bima hanya duduk bersandar pada kursi kayu yang sudah goyang kaki-kakinya, mencoba melemparkan tawa kecil yang terdengar sangat hambar.

Suara tawa sang ayah terdengar menyakitkan, seperti gesekan amplas kasar di atas permukaan logam yang berkarat, memicu amarah Arbi hingga ke ubun-ubun. Arbi menuntut penjelasan logis tentang bagaimana tabungan bertahun-tahun bisa lenyap dan menyisakan ancaman pengusiran yang memalukan ini. Namun, alih-alih menjawab dengan kejujuran, Bima justru sibuk merapikan letak kopiah hitamnya yang sudah memudar warnanya menjadi keabu-abuan.

Ketegangan yang pekat memenuhi ruang tamu yang sempit itu, mencekik udara hingga terasa sangat berat untuk dihirup oleh siapa pun yang ada di sana. Aroma martabak manis yang baru saja dibeli Bima sebagai sogokan kecil masih tercium kuat, namun kini bau mentega itu hanya membangkitkan rasa mual. Arbi melempar surat itu ke atas meja kayu, tepat di samping kotak martabak yang belum sempat dibuka sedikit pun oleh adik-adiknya.

"Cuma masalah kecil, Bi, Ayah sudah atur semuanya dengan teman lama di kantor pusat," ucap Bima dengan nada bicara yang terlalu santai, seolah sedang membicarakan cuaca.

Arbi memutar bola matanya, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia mendengar janji-janji kosong yang keluar dari mulut ayahnya yang penuh rahasia. Ia tidak lagi bisa mempercayai kata-kata pria yang selalu bersembunyi di balik senyum palsu dan bualan tentang koneksi hebat yang tidak pernah ada.

Arbi berdiri dengan kasar hingga kursi di belakangnya terjungkal ke lantai tegel yang dingin, menciptakan bunyi debuman yang mengejutkan sang ibu di dapur. Ia tidak butuh lagi dongeng tentang pahlawan yang akan menyelamatkan mereka di detik terakhir, karena baginya, ayahnya hanyalah seorang pecundang yang pandai bersandiwara. Dengan langkah lebar, ia meninggalkan ruangan itu, mengabaikan panggilan lirih Bima yang suaranya mendadak bergetar hebat seperti menahan beban yang sangat berat.

Di balik punggung Arbi yang menjauh, Bima perlahan menurunkan tangannya dari kopiah, memperlihatkan telapak tangan yang gemetar dan bercak darah kering di balik kuku-kukunya. Ia menatap surat sitaan itu dengan pandangan kosong, menyadari bahwa kebohongan yang ia bangun untuk melindungi harga diri keluarganya kini justru menjadi jurang pemisah. Rahasia tentang pengorbanan yang ia lakukan di balik layar mulai retak, namun ia memilih untuk tetap diam meskipun kebencian putranya semakin meruncing tajam.

"Semua akan baik-baik saja, Bi. Ayah sudah urus dengan teman lama," suara itu terdengar tenang meski napasnya pendek-pendek. Arbi membuang muka, muak dengan optimisme kosong yang terus diproduksi pria itu di tengah kepungan debu rumah kontrakan mereka yang pengap. Baginya, setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya adalah benang kusut yang mustahil diurai, sebuah janji manis yang selalu berakhir pahit.

Arbi mengetukkan jari telunjuknya ke meja kayu yang sudah lapuk, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali dia mendeteksi kebohongan baru. Ritual kecil itu adalah caranya menahan diri agar tidak meledak di depan adik-adiknya yang masih kecil. Dia tidak ingin menghancurkan dunia khayalan yang dibangun ayahnya, meski dia sendiri sudah merasa muak dengan segala kepura-puraan yang ada di rumah ini.

"Urusan apa lagi kali ini, Yah? Teman lama yang mana?" Arbi bertanya dengan nada datar yang menusuk, tanpa menoleh sedikit pun ke arah pria yang duduk di kursi rotan itu. Dia selalu menggunakan intonasi yang rendah namun tajam, seolah sedang menginterogasi tersangka di ruang sidang. Baginya, logika adalah segalanya, dan cerita ayahnya sama sekali tidak memiliki dasar logika yang kuat untuk dipercaya.

Arafa, sang ibu, datang dari dapur sambil membawa segelas air putih yang terlihat keruh di dalam gelas plastik tua. Dia hanya diam, matanya yang lelah mencoba menghindari tatapan tajam putra sulungnya yang semakin hari semakin skeptis. Arbi bisa merasakan ketegangan di bahu ibunya, sebuah beban yang seharusnya dipikul oleh laki-laki yang saat ini justru sibuk merangkai dongeng tentang masa depan.

Bima, sang ayah, mencoba tersenyum hingga kerutan di sudut matanya terlihat jelas, namun getaran di tangannya tidak bisa disembunyikan. Dia meraih gelas itu, meminumnya perlahan seolah-olah air itu adalah obat mujarab yang bisa menghapus tumpukan utang yang membayangi keluarga mereka. Arbi tahu betul bahwa setiap kali ayahnya bersikap tenang seperti ini, badai besar biasanya sedang mengintai di balik pintu.

Suasana ruang tamu yang sempit itu terasa semakin mencekik dengan aroma minyak kayu putih yang menyengat dari pakaian ayahnya. Arbi berdiri, merasa perlu mencari udara segar sebelum dia benar-benar kehilangan kendali atas lidahnya sendiri. Dia tidak tahan melihat bagaimana ayahnya masih bisa bersandiwara seolah-olah mereka tidak sedang berada di ambang kehancuran total yang sudah sangat nyata.

"Jangan pergi dulu, Bi. Ayah baru saja mau bilang kalau besok kita akan makan enak," ucap Bima dengan nada yang dipaksakan ceria. Arbi berhenti di ambang pintu, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih karena menahan amarah yang membuncah. Dia ingin sekali berteriak bahwa mereka tidak butuh makan enak, mereka hanya butuh kejujuran yang jujur tanpa ada bumbu-bumbu kebohongan.

Keputusan Arbi selalu didorong oleh keinginan untuk mandiri dan tidak bergantung pada janji-janji yang tidak pasti dari siapa pun, termasuk keluarganya sendiri. Dia lebih memilih bekerja paruh waktu hingga larut malam daripada harus menunggu keberuntungan yang dijanjikan ayahnya lewat koneksi teman lama yang misterius itu. Baginya, kerja keras adalah satu-satunya pelarian dari kemiskinan yang terus menghantui setiap langkahnya.

Di luar rumah, langit tampak mendung, seolah-olah alam pun ikut merasakan beban yang dipikul oleh pemuda yang baru saja menginjak usia dewasa itu. Arbi melihat tumpukan surat tagihan yang terselip di bawah pot bunga plastik yang sudah pudar warnanya di teras depan. Dia mengambilnya dengan kasar, merobek amplop-amplop itu tanpa ragu, dan menemukan angka-angka merah yang menertawakan optimisme ayahnya di dalam sana.

Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar dari dalam rumah, diikuti oleh teriakan histeris ibunya yang memecah kesunyian malam yang dingin. Arbi berlari kembali ke dalam, jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya yang sesak. Dia menemukan ayahnya sudah tergeletak di lantai, napasnya tersengal-sengal sementara tangannya masih berusaha meraih ujung meja kayu yang tadi diketuk oleh Arbi.

"Ayah! Bangun, Yah!" Arbi berteriak, egonya runtuh seketika melihat pria yang dia benci karena kebohongannya kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya. Dia mencoba mengangkat tubuh ayahnya, namun berat beban hidup seolah ikut berpindah ke pundaknya dalam sekejap mata yang mengerikan. Keheningan yang menyusul kemudian terasa jauh lebih menakutkan daripada semua pertengkaran yang pernah terjadi di antara mereka berdua.

Beberapa hari kemudian, setelah tanah makam masih basah oleh air mata dan hujan, Arbi menemukan sebuah kotak besi tua di bawah tempat tidur ayahnya. Dengan tangan gemetar, dia membukanya dan menemukan tumpukan surat gadai serta catatan medis yang selama ini disembunyikan rapat-rapat. Ternyata, setiap rupiah yang mereka makan adalah hasil dari pengorbanan tubuh ayahnya yang perlahan-lahan hancur digerogoti oleh penyakit kronis.

Lihat selengkapnya