Jangan Pergi Lagi

Rangkay0 Hayati
Chapter #13

Investasi Cinta

Cinta menyembuhkan manusia, baik yang memberikannya maupun yang menerimanya

 (Dr. Karl Menninger)

 

    Pagi ini ia memutuskan untuk mencari udara segar di hutan mini kota hujan. Sebelum melanjutkan perjalanannya. Seperti biasa, pagi selalu hangat menyapa warga kota hujan, dengan naungan awan melankolisnya terutama saat petang. Tak terkecuali hutan mini yang kini ia kunjungi, begitu juga oleh kaum pendatang dan warga sekitar. Suara serangga-serangga hutan berdenging-denging di telinga, menyapa pengunjung dengan ucapan selamat datang. Pohon-pohon berusia ratusan tahun yang tersebar, masih setia berdiri bak penyambut tamu dalam sebuah pesta kehidupan. Beberapa helai daunnya yang mulai menguning terlihat masih betah bertengger di dahan, sebelum akhirnya takdir memutuskannya untuk luruh kebumi. Berganti dengan daun muda yang akan lahir. Sebagaimana kehidupan yang silih berganti datang dan pergi pada saat yang sudah ditentukan. Itulah takdir!

     Sekarang matanya tertuju ke sudut lain dekat danau, dimana sekumpulan anak-anak terlihat berlarian dan asyik melompati satu-persatu jalan setapak berbentuk kotak yang terbuat dari batu yang di semen. Bagi orang dewasa, ibarat mengulang kembali indahnya permainan masa kecil bermain engklek. Sedangkan para orang tua mereka mengikuti dari belakang sambil menjinjing bekal. Ia memilih duduk di atas hamparan rumput hijau sambil menikmati air pancuran yang jatuh berulang-ulang di atas danau. Seolah ingin mempertunjukkan suara merdunya di depan para pengunjung. Ditemani teratai merah, bunga tetepok dan pepohonan hijau yang memagari danau. Disinari lampu sorot matahari yang memancar lembut dan tenang, meski pagi menjelang siang hari tengah menantang garang. Daun-daun tak kalah ikut menari bergoyang-goyang, diiringi baking vokal suara angin yang berdesir-desir merdu.

       Asyik sekali rasanya berjalan-jalan atau sekedar duduk-duduk di area hutan mini ini, sambil merasakan sejuknya pemandangan. Di mana seluas mata memandang, yang terhampar hanya hijau yang menenangkan dan mendamaikan hati. Inilah surga! Oh ya, ada beberapa jembatan kecil disini, selain jembatan utama dan ternama si jembatan gantung merah yang perkasa dengan arus air yang cukup deras mengalir di bawahnya. Membawa perubahan dari masa ke masa. Ya, suka atau tidak suka, setiap hal dalam hidup ini akan terus mengalami perubahan. Hanya sebuah kenangan yang tak akan pernah berubah. Bila manis, ia akan tetap manis selamanya di hati orang yang mengenangnya. Begitu juga sebaliknya, bila kenangan itu pahit.

     Maka, berhati-hatilah dirimu dalam memperlakukan sebuah kenangan. Selagi bisa, buatlah ia semanis permen yang akan selalu ingin kau cecap rasanya dalam memori kenanganmu. Tapi bila ia memang harus pahit, terima ia dengan ikhlas di hatimu. Tak mudah, namun waktu akan membantumu memudarkan rasa pahit itu. Setelah puas duduk meriung sambil menatap danau dan pepohonan hijau, ia pun kembali berjalan melewati taman Meksiko, lalu berhenti di depan jembatan merah, si jembatan putus cinta. Tak jauh dari jembatan, ia menatap sepasang pohon yang telah berdampingan dengan mesra selama ratusan tahun lamanya. Si kenari hitam dan beringin putih lambang cinta nan abadi. Orang-orang biasa memanggil mereka si pohon cinta, pohon pengantin atau si pohon jodoh. Ia yakin, pasti telah banyak kisah cinta sejati yang sudah disaksikan dan dengar oleh si pohon cinta ini selama beratus tahun kala tegak di hutan mini ini.

 

Ibnu

 

     “Hidup ini adalah sebuah perjalanan, bukan perlombaan. Maka dari itu nikmatilah perjalananmu dalam mencari makna yang membuatmu tetap bisa terus melangkah, “ucap.  Ibnu memulai kajian kehidupan di padepokannya. Setelah hampir satu jam memberikan pencerahan, kajian pun selesai. Tiba-tiba seorang wanita datang menghadap untuk curhat padanya.

Lihat selengkapnya