Jangan Pergi Lagi

Rangkay0 Hayati
Chapter #15

Beribu Awan Mendung

Salim

Sudah hampir 3 tahun aku bekerja full time di kota beribu awan ini. Kota berawan putih panjang yang nyaman untuk ditinggali persis kota rindu. Jalanannya bersih dan halaman rumah penduduk lebar-lebar. Pemandangan di pinggir kota sangat indah bak lukisan dan hawanya sejuk tanpa polusi. Kelak setelah tua, aku ingin menetap di negeri ini bila permanen residenku disetujui. Untuk sementara, aku harus bekerja mengumpulkan uang agar bisa menabung dan berkelana ke berbagai negeri ketika cuti bekerja. Tak sulit bagiku mendapatkan kerja setelah selesai kuliah di sini. Namun butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan ijin tinggal beserta segala syarat administrasinya. Mumpung hari libur, kuputuskan untuk ke Browns Bay, pantai yang indah dekat dengan kota, tak jauh dari apartemenku. Duduk-duduk di bawah pohon besar sambil menikmati embusan angin pantai yang ramah, seramah pantai  Parangtritis, Jogjakarta. Sementara itu, tak jauh dari tempatku duduk, terlihat anak-anak bermain di taman kecil. Pantai ini memang cocok untuk kumpul dan liburan keluarga, apalagi bagi yang membawa anak. Pandanganku pun tak luput tertuju pada beberapa wanita yang  sedang duduk melingkar bergelar tikar sambil membuka bekal masing-masing. Namun sedari tadi aku tidak melihat ada sosok ayah di antara kumpulan keluarga di depanku. Hanya ada para ibu dan anak-anaknya saja.

 Aku jadi teringat saat teman kerjaku yang asli penduduk lokal mengatakan bahwa wanita Maori banyak yang bahagia memilih menjadi single mom. Rela membesarkan anaknya seorang diri meskipun ayah dari anak yang mereka kandung tak bersedia menikahi. Miris sekali membayangkan anak-anak itu akan tumbuh tampak sosok dan kehadiran seorang ayah. Akankah mereka mengalami fatherless? Seperti yang kurasakan karena sejak kecil sudah ditinggal untuk selama-lamanya karena kematian. Bukankah hal itu juga yang dirasakan Ibnu dan Larasati? Kami ternyata memiliki banyak kesamaan dalam hidup ini, yaitu kekurangan kasih sayang seorang ayah kandung! Aku rasa Larasati pun terpukul membayangkan bila hal itu juga terjadi pada anaknya kelak, yaitu tak mendapatkan sosok ayah kandung seperti dirinya. Tak ingin semakin larut dalam kesedihan, aku pun beranjak ke Mal Two Double Seven.

Tak terasa, hampir satu jam aku belanja dan berjalan kaki di sepanjang jalanan kota Auckland dan memutuskan untuk kembali ke apartemenku. Tentu saja, sebelumnya aku singgah dulu ke Queenstret untuk mencari penjual kebab pinggir jalan yang terkenal enak asli khas Turki. Kehangatan mulai menyergap tubuhku bergelut dengan udara dingin di sepanjang jalan kota Auckland. Begitu sampai di apartemen hal pertama yang aku lakukan adalah membuka sekantong buah yang baru saja aku beli di supermarket Two Double Seven. Salah satu supermarket terbesar di kota Auckland. Mengupas gold kiwi yang rasanya yang lebih nikmat daripada green kiwi, sebab ada bonus tambahan yaitu vitamin E dan antioksidan yang lebih tinggi untuk imunitas tubuhku yang harus bekerja dalam negeri yang cuacanya sering berganti secara tiba-tiba.

 

Larasati

Aku berulang kali menatap tes pack di tanganku yang kini bergaris dua setelah sekian lamanya. Rasa senang bercampur takut menyergapku bersamaan. Senang karena kini ada manusia baru di perutku dan akan menemani hari-hariku sejak dalam kandungan. Takut kalau Jian marah dan menolak janin yang masih berusia 4 minggu ini.

“Mumpung masih dua bulan, sebaiknya digugurkan saja bayinya, “perintah Jian dingin

Lihat selengkapnya