Larasati
Sore sepulang dari kantor tiba-tiba Jian memelukku erat sambil mengutarakan kegembiraannya yang tak terkira.
“Sayang, proposal Koko akhirnya diterima para investor yang ingin menanamkan modal mereka!” Tentu saja aku turut senang mendengarnya.
”Baobei, belilah banyak baju yang bagus. Koko akan bantu memilihkan yang pantas kamu pakai. Kebetulan besok kita diundang investor dinner di restoran ala Cina klasik sekalian membicarakan soal bisnis. “
Memang sejak pacaran, Jianlah yang lebih sering memilihkan gaun yang cocok untukku. Misalnya bila pergi ke pesta pernikahan teman, Jian yang menentukan baju apa yang sebaiknya dan cocok aku kenakan. Aku sih menurut saja, walau kadang kurang suka dengan model baju yang selalu tertutup rapat dan panjang sampai mata kaki yang dipilihkan suamiku.
“Setelah menjadi istri, kamu harus lebih menjaga kehormatanmu, “jelas Jian bila aku mulai protes.
”Oh ya, katanya kamu mau ikut kursus, demi menambah keahlian. Koko tahu dari dulu kamu ingin sekolah salon kan?”
Betapa senangnya hatiku akhirnya bisa mengikuti kursus yang aku mau. Rasa kesalku pun hilang akibat selalu diatur soal penampilan.
“Tapi tetap saja kamu tidak boleh pergi ke kursus sendirian, Koko yang akan anter jemput atau diantar oleh sopir.”
Aku yang naif kembali diam dan tidak mengeluh seperti biasanya, sebab aku yakin Jian melakukan semua itu karena rasa cinta dan takut kehilangan diriku. Harusnya aku bangga telah dicintai dan dilindungi sedemikian rupa oleh suamiku.