Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah-Lao Zi
Salim
Tanpa terasa perjalananku kini sudah sampai di kota sejarah Jinju Korea, dimana sungai Nam mengalir di jantung kota ini. Sungai yang telah menjadi saksi perang ketika Jepang menginvasi Korea. Akh, tak terasa di Jinju waktu mengalir seperti air. Aku terus berjalan ke Naechon, sebuah desa di tepi danau Jinyang dan singgah di sebuah kafe. Duduk memandang keluar jendela, sambil membuka halaman demi halaman buku antologi puisi. Lalu membaca sebuah puisi karya seorang penyair muda, puisi, air, dan bepergian semuanya sama. Tertulis air mengalir dengan tenang menyusuri daratan lalu berhenti di suatu titik. Sebagaimana bepergian adalah cara manusia menyusuri waktu, seperti yang aku lakukan sekarang setelah kepergian dua orang sahabat di hidupku. Masing-masing dari kami meniti perjalanan hidup yang berbeda. Ibnu dengan jalan menuju cinta Tuhan dan Larasati menjalani lika liku pernikahannya. Ketika berhenti dan rehat sejenak, saat itulah hati kita menjadi hangat. Puas menikmati puisi sambil memandang keluar jendela, aku meneruskan perjalananku ke sebuah toko buku kecil yang tidak lebih dari 10 meter persegi. Lagi-lagi aku disodori buku kumpulan puisi Dam Dam, antologi puisi pertama Chang Sung-hui,
Suatu hari ketika aku sakit dan sendiri
Aku melebur dalam dingin dan kehilangan bentuk
Aku ikut merasakan kekacauan dan kemalangan yang dialami penulis dalam hidupnya. Ditulis penyair saat Korea dalam tekanan politik dan kekerasan di tahun 1980-an. Pada jaman itu puisi mengalami masa keemasannya dimana puisi menjadi hiburan dan surga bagi jiwa para petani, tukang kayu, sopir bus, pandai besi, perawat dan guru. Tak heran buku-buku puisi laris dan terjual jutaan. Seandainya aku hidup masa itu, mungkin aku juga akan menulis puisi.
Aku jadi ingat toko buku di kota rindu yang sering kudatangi, dimana buku-bukunya bisa disewa dan dibawa pulang untuk dibaca. Aku sering ke toko buku itu karena aku bisa menemukan buku fiksi dari penulis China favoritku yang novelnya selalu best seller dan sudah banyak yang diangkat ke layar kaca. Cerita yang ditulis berupa kisah cinta yang begitu indah dan dibalut sejarah. Sayang, akhir hidup sang penulis sendiri tidak berjalan indah tapi malah tragis dengan mengakhiri hidupnya di usia tua karena kesepian, setelah suaminya meninggalkannya lebih dulu ke alam baka. Aku jadi merenung, betapa kisah cinta yang awalnya manis tak selalu berakhir manis juga.
Dari toko buku aku kembali ke tempat semula, menyusuri sisi danau yang ditumbuhi pohon mimosa. Orang Korea menamainya Pohon haphwansu yang artinya pohon kebahagiaan. Di belahan bumi mana pun orang akan melakukan apapun demi bisa hidup bahagia. Padahal kebahagiaan bukanlah dicari, tapi kitalah yang berusaha untuk menciptakannya sendiri walau dalam keadaan sulit sekalipun. Memang tak mudah karena dibutuhkan kelapangan hati dalam situasi apapun. Di bawah bayangan pohon mimosa, di punggung bukit dengan pemandangan ke danau, aku kembali membaca buku puisi berjudul “Berjalan Tanpa Akhir”
Angin berembus dan hujan turun.
Berjalan tanpa selembar payung
Engkaulah bayangan pohon yang tumbang
Orang yang berjalan tanpa payung disini adalah penyair itu sendiri. Aku jadi tersadar tentang perjalananku sendiri, kemana kah akhirnya? Apakah akan terus menyusuri berbagai kota dan negeri, sambil membawa kenangan yang terus hidup dan menetap di hatiku. Sementara akhir perjalanan Ibnu dan Larasati telah menemui ujungnya, walau melewati berbatuan terjal lebih dulu. Setelah puas menikmati indahnya danau, aku putuskan menuju lorong antik di Seoul yang sangat terkenal, Insa-Dong. Jalan tua di sekeliling tembok Jinju ini mengingatkanku akan nyamannya berjalan di ruas jalan di sudut kota rindu. Saking nyamannya, tak pernah kaki ini merasa capek walau sudah berjalan mondar-mandir sejauh dua kilometer. Jalan yang juga dilewati oleh Larasati bersama suaminya ketika melanjutkan bulan madu mereka sambil berbelanja barang mahal. Walau yang lebih banyak membeli barang adalah Jian Cheng suaminya.