Larasati
Akhirnya, Putri Cinderella menikah dengan Sang Pangeran. Namun siapa yang menduga? Kebahagiaan itu justru baru mulai diperjuangkan. Tak seperti kisah yang digambarkan selama ini, pasti berbahagia untuk selama-lamanya, tanpa berdarah-darah dan penuh air mata. Ever after dalam pernikahan, hanyalah mitos bagiku. Walau aku terus bermimpi akan mengalami pernikahan yang indah bak cerita Cinderella. Tapi perjalanan nasib yang kualami, membuatku tak ingin lagi bermimpi.
"Habis semuanya! Kita akan jatuh bangkrut tak lama lagi. Tega-teganya si Aceng melarikan uang milyaran milik perusahaan. Kemana harus mencari ganti uang sebanyak itu. Akhhhh! Teriak Jian sambil menendang dan meninju tembok rumah kami.
“Rasanya tak percaya Aceng investor yang baru bergabung melakukan penipuan. Apalagi setelah beberapa bulan butik tak kunjung berdiri, karena uangnya sudah ludes dipakai Aceng seenaknya, Huh!” Jian mengepal tangannya erat, sebelum akhirnya meninju tembok di depannya.
“Koko harus segera bertemu si Aceng untuk meminta pertanggungjawabannya, “ucapku ikut terpukul.
"Itulah masalahnya, si Aceng malah menghilang entah kemana. Habislah sudah modal, sehingga usaha terpaksa dihentikan begitu saja,” ucap Jian sambil memegang kepalanya kuat-kuat, sebelum akhirnya tertunduk lesu.
"Ya Tian!” Aku ikut ternganga mendengarnya, sebelum akhirnya menghela nafas dalam-dalam.
Tak sampai disitu cobaan yang menerpa suamiku. Begitu para investor lain mendengarnya langsung, mereka pun bereaksi penuh emosi.
"Pokoknya saya tidak mau tahu! Uang yang saya tanamkan harus segera kembali! Ucap seorang investor yang datang sambil marah-marah. Minta uangnya segera dikembalikan secepatnya.
"Anda harus bertanggungjawab! Kalau tidak saya akan lapor polisi!"
Belum selesai ancaman yang datang bertubi-tubi, para debt collector kini gantian mengejar-ngejar kami untuk menagih pembayaran yang sudah jatuh tempo. Teror demi teror yang terus datang menciutkan nyali, bukan hanya membuat Jian begitu tertekan, tapi aku juga ikut merasakannya karena masih berstatus sebagai istrinya.
"Gimana ini Ko? Aku sudah tidak kuat menghadapi para penagih hutang, “keluhku sudah tidak sanggup lagi.
"Iya Koko juga tidak tahu bagaimana lagi cara meyakinkan mereka. Ibaratnya kita sudah jatuh tertimpa tangga pula.Untuk sementara ini sebaiknya kita menghindar dulu dengan menumpang di rumah Kak Meiling."