Jangan Pergi Lagi

Rangkay0 Hayati
Chapter #4

Keheningan Setelah Badai

Siapa kira cinta tanpa kata dan suara lebih kencang dentumannya.”

-KH.Husein Muhammad-

 

   Salim

Perjalananku kini sampai di kota suci dan pusat peradaban ilmu dan pengetahuan, Bukhara. Aku pun memilih singgah di sebuah restoran kecil makanan lokal di area Lyab-i Hauz yang berada  di dekat kolam besar. Memesan menu yang cukup populer lagman, sejenis mi kuah yang mirip mi kocok Bandung, tetapi diisi dengan topping daging dan sayuran. Sambil menunggu lagman disajikan, mataku tertuju pada sebuah lukisan seorang pria yang terbaring lemah di atas sebuah dipan kayu. Di sebelahnya duduk seorang pria penuh wibawa memakai jubah panjang dengan kepala dibalut surban. Sementara di sebelah pria bersurban terlihat beberapa orang sedang memegang mangkuk.

Aku jadi teringat pada kisah seorang pangeran dan bapak kedokteran sekaligus seorang filsuf Ibnu Sina yang ada dalam gambar tersebut. Menurut cerita yang pernah aku baca, poster tersebut menggambarkan seorang pangeran dari salah satu kota di Iran yang sakit parah. Anehnya tak ada seorang tabib pun yang berhasil menyembuhkan sang pangeran dari penyakitnya. Sampai akhirnya raja memanggil Ibnu Sina yang kala itu sedang menetap di Iran.

    Begitu Ibnu Sina memegang denyut nadi sang pangeran, beliau pun meminta asistennya menyebutkan nama beberapa kota di Asia Tengah. Ketika salah satu kota disebutkan, tiba-tiba denyut nadi pangeran berdenyut kencang. Ternyata pangeran jatuh cinta pada seorang gadis biasa di kota yang disebutkan namun tak direstui. Sejak saat itu Ibnu Sina pun menjadi orang kepercayaan raja. Ingatannya kembali pada Ibnu yang cintanya tak kesampaian pada Larasati, hingga mengalami depresi. Sebagaimana Ibnu Sina pernah mengemukakan teori kalau penyakit itu juga bisa berasal dari pikiran. Itulah sebabnya Ibnu Sina sering kali menggunakan pendekatan pikiran dan ketenangan jiwa dalam melakukan pengobatan. 

   Aku ingat hari itu sudah janjian dengan Ibnu untuk berenang tapi kecewa.

   “Maaf Salim aku harus mengantar Larasati ke pertunjukan baletnya hari ini. Lain kali saja kita ke kolam renang Tirta. “

    “Udah biasa aku yang selalu mengalah padahal siapa juga yang duluan mengajak renang,” sindirku.

  “Sekali lagi aku minta maaf ya Salim, sudah mengecewakanmu dan selalu menjadi sahabat yang pengertian”

“Bagaimana kalau aku ikut kalian? Kebetulan aku lagi gabut nih! Ayolah, sekali-kali aku bergabung, masak aku dianaktirikan terus.”

  “Mana bisa bonceng tiga Salim, kan aku anterin nya pake motor.”

  “Ya udah pake mobilku saja,” tiba-tiba Larasati muncul dan menyela pembicaraan kami sambil tertawa.

  “Baiklah, aku yang bawa mobilnya, ”jawab Ibnu dengan mengerucutkan bibir. Pastilah ia bete karena tidak bisa berduaan dengan wanita pujaannya. Rasain! Batinku sambil tersenyum puas.

Lihat selengkapnya