Ketika menari bersama pasangan, hendaklah mengikuti irama pasangannya
Larasati
Seorang wanita muda lincah bergerak di atas panggung dengan memakai point shoes, rok lebar tutu sebatas lutut dan hiasan rambut berwarna pink. Menjepit rambut hitam berkilaunya yang digelung rapi berpadu gaun ketat seputih angsa. Melompat dan berputar sebelum akhirnya berdiri satu kaki, memainkan peran Odette, si angsa putih dalam kisah Swan Lake, salah satu balet paling terkenal yang digubah oleh Piotr Ilitch Tchaikovsky pada tahun 1875. Berkisah tentang Odette, seorang putri muda yang dikutuk oleh penyihir jahat von Rothbart untuk hidup sebagai angsa putih. Odette hanya bisa kembali ke wujud manusianya setelah langit hitam jelaga. Ekspresi wajah lembutnya nan rapuh, melambangkan kepolosan. Terlihat murung dan sendu, menggambarkan penderitaan seorang putri yang ditinggal sang kekasih, Pangeran Siegfried.
Angsa putih itu kini telah menjelma menjadi seorang istri yang dicintai, desahku mengenang masa remaja saat menjadi penari balet berbakat, hingga berbagai penghargaan aku raih. Tentu aku berharap cinta Jian Cheng akan membuatku semakin bertumbuh dalam tarian cinta mereka di panggung pernikahan. Seorang perempuan yang mendambakan cinta yang tulus dan ingin di pahami oleh suaminya. Ingin rasanya aku kembali ke panggung lagi dan menerima tepukan tangan riuh dari penonton seperti dulu. Kini aku harus rela hanya jadi penikmat balet daripada jadi pemain balet lagi, sebab Jian ingin diriku fokus mengurus keluarga.
Biarlah kini aku menari dengan luwes bersama suamiku dengan penuh keselarasan, keharmonisan dan tanpa dominasi dalam cinta yang fleksibel. Menikmati proses pernikahan mereka hingga menua bersama. Oh bahagianya, mata ku bekerjap-kerjap senang sambil memeluk Jian erat. Masih dalam suasana bulan madu di atas ranjang sebuah penginapan berkelas di Shanghai
“Baobei (sayangku), kamu harus ingat ya, bahwa kita sudah sepakat untuk tidak mengunci ponsel masing-masing, agar tidak ada rahasia diantara kita, “ucap Jian membalas pelukan istrinya.
Aku mengangguk sambil tersenyum, dan kembali memandang wajah suamiku mesra. Dunia seakan milik mereka berdua saat ini, hingga aku terbuai dan hanyut di pelukan suamiku. Rencananya malam ini mereka akan makan Peking Duck yang sangat enak di tempat yang mahal. Setelah itu singgah ke Taikang Lu, yang dipenuhi butik-butik dan galeri mini yang sangat stylis. Sebulan sudah mereka berkeliling di China mulai dari Beijing, Sanghai hingga Guangzhou. Sebab bisnis Jian sebagian besar ada di kota ini, terutama di Shanghai. Begitu urusan bisnis selesai, mereka akan melanjutkan bulan madu ke Korea, negara impianku karena aku penggemar drakor dan Kpop. Selama bulan madu, Jian yang memegang dan menyimpan telepon genggamku, agar fokus pada kemesraan mereka tanpa gangguan gadget. Aku sebenarnya tidak keberatan, hanya merasa kurang nyaman karena belum terbiasa.
Seperti pasangan yang baru menikah pada umumnya, hati masih berbunga-bunga dan kesalahan serta kelemahan pasangan tak terlihat. Tertutupi oleh hormon jatuh cinta yang usianya tak lama, katanya sih setahun juga udah redup bara api cintanya yang meletup-letup itu. Sepasang insan yang tengah jatuh cinta sebagaimana digambarkan dalam penggalan puisi Mandarin,
“Sakura merah muda menari dengan lembut di antara air dan awan, sebuah mimpi penuh kasih sayang turun ke dunia manusia."
Untuk itulah ketika Jian Cheng dengan sengaja menghilangkan ponselku, diriku hanya tersenyum. Apalagi Jian Cheng menggantinya dengan iPhone keluaran terbaru, meski no kontak dua sahabat terdekatku Ibnu dan Salim hilang, aku tak menaruh curiga sedikit pun. Nanti juga aku bisa minta lagi nomor kedua teman dekatku itu, karena sehabis bulan madu aku akan pulang ke kota rindu menjenguk papaku, Baba Ho. Sementara itu Jian Cheng diam-diam tersenyum puas karena berhasil menghapus nomor orang terdekat istrinya, yang bisa mengganggu hubungan mereka. Tak boleh ada lelaki lain yang lebih diprioritaskan oleh Larasati selain dirinya. Kini Larasati adalah miliknya selamanya dan harus ia kontrol dengan siapa saja istrinya itu berteman, terutama pada pria.