Jangan Pergi Lagi

Rangkay0 Hayati
Chapter #6

Rumah Jiwa yang Terluka

Kota Berawan Melankolis

Psikiater Hargo Utoyo

  Sepagi ini aku sudah berada di rumah sakit bagi penderita gangguan mental berat, karena ada pasien baru seorang wanita muda yang dihantarkan ke IGD oleh seseorang. Begitu sampai, aku mendapati seorang wanita yang berusia sekitar 30 an sedang mengamuk dengan kondisi kedua tangan dan kaki yang terikat. Segera kuperintahkan untuk membawanya ke ruang isolasi, demi mendapatkan perawatan selanjutnya. Setelah beberapa hari wanita muda itu berada di ruangan isolasi, kondisinya pun membaik dan tak lagi berteriak dan mengamuk, hingga dipindahkan ke ruangan yang berisi dua orang.

Ruang isolasi memang diperuntukkan khusus bagi pasien yang tengah berada di luar kontrol dan rentan menyakiti orang lain maupun diri si pasien sendiri itu. Itulah makanya pasien diikat ketika sedang mengamuk dan sulit mengontrol emosinya. Pasien baru bisa digabung dengan pasien lain bila sudah membaik setelah diberi obat. Bahkan di dalam ruangan isolasi kasurnya sengaja tidak dialas sprei, dan steril dari benda-benda tajam agar tidak memfasilitasi pasien untuk mencelakai dirinya sendiri, terutama pasien yang sudah berulang kali berupaya untuk mengakhiri hidup.

     “Anggota keluarga pasien sudah bisa dihubungi?” tanyaku pada petugas medis yang tadi menerima pasien di ruang gawat darurat.

   “Belum dok, tadi pasien hanya sendirian di dalam ambulans. Tapi sebelumnya ada seorang pria sudah mengkonfirmasi lewat telepon tanpa memberitahu identitas dirinya. Hanya mengatakan minta tolong pihak rumah sakit menjemput si pasien di sebuah tempat. “

   Aku hanya tercengang sebab baru kali ini ada pasien yang datang ke RSJ tanpa ada pendampingan dari pihak keluarganya. Sesibuk apakah sampai suami, saudara atau orang tua si pasien sehingga tidak bisa mendampingi? Lalu, siapa yang akan dimintai pertanggung jawaban selama pasien dirawat dan yang mengurus segala administrasi rumah sakit? Sudah berpuluh tahun aku menjadi psikiater di rumah sakit ini, tapi tak pernah ada pengalaman seperti ini. Akhirnya aku mengambil alih tanggung jawab atas diri pasien wanita muda yang belum aku ketahui namanya.

   Melewati lorong demi lorong rumah sakit, mengingatkanku akan masa kecil yang lebih banyak aku habiskan di rumah sakit jiwa. Profesi ibuku sebagai perawat rumah sakit jiwa, sekaligus single Parents membuatku sering dibawa ke rumah sakit sambil bekerja, karena di rumah tidak ada yang menjagaku. Justru itulah aku lebih banyak berinteraksi dan juga dirawat oleh orang dengan gangguan jiwa. Sejak itulah aku memutuskan untuk menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran lalu mengambil Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dan menjabat sebagai Kepala Instalasi Rehabilitas Psikososial Rumah Sakit besar di kota hujan ini.

    Aku juga ingin mematahkan stigma bahwa orang dengan gangguan jiwa adalah orang gila dan tidak akan bisa hidup normal. Padahal dengan perawatan dan obat yang diminum dengan teratur dan penuh disiplin, si pasien bisa pulih dan hidup selayaknya orang normal lainnya. Meskipun memakan waktu yang cukup lama, bahkan harus minum obat seumur hidup terutama bagi penderita gangguan jiwa Skizofrenia. Tapi bukan berarti tidak bisa pulih dan obatnya juga akan semakin berkurang dosisnya, hingga sampai waktu henti obat.

Sejatinya para pasien di rumah sakit jiwa ini adalah jiwa-jiwa terluka yang sedang merasakan sakit mental cukup berat, hingga aku menaruh belas kasihan dan timbul rasa kasih sayang untuk terus merawat jiwa-jiwa itu hingga pulih. Tempat ini adalah rumah bagi jiwa mereka yang rapuh dan tengah kritis. Rasanya bisa melihat mereka tersenyum dan tenang kembali disertai bisa beraktivitas normal, sungguh sebuah bayaran dan penghargaan yang tak ternilai bagiku sebagai seorang psikiater.

   Ketika lagi melayani pasien lain di ruang praktik, aku kembali dihubungi oleh salah seorang perawat.

 “Dok, pasien wanita yang barusan dipindahkan mendadak pingsan! Sehingga kami bawa ke ruang rawat inap. Bisa dokter mengunjungi pasien sekarang? Sebab setelah dilakukan pemeriksaan, wanita muda itu ternyata sedang hamil. Jadi kami hentikan dulu obat psikotiknya karena takut mempengaruhi kondisi janinnya. Kami menunggu perintah dokter selanjutnya setelah ini.”

  Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku pun bergegas ke ruang rawat inap kandungan untuk memeriksa kondisi pasien langsung, demi meresepkan obat psikotik baru, yang sudah disesuaikan dosisnya untuk wanita hamil. Kulihat wajah kuyu dan pucat itu terbaring lemah dengan wajahnya yang semakin tirus seperti kurang makan. Tulangnya kelihatan menonjol saking kurusnya. Tensi darahnya juga sangat rendah setelah diperiksa. Jarum infus terpasang di tangan kanannya, agar tidak dehidrasi dan semakin memperparah tekanan darah rendahnya.

"Pasien tidak mau makan dan sering muntah dok, sepertinya masih mual karena lagi hamil muda."

"Sudah berapa bulan usia janinnya? "

Lihat selengkapnya