Pak Lian
Sudah hampir satu bulan wanita muda yang tengah hamil ini tinggal di rumahku bersama saudara perempuanku. Kami menyayanginya seperti keluarga sendiri, mengingat dirinya yang malang tanpa tahu dimana keluarganya. Kami senang melihat binar ceria kembali terbit di wajah tirusnya yang putih, tapi tak lagi pucat seperti baru datang ke rumah ini. Walau kami hidup sederhana, namun kakakku berusaha memasakkan makanan yang bergizi untuk ibu dan anak yang ada dalam kandungannya. Hanya saja, masih terdapat perilaku yang tidak biasa yaitu sangat suka berdandan dan bisa berjam-jam di depan cermin memoles wajah. Terpenting dia sudah tidak mengamuk-ngamuk lagi dan hanya tidur seharian di kamar. Bahkan sudah mau mandi dan merawat dirinya lagi.
“Cantiknya, “ pujiku meski dandanannya terlihat agak menor.
Wanita yang belum mau menyebutkan namanya itu balas tersenyum sambil kembali mengoleskan lipstik merah menyala ke bibirnya. Setiap kami tanya nama sebenarnya, dia hanya menjawab
“Princess!”
Sebagaimana yang tertulis di nama ponsel dan status whatsapp nya.
Aku tak ingin melarang atau berkomentar apapun, sebab yang penting wajah itu telah kembali hidup dan mulai terlihat antusias. Tentu kami juga mengawasi jadwal minum obatnya agar wanita ini tetap stabil emosi dan mood nya. Sama seperti diriku yang masih terus meminum obat, mungkin seumur hidupku. Bukan mustahil untuk sembuh, tapi fokus bagi penderita gangguan jiwa seperti kami adalah bisa tetap stabil dan menjalani hidup normal seperti orang lain. Mungkin lebih tepatnya bisa pulih namun tidak bisa sembuh total hingga terus bergantung pada obat.
Kebiasaan lainnya hampir setiap hari wanita itu minta dianterin ke salon, untuk smoothinglah, benerin alis dan mempercantik kuku, juga memasang bulu mata. Padahal tanpa semua itu, dia sudah terlihat ayu dan cantiknya oriental. Lalu begitu di salon, betah berjam-jam juga dan susah membujuknya pulang, padahal semua treatmen sudah selesai dilakukan.
“Aku masih punya duit di rekeningku kok, Pak Lian. “ jawabnya.
“Nanti duitnya habis, sayangkan non, “bujukku.
Wanita itu malah diam terpaku lama, hingga akhirnya mau juga diajak pulang.
Untunglah kakakku pintar mendandani orang, karena dia pernah ikut kursus make-up. Jadilah kini kakakku setiap hari dengan senang mendandani wanita itu sekaligus mengajarinya berhias dan menyisir rambut princess. Wanita itu sangat senang dan tak lagi terobsesi untuk setiap hari ke salon, walau setiap bulan tetap ke salon dan sudah bisa pergi sendirian. Kata kakakku wanita itu merasa dirinya seorang putri yang harus selalu tampil cantik, kalau tidak nanti seorang pangeran tampan tidak mau mendekati dirinya lagi. Dia memiliki delusi takut terlihat jelek! Dan harus terlihat bak princess. Aku menyebutnya putri yang terbuang dan tengah menanti kedatangan seorang pangeran untuk menjemputnya.
Suatu pagi kakakku melihat wanita muda itu terus menatap foto di ponselnya dan bertanya,
“Itu foto ayah dan ibunya ya non? “
Wanita itu hanya mengangguk.