Di tempat keramaian bahkan suara hati pun sulit terdengar
Kota Hujan
Majelis di pinggiran kota hujan itu tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin berguru, konsultasi soal berbagai permasalahan hidup dan belajar bareng ilmu kehidupan dalam kelas ngaji kehidupan. Terlihat seorang pria muda tengah mengisi kajian di depan puluhan jamaah yang hadir. Suaranya tenang dan wajahnya teduh untuk dipandang namun memancarkan kharisma kebijaksanaan. Kharisma yang keluar itu tidak serta merta, tapi lahir dari tempaan oleh banyaknya pengalaman hidup yang penuh derita dan hati yang patah. Ibarat sebuah puisi yang tak akan mungkin lahir dari batin yang kosong. Begitulah puisi dalam hidupnya yang penuh berisi luka. Tak heran setiap kata yang keluar dari ucapannya, begitu mudah masuk ke dalam hati para jamaahnya. Sebab lahir dari hati yang telah dibasuh oleh air mata kehidupan.
“Karya lahir dari cinta, dan kita adalah karya itu sendiri, karya Tuhan yang paling sempurna. Untuk itulah sepatutnya harus kita jaga dan rawat diri kita baik secara fisik, mental dan spiritual. Ketiga elemen ini tidak bisa dipisahkan demi mencapai diri yang utuh. Ibnu Sina pernah berkata, kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan. Jadi, kasihi dan rawatlah dirimu dengan memperhatikan setiap elemennya terutama jiwa. Melalui ilmu kesadaran untuk apa kita lahir ke dunia ini, apa misi dan tujuan kita di dunia dan akhirat. Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan?” Pria itu berkata sambil tersenyum dan melemparkan pandangannya ke para jamaah tercintanya. Tak berapa lama, seorang pria yang duduk paling depan mengangkat tangannya.
“Guru, apa benar seseorang yang menyukai sesama jenis itu karena kemasukan jin lgbt? sehingga perlu di ruqyah agar kembali normal dengan menyukai lawan jenis. Saya ingin menyembuhkan seorang teman yang mengalami kelainan orientasi ini.”
“Setahu saya kelainan orientasi seksual itu bisa karena berbagai faktor, salah satunya karena pengaruh lingkungan. Tidak tepat dengan mengambinghitamkan jin atas setiap perbuatan kita. Kalau boleh tahu sejak kapan temanmu seperti itu?”
“Sejak merantau ke ibukota guru, seingat saya waktu kami masih sama-sama remaja, teman saya masih normal dengan memiliki pacar seorang wanita.”
“Berarti bisa jadi pengaruh lingkungan, maka berhati-hatilah memilih pergaulan. Namun sebaiknya kita tidak perlu menghakimi mereka, malah harus dirangkul dan diajak kembali ke fitrahnya. “
Suasana majelis pun semakin hidup dengan adanya sesi sharing antara jamaah dan guru. Tiba-tiba di tengah sesi diskusi yang kian semarak, seorang ibu datang dengan wajah panik dan cemas.
“Guru, tolong anak saya mengamuk lagi!”
Ibnu akhirnya menyudahi majelisnya dan bergegas mengikuti ibu paruh baya tersebut ke rumahnya.
“Dari pagi anak saya sudah teriak-teriak kayak orang kesurupan dan membanting barang hingga pecah. Tolong ruqyah anak saya guru, kayaknya ada yang sudah menyantet anak saya, karena dulu dia tidak seperti ini, “ tangis ibu tersebut.
Ibnu berusaha menenangkan gadis remaja itu dengan mengajaknya berbicara dari hati ke hati.
“Tidak ada yang menyantet anak ibu, jadi tidak perlu saya ruqyah. Sepertinya anak ibu sedang mengalami tekanan berat di sekolah. Sebaiknya dibawa ke psikolog saja bu, “agar dapat diterapi masalah mentalnya. Sepertinya anak ibu mengalami depresi, tapi yang bisa menegakkan diagnosisnya hanya psikolog dan psikiater karena mereka ahli dibidang ini. “
Ibu itu pun setuju dan segera memeluk anaknya yang kini sudah tidak marah-marah hebat lagi.
“Kebetulan saya kenal seorang psikiater bernama Hargo Utoyo, yang sudah bertahun-tahun menangani masalah mental yang berat. Ibu bisa membawa Shinta anak ibu ke sana, “ Ibnu pun memberikan kartu nama yang berisi alamat praktik dan rumah sakit tempat psikiater itu bertugas.
“Terima kasih guru, hari ini juga saya bawa Shinta berobat, mohon doanya. “
“Iya bu, Insya Allah Shinta bisa pulih bila dibawa berobat ke tempat yang tepat.