'Kita membutuhkan 4 pelukan sehari untuk bertahan hidup, 8 pelukan sehari untuk pemeliharaan, dan 12 pelukan sehari untuk pertumbuhan' - Virginia Satir
Psikiater Hargo Utoyo
Hari ini selesai menangani pasien, aku putuskan mengunjungi kafe di rumah sakit untuk bertemu seorang teman sesama terapis yang ingin konsultasi. Terlihat seorang pria paruh baya tengah melayani seorang pembeli dengan senyum ramah.
“Lagi ramai ya pak Lian? “
“Pak dokter Utoyo, iya nih lagi banyak pengunjung yang menjenguk pasien rumah sakit, kebetulan pas jam makan siang. “
Pak Lian yang dulu hidup menggelandang di jalan karena menderita skizofrenia hebefrenik, kini sudah menuju pulih dan bisa berkegiatan normal dan berkumpul dengan keluarganya lagi. Aku sengaja membangun kafe, di mana ODGJ bisa bekerja langsung dan mendapatkan insentif dari pekerjaan yang dilakukannya, hingga kafe yang kubangun sudah membuka beberapa outlet di area rumah sakit. Harapanku untuk menambah kepercayaan diri dan harga diri ODGJ sehingga pada akhirnya siap bekerja di dunia nyata. Sebagai psikiater, aku memang tak hanya berhenti pada perawatan, tapi terus memberikan pendampingan setelah pasiennya pulih. Mulai dari kemampuan sosial, kognitif, dan okupasinya dengan melakukan suatu “bridging” (jembatan) berupa latihan kerja yang dilakukan di rumah sakit agar orang dengan gangguan jiwa siap bekerja di dunia nyata. Tak lama kemudian, seorang wanita muncul dan menghampiriku.
“Hai! Bagaimana kabarmu Rina?“
“Kabar saya lagi tidak baik-baik saja, Utoyo. Sebagai terapis peluk, saat ini saya justru sangat membutuhkan pelukan, “ jawab Rina dengan mata sendu.
Aku menyimak mendengarkan curhatan teman sekolahku dulu dan menamatkan kuliahnya di fakultas psikologi, tapi kini menjalani profesi sebagai seorang terapis peluk.
“Bagaimana sakitnya bila kita tidak bisa memeluk buah hati kita sendiri, padahal kita sangat rindu ingin terus memeluknya, demi meringankan beban mental yang ia derita. Selama bertahun-tahun saya selalu menjadi orang yang siap memberikan terapi pelukan bagi jiwa-jiwa yang menderita. Namun saya tak bisa memberikan terapi pelukan itu dikala anak saya sendiri tengah menderita jiwanya, “ isak Rina akhirnya tak tahan lagi untuk menahan air matanya.
“Pasti kamu tersiksa sekali Rin, saya memahami apa yang kamu rasakan. Menangislah! Bila itu bisa melegakan sesak di dadamu oleh rasa sedih. Sebab tak selamanya tangis sedih itu buruk bagi manusia,” hiburku.
Menurutku sejatinya air mata yang keluar dari perasaan sedih, marah dan kecewa, mampu melembutkan sebuah hati yang keras. Sehingga kita akan menyadari tentang adanya perasaan yang butuh untuk dilunakkan. Salah satunya lewat isak tangis kesedihan. Selain itu dengan menangis, tubuh akan memproduksi hormon endorfin dan hormon oksitoksin. Kedua hormon ini adalah salah satu hormon pembuat bahagia, bersamaan dengan hormon serotonin dan dopamin. Hormon endorfin dan oksitoksin juga bisa mengurangi produksi hormon stres dengan memberikan efek tenang dan rileks. Itulah sebabnya, kita akan jauh lebih tenang setelah menangis
Yah, ibarat tetesan air yang terus menerpa batu karang. Bayangkan bila sebuah hati tak pernah disirami dengan air mata. Ia akan terus menjadi keras dan sulit untuk dilembutkan. Selain itu bukankah hidup ini diciptakan berpasang-pasangan? Ada suka maupun duka, ada tangis dan tawa. Sebagaimana adanya siang dan juga malam. Sebab tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kesedihan dan kebahagiaan itu sendiri. Alam pun mengajarkan betapa kebahagiaan baru muncul setelah kesedihan hadir lebih dulu. Ibarat Matahari yang merasakan artinya terang lewat sinarnya, setelah gelapnya senja datang menjelang.
Tapi satu hal yang harus kita ingat, menangis terlalu banyak akan mengubah suasana hati, karena hati juga mempengaruhi organ tubuh yang lain sehingga kesehatan bisa terganggu. Mengapa bisa terjadi? Sebab tubuh dan jiwa (hati) adalah dua hal yang saling ketergantungan. Ketergantungan ini dihubungkan oleh suatu kelenjar bernama kelenjar endokrin, yang berfungsi memompa cairan hormon ke dalam aliran darah. Hormon-hormon inilah yang mengatur fungsi-fungsi tubuh seperti pikiran, pernafasan, aliran darah, pencernaan, metabolisme dan lain-lain. Jadi bila hati kita sakit maka akan berpengaruh terhadap fisik juga. Kesimpulannya menangis boleh saja namun jangan biarkan kesedihan menggerogoti kesehatan kita. Takutnya kesedihan yang selalu diundang hadir akan menjadi candu, hingga bisa melemahkan hati.
“Terima kasih Utoyo. Tania sekarang tidak mau beberes kamar, padahal dulu anak yang suka kerapian. Selain itu sudah beberapa hari tidak mandi. Ketika diingatkan malah marah dan membanting ponselnya hingga rusak. Terakhir mengamuk-ngamuk di kamar. “
“Tania sepertinya perlu pengobatan medis karena sudah berhalusinasi dengan sering mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada, seperti yang kamu ceritakan Rin.”
“Untuk itulah saya ingin memakai jasamu Utoyo. Ya Tuhan, harusnya saya ibunya yang terus memberikannya pelukan sambil menemaninya, namun Tania selalu menolak saya, “ Rina pun terisak-isak lagi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.