Jangan Percaya Kata Ayah

Bilsyah Ifaq
Chapter #8

Pesan yang Sampai di Seberang Waktu

Arbi mengetukkan jemarinya pada permukaan meja kayu yang sudah lapuk, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat pikirannya sedang kalut. Di hadapannya, sebuah kotak besi berkarat yang selama ini tersembunyi di balik ubin longgar kamar ayahnya kini terbuka lebar. Bau apek kertas tua menyeruak, membawa serta aroma tembakau murah yang selalu melekat pada pakaian Bima semasa hidupnya.

"Cuma bualan, begitu kan yang selalu kamu ucapkan?" bisik Arbi pada dirinya sendiri dengan nada getir yang tajam. Ia menarik napas panjang, lalu mulai memilah tumpukan kuitansi rumah sakit dan surat gadai yang tertata rapi. Setiap lembar kertas itu seolah menertawakan kecerdasannya yang selama ini ia banggakan untuk meremehkan kerja keras sang ayah yang dianggapnya penuh kebohongan.

Tangannya gemetar saat menemukan sebuah buku tabungan kusam atas nama dirinya, Arafa, dan adik-adiknya yang selama ini dianggap tidak pernah ada. Di sana tertera setoran kecil namun rutin setiap bulan, hasil dari kerja lembur Bima yang selalu diklaimnya sebagai 'waktu bermain catur bersama kawan'. Arbi menyadari bahwa setiap kata bohong ayahnya adalah tameng untuk menyembunyikan luka dan kelelahan dari mata anak-anaknya.

Ia teringat betapa sering ia memutar bola mata setiap kali Bima mengaku sudah kenyang agar potongan daging terakhir bisa berpindah ke piring Arbi. "Ayah sudah makan besar di warung depan tadi," begitu biasanya Bima berucap dengan senyum jenaka yang kini terasa seperti sayatan sembilu bagi Arbi. Kebohongan itu bukan untuk menipu, melainkan cara sang ayah menjaga martabat keluarga di tengah kemiskinan.

Puncak penyesalannya meledak saat ia membaca surat wasiat singkat yang ditulis dengan tulisan tangan yang mulai goyah akibat tremor. Bima menuliskan permohonan maaf karena tidak bisa memberikan kemewahan, namun ia memastikan seluruh biaya kuliah Arbi telah lunas hingga semester akhir. Arbi meremas surat itu hingga kukunya memutih, menyadari bahwa sosok yang ia anggap pecundang adalah pahlawan yang paling tangguh.

Kini, Arbi berdiri tegak di tengah ruang tamu yang sepi, memandangi foto kusam Bima dan Arafa yang tergantung miring di dinding ruang tengah. Ia merapikan kerah bajunya dengan gerakan tegas, sebuah gestur yang tanpa sadar mirip dengan cara ayahnya bersiap menghadapi dunia setiap pagi. Tidak ada lagi ruang untuk air mata yang sia-sia, karena beban tanggung jawab kini sepenuhnya berpindah ke pundaknya sendiri.

Ia melangkah menuju pintu depan, mengunci rumah dengan perlahan seolah sedang mengunci seluruh masa lalu yang penuh prasangka buruk. Arbi berjanji dalam hati bahwa ia akan menjadi pelindung bagi ibu dan adik-adiknya, persis seperti cara Bima mencintai mereka dalam senyap. Langkah kakinya terdengar mantap di atas aspal jalanan, memulai babak baru sebagai lelaki sejati yang tidak lagi butuh pengakuan dari siapa pun.

Arbi menarik laci meja kerja kayu yang sudah mulai lapuk itu dengan gerakan kasar. Suara decit engselnya yang kering memenuhi ruang kerja sempit yang berbau debu dan kertas tua. Di bawah tumpukan amplop tagihan listrik yang belum terbayar, jemarinya menyentuh sebuah map cokelat yang tersembunyi jauh di sudut paling gelap. Dadanya berdegup kencang seiring dengan rasa penasaran yang bercampur dengan amarah yang sudah lama ia pendam terhadap sosok ayahnya.

Lembaran kertas kusam di dalam map itu bergetar hebat dalam genggaman Arbi saat matanya mulai memindai barisan angka yang tertera. Di sana, tercetak dengan jelas rincian biaya pengobatan penyakit jantung koroner yang sangat mahal, lengkap dengan tanggal pemeriksaan yang rutin dilakukan setiap bulan. Seluruh dokumen medis itu mencantumkan nama Bima, ayahnya, sebagai pasien utama yang kondisinya sudah berada di tahap kritis sejak beberapa tahun yang lalu.

Setiap lembar kwitansi rumah sakit itu seolah menjadi tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Arbi tanpa ampun. Ia teringat bagaimana ayahnya selalu pulang terlambat dengan napas tersengal, namun tetap memaksakan senyum lebar saat menyapa anak-anaknya di meja makan. Arbi sering kali mencibir dalam hati, menganggap napas ayahnya yang berat hanyalah akting untuk menghindari pekerjaan rumah atau sekadar alasan untuk bermalas-malasan di sofa.

Arbi ingin sekali berteriak sekencang mungkin, menanyakan kepada dinding-dinding bisu mengapa kenyataan sepahit ini harus dibungkus dengan tawa palsu setiap malam. Mengapa ayahnya memilih untuk menelan sendiri rasa sakit yang menghimpit dada, sementara Arbi terus-menerus melontarkan kata-kata tajam yang meremehkan martabatnya sebagai kepala keluarga. Kebenaran ini mulai merayap naik seperti kabut dingin yang mencekik egonya yang selama ini berdiri kokoh di atas prasangka buruk.

Selama bertahun-tahun, Arbi memelihara kebencian yang ia anggap sebagai bentuk kecerdasan karena merasa telah berhasil membongkar "kebohongan" ayahnya. Ia sering menyindir Bima sebagai pria yang tidak punya ambisi dan hanya pandai mengarang cerita tentang kesibukannya di luar rumah. Namun, deretan tanggal pada dokumen medis ini membuktikan bahwa setiap rupiah yang dihasilkan ayahnya justru habis untuk menyambung nyawa tanpa pernah mengeluh sedikit pun.

Keringat dingin mulai membasahi dahi Arbi saat ia menyadari betapa kejamnya ia selama ini terhadap pria yang telah memberinya nama. Arbi, sebuah nama yang merupakan gabungan indah dari Arafa dan Bima, kini terasa seperti beban yang sangat berat untuk ia sandang. Ia melihat kembali catatan obat-obatan keras yang harus dikonsumsi ayahnya, obat yang seharusnya membuat seseorang terbaring lemah, namun Bima tetap memilih untuk bekerja serabutan demi biaya sekolahnya.

Suara langkah kaki pelan dari arah pintu masuk membuat Arbi tersentak, namun ia tidak segera menutup laci itu karena tubuhnya terasa kaku seperti membatu. Ia membayangkan wajah ayahnya yang selalu tampak tenang meski keringat dingin sering membasahi pelipisnya saat mereka sedang berbincang ringan. Segala bentuk penghinaan yang pernah ia ucapkan kini kembali terngiang di telinganya, berubah menjadi gema yang menyakitkan dan menusuk nuraninya yang paling dalam.

Mungkin selama ini aku yang buta, bukan Ayah yang pembohong; aku yang terlalu sombong dengan gelarku sampai lupa melihat luka di balik kemeja lusuhnya.

Tangannya meremas pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menahan gelombang penyesalan yang mulai meluap dari dadanya. Ia teringat suatu sore ketika ia memaki ayahnya hanya karena Bima lupa membelikan buku referensi yang ia minta untuk kompetisi sains. Saat itu, ayahnya hanya menunduk diam dan meminta maaf dengan suara serak, tanpa pernah memberi tahu bahwa uangnya baru saja habis untuk menebus dosis obat darurat.

Arbi kemudian menemukan sebuah surat kecil yang terselip di antara hasil laboratorium, ditulis dengan tulisan tangan ayahnya yang miring dan agak gemetar. Di sana tertulis sebuah janji bahwa Bima akan bertahan setidaknya sampai Arbi lulus kuliah dan bisa menjaga adik-adiknya dengan baik. Surat itu tidak berisi keluhan tentang rasa sakit, melainkan doa-doa tulus agar Arbi menjadi laki-laki yang lebih kuat dan lebih jujur daripada dirinya sendiri.

Rasa sesak kini benar-benar memenuhi paru-paru Arbi, membuatnya sulit untuk sekadar menghirup oksigen di ruangan yang pengap itu. Ia menyadari bahwa setiap kebohongan yang diucapkan ayahnya bukanlah untuk menipu, melainkan sebuah perisai untuk melindungi kebahagiaan anak-anaknya dari badai kesakitan. Ayahnya adalah seorang aktor hebat yang memainkan peran sebagai pria sehat, meski di dalamnya jantungnya sudah hampir berhenti berdetak berkali-kali.

Tiba-tiba, sebuah kenyataan pahit lainnya muncul saat ia melihat tanggal terakhir pada laporan medis tersebut yang menunjukkan waktu beberapa bulan yang lalu. Itu adalah bulan di mana ayahnya akhirnya menghembuskan napas terakhir dalam tidurnya yang tenang, meninggalkan Arbi dalam ketidaktahuan yang sombong. Penyesalan itu datang terlambat, sangat terlambat, karena sosok yang ingin ia peluk dan mintai maaf kini sudah menyatu dengan tanah di pemakaman umum desa.

Ia menatap bayangannya sendiri di cermin kecil yang tergantung di atas meja kerja, melihat seorang pemuda cerdas yang ternyata sangat bodoh dalam memahami arti pengorbanan. Arbi merasa dirinya sangat kecil dan hina dibandingkan dengan ayahnya yang selama ini ia anggap sebagai beban dalam hidupnya yang berprestasi. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi kertas-kertas medis yang kini menjadi satu-satunya saksi bisu cinta sang ayah.

Dengan tangan yang masih gemetar, Arbi merapikan kembali lembaran-lembaran itu ke dalam map cokelat dengan penuh ketelitian dan rasa hormat yang baru ia temukan. Ia berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah membiarkan adik-adiknya mengetahui betapa menderitanya ayah mereka, agar citra pahlawan itu tetap terjaga selamanya. Arbi berdiri tegak, meski kakinya terasa lemas, menyadari bahwa mulai hari ini ia harus memikul tanggung jawab besar yang ditinggalkan oleh laki-laki sejati itu.

Pandangannya tertuju pada foto keluarga di sudut meja, di mana ayahnya tersenyum paling lebar meski wajahnya tampak sangat pucat di bawah terik matahari. Arbi menyentuh bingkai foto itu dengan lembut, merasakan dinginnya kaca yang seolah memantulkan kehangatan yang kini telah hilang dari rumah mereka. Ia melangkah keluar dari ruangan itu dengan beban baru di pundaknya, sebuah rahasia besar yang akan ia simpan rapat-rapat hingga akhir hayatnya nanti.

Pak RT duduk bersandar di kursi kayu ruang tamu yang mulai lapuk, jemarinya yang keriput menggenggam sebuah buku catatan kecil bersampul plastik kusam. Ia menatap Arbi dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah sedang menimbang-nimbang apakah rahasia ini layak untuk diungkapkan sekarang. Aroma kopi hitam yang mendingin di atas meja berbaur dengan bau kertas tua dari buku yang diletakkan Pak RT dengan hati-hati di hadapan pemuda itu.

Sambil membetulkan letak kacamatanya, Pak RT mulai bercerita tentang malam-malam panjang saat Bima mendatangi rumahnya dengan napas terengah dan pakaian yang basah oleh keringat. Arbi hanya bisa terpaku, memperhatikan jemari Pak RT yang gemetar saat membuka halaman demi halaman yang berisi coretan angka. Setiap garis di wajah orang tua itu seakan menceritakan betapa berat beban yang selama ini disembunyikan oleh ayahnya dari mata anak-anaknya.

Beliau mengisahkan bagaimana ayahnya sering memohon dengan suara rendah agar tagihan beras Arafa tetap dianggap lunas di mata publik, meski kenyataannya Bima belum memiliki sepeser pun uang. Arbi merasakan dadanya sesak saat mengetahui bahwa ayahnya rela bekerja serabutan di pasar sebagai kuli panggul hingga larut malam demi menutup lubang hutang tersebut. Kebohongan tentang bonus kantor yang sering diceritakan ayahnya ternyata hanyalah tameng untuk menutupi rasa lelah yang luar biasa.

Arbi tertegun mendengarnya, tangannya tanpa sadar meremas pinggiran kursi kayu sementara pikirannya melayang pada kenangan masa lalu saat ia menertawakan janji-janji ayahnya. Selama ini, ia menganggap setiap ucapan manis ayahnya adalah bualan kosong seorang pria gagal yang tidak berani menghadapi kenyataan hidup. Namun, kenyataan yang disodorkan Pak RT menghantam kesombongannya dengan keras, menyisakan rasa perih yang menjalar ke seluruh aliran darahnya.

Ternyata, janji-janji manis yang dulu dianggap bualan adalah upaya putus asa Bima untuk menjaga harapan agar tidak mati di rumah kecil mereka yang sederhana. Ayahnya sengaja membangun istana dari kata-kata bohong hanya agar Arbi dan adik-adiknya bisa tidur nyenyak tanpa perlu memikirkan perut yang kosong keesokan harinya. Setiap tawa yang dipaksakan Bima di meja makan adalah topeng paling berani yang pernah dipakai oleh seorang pria sejati demi kehormatan keluarganya.

Lihat selengkapnya