Jangan Pergi Lagi

Rangkay0 Hayati
Chapter #2

Cinta Itu Merah

"Sejatinya, seseorang tak bisa mencintai dua kekasih. Sebab hati tak mampu memuatnya”-Syeikhul Akbar, Muhyidin Ibnu Arabi

Ibnu 

     Suasana hari ini di kota rindu terasa lebih semarak, terutama di gang kawasan China Town. Hari bahagia bagi Larasati telah tiba, namun tidak bagiku. Hari ini aku bangun pagi tidak dengan semangat sebesar hari-hari kemarin.

   “Ibnu, ini baju batik merah yang harus kamu pakai buat menghadiri pernikahan Larasati. Kita berangkat agak pagi-an ya, biar setelah itu ibu bisa kembali ke Laundry. Soalnya ibu hanya ijin setengah hari, ayo kamu bersiap-siap.”

   “Iya bu,” jawabku malas-malasan

   Dengan berat hati, aku tetap mandi dan berpakaian, walau hatiku masih belum bisa menerima kalau orang yang aku sayangi dan cintai sejak kecil dan selalu bermain bersamaku, mulai besok tak kan pernah ada lagi di sisiku. Tak hanya secara fisik tapi hatinya juga. Tuhan, kuatkan diri ini menghadiri pesta satu-satunya wanita yang kusayangi. Aku kuatkan hati untuk melangkah membawa sepucuk angpau merah di tanganku. Kadang penyesalan hadir belakangan sebab ketidakberanianku mengutarakan rasa cinta yang sudah lama aku pendam pada Larasati. Mulanya hanya rasa sayang, lalu berubah menjadi rasa cinta sejak Larasati berpakaian putih abu-abu dengan rambutnya yang hitam legam sebahu serta bola mata coklatnya yang indah dihiasi alis yang berbaris rapi. Aku mulai merasakan getaran-getaran begitu di dekat teman kecilku itu. Sikap jaim pun mulai hadir tiba-tiba walau Larasati tetap tak berubah, masih ceplas-ceplos dan apa adanya.

   Begitu memasuki gedung pernikahan, terlihatlah warna merah mendominasi ruangan, terutama dekorasi pelaminan. Bunga Peony berwarna pink yang melambangkan keindahan dan cinta, merekah indah menghiasi beberapa sudut ruangan pesta. Bunga yang bermakna harapan bagi etnis Tionghoa. Semoga pasangan pengantin akan melewati hidup yang penuh kemakmuran setelah menikah. Aku dan ibu segera mencari tempat duduk yang nyaman, sebelum menuju meja prasmanan khusus makanan muslim. Terlihat Larasati dan Jian dibalut busana pengantin berwarna merah cerah sedang melakukan prosesi tea pai. Membungkuk hormat di depan kedua orang tua. Lalu setelah itu pengantin wanita dan pria memberikan secangkir teh, sebagai simbol penghormatan dan bakti terhadap orang tua, serta rasa terima kasih atas doa restu.

   Aku tak mampu menampik bahwa hari itu kecantikan Larasati terlihat lebih memancar dan memukau diriku. Rasanya aku tak sanggup untuk berlama-lama menatap sang pengantin wanita. Bukankah aura kedukaan yang aku pancarkan dari perasaan kehilanganku, tak baik bagi pengantin? Akan terjadi clash antara energi sukacita Larasati sama dukacita yang aku alami. Untuk itulah aku bergegas pamit ke toilet pada ibu, sebagai alasan untuk menghilang dan pergi dengan motorku menyusuri jalanan tanpa arah. Melarikan perih hatiku yang menusuk-nusuk begitu tajam dan dalam hingga ke sumsum tulangku.

   Sementara itu di ruangan pesta, MC sedang memimpin acara Yamseng. Sebuah doa dan ucapan bagi pengantin, keluarga dan para undangan yang hadir dengan kata-kata yang baik agar seluruh rezeki dilancarkan, memakai bahasa Hokkien. Sambil mengangkat gelas masing-masing diiringi memanjatkan doa bersama. Ibu yang gelisah menungguku tak kunjung kembali akhirnya menyadari bahwa perasaan anaknya ini sedang tidak baik-baik saja. Sebab tak biasanya aku bersikap agak ganjil seperti sekarang, apalagi sampai meninggalkan ibu sendiri di tengah acara seperti ini. Sejak hari itu, awan kelabu pun dimulai. Apalagi sejak Larasati tak pernah membalas WhatsApp dan email dariku. Secepat itukah seorang sahabat terdekat melupakan diriku? Satu-satunya wanita yang selama ini melewati suka dan duka bersama. Bahkan sejak mereka sama-sama masih memakai celana dan rok pendek. Bersekolah di tempat yang sama dan mandi hujan berdua sambil berkejaran di tengah baju yang basah kuyub. Di mana setelahnya aku demam karena masuk angin, tapi Larasati tetap sehat-sehat aja karena badannya lebih kuat meski wanita.

    Sedari kecil aku memang gampang sakit dan bila demam tinggi sedikit langsung kejang-kejang. Kalau sudah begitu, ibuku panik dan segera meminta obat panas pada Baba Ho, yang kebetulan memiliki toko obat China selain membuka toko emas. Aku yang tahu diriku lemah dan sakit-sakitan sejak kecil, berusaha belajar keras dan rajin masuk sekolah, meski kadang sering ijin karena sakit untuk menutupi rasa minder, aku berusaha untuk selalu rangking satu di kelas hingga bisa masuk kuliah negeri dan mendapatkan bea siswa. Aku juga giat ikut olahraga taekwondo dan angkat beban, hingga badanku tak lagi kurus dan ringkih. Aku pun menjadi jauh lebih ganteng karena wajahku yang cakep, kini ditopang oleh badanku yang mulai berisi dan berotot. Dadaku pun lebih lebar sehingga aku merasa semakin percaya diri untuk bisa melindungi wanita yang aku cintai.

   Aku akhirnya lebih banyak mengurung diri di kamar, sehabis pulang kuliah. Diriku semakin tenggelam dalam buku-buku pelajaran psikologi. Walau ibuku yakin tak akan berpengaruh pada studiku. Bahkan aku tamat lebih cepat karena terus belajar dan jarang keluar kamar, apalagi nongkrong seperti dulu bersama Salim di ruas jalan kota rindu. Sekedar memperhatikan orang yang lalu lalang sambil mengobrol dan bercanda. Di tengah suara pengamen jalanan dan kendaraan hingga derap langkah kaki kuda delman. yang melintas. Akhirnya aku di wisuda dengan nilai cum laude. Namun kegembiraanku tetap tak sempurna tanpa Larasati yang tak hadir di acara kelulusanku. Hanya Ibu dan Salim yang mendampingi acara bahagia itu dengan mata berkaca-kaca memelukku penuh rasa bangga dan bahagia.

   Ibuku meskipun bahagia melihatku sudah lulus dengan nilai yang memuaskan, kutahu tetap menyimpan rasa khawatir.

Lihat selengkapnya