Psikiater Hargo Utoyo
Wanita muda itu mulai mau makan dan kondisinya sudah membaik, hingga sudah bisa keluar dan menjalani rawat jalan. Namun masalah baru muncul, wanita itu tidak mau kembali ke rumahnya. Bahkan tidak memberitahu dimana keberadaan keluarga atau suaminya. Tak mungkin kan dia kutampung di rumahku? Apa kata tetangga bila ada lelaki lajang serumah dengan wanita hamil.
“Saya tidak mau kembali ke rumah yang rasanya seperti di neraka”!
“Bagaimana kalau nanti suami atau keluarga Mbak datang menjemput? Dan Dimanakah keberadaan keluarga Mbak? “
Bukannya menjawab, wanita itu hanya diam dengan tatapan mata yang kosong.
Aku berharapnya suami atau anggota keluarganya menghubungi. Tapi nyatanya wanita muda ini seperti dibuang begitu saja, bagaikan hidup sebatang kara. Aku pun memutar otak, dan teringat pada pak Lian salah satu pasienku. Tanpa menunggu lagi, aku pun meneleponnya untuk minta tolong menampung sementara wanita ini di rumahnya. Untunglah pak Lian dan keluarganya tidak keberatan.
“Baiklah, untuk sementara Mbak bisa tinggal dulu di rumah seseorang yang saya kenal.”
Tak lama pak Lian pun datang menjemput dan membawa wanita muda itu ke rumahnya. Aku sedikit lega, tapi tetap berharap ada keluarganya yang mencari dan membawanya pulang. Setidaknya ada tempat sementara buat wanita itu menetap, selain di rumah sakit ini. Aku pun kembali ke klinikku, sebab sudah banyak pasien yang mengantre berobat. Pasien pertama masuklah seorang remaja yang mencoba berulang kali ingin mengakhiri hidupnya. Orang tuanya pun khawatir karena sudah satu tahun lebih anak laki-lakinya itu hanya mengurung diri di kamar.
“Saya tidak tahu seberapa berat masalahmu, tapi dengan mengakhiri hidup bukanlah menyelesaikan masalah, " jelasku sambil mengusap-usap bahu remaja itu.
"Saya tahu, dok. Hanya saja saya sudah begitu frustrasi dan kecewa dengan hidup saya ini. Saya merasa selalu gagal dan tak berguna lagi hidup di muka bumi ini karena hanya menjadi beban keluarga. "
Aku berusaha mendengarkan dengan penuh empati, agar anak remaja di hadapanku ini nyaman dan percaya padaku untuk membagi bebannya. Aku yakin seseorang yang ingin bunuh diri fakta sebenarnya masih ingin hidup. Hanya saja penderita ingin menghentikan rasa sakit yang diderita tapi tidak tahu cara untuk menghentikan dan mengurangi rasa sakitnya. Betapa pentingnya dukungan emosional dan rasa empati kita untuk mendengarkan keluhan penderita, sebagai salah satu cara agar dapat mencegah tindakan bunuh diri.
Sebenarnya menarik diri secara ekstrem dengan mengurung diri di kamar sudah marak terjadi dan banyak dialami oleh kaum muda, dimana di Jepang dikenal dengan nama Hikikomori. Penderita biasanya hanya berdiam di kamar tanpa mau keluar bertemu siapa pun dan tidak tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain bahkan dengan keluarga. Penderita juga tidak tertarik lagi melakukan kegiatan seperti bekerja, sekolah dan kegiatan berguna lainnya selain hanya bermain game, atau rebahan setiap hari bermain ponsel. Keluar kamar hanya untuk mandi dan makan. Bisa dibilang manusia kamar, sebab hampir seluruh waktunya dihabiskan di dalam kamar saja. Bahkan ada yang sampai harus diletakkan makannya di depan pintu kamar. Bila dibiarkan dan tidak dibawa ke psikolog dan psikiater hal ini akan terus berlangsung sampai tua seperti banyak dialami kaum produktif di Jepang. Miris memang! Pemicunya bisa dari rasa kecewa yang dalam, merasa diri tak berguna, gangguan kecemasan dan kepribadian serta trauma karena pernah dibully secara tidak manusiawi hingga terus membekas, terutama bagi yang sensitif perasaannya.
Pasien berikutnya seorang caleg yang gagal terpilih lalu mengalami depresi berat dan ingin mengakhiri hidup juga. Aku pun meresepkan obat depresi dan obat tidur, karena pasien sudah beberapa hari mengalami insomnia. Ketika tengah depresi, seseorang akan mengalami sulit tidur hingga berhari-hari dan tidak selera makan atau sebaliknya. Kehilangan energi dan minat terhadap hal yang dulu disukai. Biasanya gejala ini tidak hilang hingga 2 minggu yang diikuti gejala mudah marah dan menjadi lebih sensitif. Padahal kurang tidur akan semakin memperparah depresinya.
Pasien selanjutnya seorang pria berusia 40-an yang tiba-tiba mengamuk di ruanganku sampai mencakar perawat yang mendampingiku menangani pasien. Sebenarnya aku tidak takut dengan pasien skizofrenia yang sering mencelakai orang lain termasuk diriku ketika kambuh, kecuali pasien psikopat yang katanya pernah menusuk dokternya ketika berobat. Skizofrenia akan tenang kembali setelah meminum obat dan bahkan ada pasien yang meminta maaf padaku ketika sudah sadar dan membaik. Berbeda dengan penderita psikopat karena ini gangguan kepribadian yang sulit untuk sembuh. Sementara skizofrenia merupakan gangguan mental yang melakukan kekerasan karena adanya kekacauan di otaknya. Begitu rutin minum obat, kekacauan di otak pasien akan kembali stabil dan tenang. Jadi harapan pulihnya lebih besar dan bisa diusahakan. Sebab ketika muncul tindakan menyakiti diri sendiri dan orang lain, pasien dalam keadaan tidak terkontrol hingga perlu diamankan.
Terkadang aku berpikir betapa kompleksnya otak manusia, hingga bisa membuat seseorang hilang kendali dan gairah untuk hidup akibat ketidak seimbangan zat kimia di otaknya. Dimana seretonin yang mengatur suasana hati mengalami penurunan drastis dan dopamin yang mengatur kesenangan kadarnya tidak berfungsi. Hal ini membuat neurotransmitter atau zat pengirim pesan antar syaraf perlu diseimbangkan dengan obat, agar seretonin dan dopamin bisa sampai dihantarkan ke otak dengan baik. Tentu saja faktor lain juga berperan dalam memicu depresi selain faktor biologis yaitu stresor dalam hidup, kehilangan seseorang yang dicintai, faktor genetik, trauma dan kondisi medis.